Generasi Terakhir Petani Jakarta

Detik X – Sudah puluhan tahun Abdul Kadir mengelola sawah di Cilincing, Jakarta Utara. Pesatnya pembangunan di Ibu Kota Jakarta tidak mampu membujuk pria 65 tahun itu beralih pekerjaan.

Kadir adalah salah satu generasi terakhir petani asli warga Jakarta. Saat ini dia menggarap lahan seluas 2 hektare peninggalan leluhurnya. “Saya sejak umur 12 tahun membantu bapak saya (Nawin bin Penyun) menggarap sawah,” kata Kadir saat ditemui detikX di rumahnya, Kampung Malaka, Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara.

Sebenarnya orang tua Kadir tidak menginginkan anaknya menjadi petani. Karena itu, Kadir disekolahkan di Sekolah Rakjat di wilayah Cakung. Namun takdir berkata lain. Saat Kadir duduk di kelas IV, bangunan sekolahnya, yang didominasi kayu, roboh dan bertahun-tahun tidak direnovasi. Sehingga murid-murid tidak bisa bersekolah, termasuk Kadir.

“Karena menganggur, bapak saya bilang, ‘Sudahlah, kamu bantu Bapak saja bertani.’ Sebab, sekolah saat itu di Cakung, Jakarta Timur, terlalu jauh dan sulit dijangkau, tidak seperti sekarang,” ujar Kadir.

Dahulu kala, ujar Kadir mengenang, lahan kakeknya sangat luas, mencapai puluhan hektare. Namun, karena ada kebutuhan, sedikit demi sedikit, lahan sawah dijual. Kini yang tersisa tinggal 3 hektare, yang dikelola Kadir.

Dari hasil bertani, Kadir mampu menghidupi istri dan lima anaknya. Bahkan anak-anaknya bisa bersekolah dan bekerja di sejumlah perusahaan. Tidak ada seorang pun anak Kadir yang mengikuti jejaknya menjadi petani. Alasannya, kalau bekerja di sawah, mereka mesti rela kotor-kotoran. Mereka pun memilih bekerja kantoran.

Kadir memaklumi pilihan anak-anaknya bekerja kantoran dan tidak menjadi petani. Sebab, penghasilan seorang petani seperti dirinya tidak menentu. Jika panen sedang bagus, ia akan mendapat untung lumayan. Tapi, jika panen gagal, utang akhirnya menjadi pilihan untuk menyambung hidup.

Soal biaya bertani, Kadir menyebut per hektare sawah setidaknya menghabiskan Rp 5 juta sekali musim. Uang tersebut digunakan untuk membeli pupuk, alat semprot, dan bibit serta membayar beberapa buruh tani, yang dibayar harian. Satu hektare sawah bisa menghasilkan 6-7 ton gabah. Uang yang didapat dari penjualan 1 ton gabah kering bisa mencapai Rp 4 juta jika dijual kepada tengkulak. “Jadi, dalam satu musim, saya bisa mendapatkan Rp 17-18 juta,” tuturnya.

Namun hasil itu hanya bisa didapatkan jika panen tidak mengalami masalah, seperti gangguan hama tikus, wereng, keong, penggerek batang, dan burung emprit. Namun hama yang paling sulit ditangani adalah burung emprit atau bondol Jawa. Burung mungil pemakan biji-bijian ini kerap memangsa padi yang sedang tumbuh.

Baik petani maupun penyuluh pertanian sampai saat ini belum memiliki solusi mengatasi serbuan burung emprit. Sebab, penggunaan orang-orangan sawah belum mampu membuat burung tersebut hengkang. “Saya pernah menggunakan petasan, tapi tetap saja tidak berhasil. Malah buang-buang uang. Jadi saya hanya pasrah sama Yang Mahakuasa,” tutur Kadir.

Meski jadi petani banyak kendala, Kadir menganggap pekerjaan itu lebih baik dibanding menganggur. Bahkan, dengan bertani, Kadir diundang ke Istana untuk menerima penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012. “Saya dikasih penghargaan karena berhasil mencetak rekor hasil panen tertinggi, yakni per hektare bisa menghasilkan 11 ton,” tutur Kadir.

Karena kesuksesannya itu, Kadir dipercaya memimpin Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kelurahan Rorotan. Gapoktan tersebut berjumlah tujuh kelompok, yang terdiri atas 270 petani dengan luas lahan yang dikelola 400 hektare. “Dari 270 petani, sebanyak 200 orang petani asli dari Jakarta. Sisanya, yang 70 orang, dari Indramayu, Bekasi, dan Subang,” kata Kadir.

Saat ini Kadir merasa cemas budaya bertani di wilayah Jakarta bakal hilang ditelan zaman. Sebab, para petani yang ada saat ini rata-rata usianya sudah uzur, yakni berusia 50 tahun ke atas. Sementara itu, generasi muda memilih bekerja di pabrik atau berdagang. Jadi petani dianggap generasi muda saat ini bukanlah pekerjaan yang menjanjikan. “Padahal, dibanding menganggur dan malak (minta-minta) sama ngamen, lebih baik bertani,” kata Kadir.

Menurut Kadir, ada dua ancaman terhadap lahan pertanian, yakni petani yang tidak ada dan lahannya hilang karena didirikan bangunan. Karena itu, ia dan teman-teman petani di wilayahnya berharap Pemprov DKI Jakarta menjadikan lahan pertanian di situ sebagai lahan sawah abadi, sehingga budaya bertani tetap langgeng. “Kadang kan petani jadi was-was juga mau nanem, nanti tiba-tiba dikeruk lahannya oleh pengembang. Jadi pada pusing, kan,” ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) Pemprov DKI Jakarta Darjamuni, saat ditemui terpisah, mengaku sudah mendengar harapan para petani Rorotan tersebut. Karena itu, pihak DKPKP membuat program membeli lahan sawah di Jakarta untuk pelestarian budaya bertani bagi generasi mendatang. “Minimal ada sawah di Jakarta dan anak-anak mengerti bagaimana padi dan lain-lain,” ujar Darjamuni.

Dengan adanya lahan pertanian, anak-anak sekolah bisa diajak menyaksikan proses penanaman padi dan saat proses panennya. Saat ini lahan sawah abadi milik Pemprov DKI seluas 5 hektare. Darjamuni berharap jumlah lahan bisa bertambah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *