Korban Tsunami, Indrawati: “Ketujuh Anak Saya Masih Mengenang Pak Surya”

Tiga hari sudah Indrawati bersama tujuh anaknya berada di tempat penampungan korban bencana. Selama itu pula Indri -sapaan Indrawati- menunggu kabar suaminya yang terbawa arus tsunami. Suasana batin Indri berkecamuk antara kepastian kabar suaminya dan keberlanjutan kehidupan selanjutnya.

Pagi itu 26 Desember 2004 terjadi goncangan dahsyat dari dasar laut, tidak lama setelah itu air laut meluap masuk ke pemukiman. Semua warga di situ keluar rumah mencari perlindungan. Indri bersama suami dan tujuh anaknya menuju masjid Baiturachim bersama sejumlah warga. Lokasinya cukup jauh dari luapan air laut. Setelah Indri dan tujuh anaknya berada di masjid, suami Indri kembali ke rumahnya untuk mengambil bekal.

“Tidak lama setelah suami saya balik ke rumah tiba-tiba air setinggi kira-kira 10 meter menerjang pemukiman. Sejak itu suami saya tidak kembali, dan sampai sekarang jasadnya tidak ditemukan,” cerita Indri.

Di tengah ketidakpastian di lokasi pengungsian Indri berjumpa dengan Surya Paloh yang mendatangi lokasi penampungan korban bencana tsumani Aceh untuk melihat keadaan para korban dan memberikan bantuan. Saat itu Indri tidak mengenal sosok Surya Paloh. Indri hanya tahu bahwa Surya Paloh adalah orang Aceh.

Dikelilingi tujuh anaknya, yang paling besar berusia 15 tahun dan yang paling kecil berusia 2 bulan, saat itu, Indri dihampiri oleh Surya Paloh. Sambil menyapa ketujuh anak Indri, Surya Paloh meggendong Yusuf, anak ke lima Indri.

“Ibu berasal dari daerah mana? ini semua anak Ibu? suami ibu dimana?” tanya Surya Paloh.

“Iya, ini semua anak saya dan suami saya terbawa arus. Saya asli Surabaya, Jawa Timur, Pak,” jawab Indri.

Lalu Surya Paloh bertanya kepada Indri. “Apa Ibu ingin tetap tinggal disini, atau kembali ke Surabaya? Kalau mau tetap tinggal disini nanti kami bangunkan rumah untuk Ibu, kalau mau pulang ke Surabaya nanti kami pulangkan Ibu dan anak-anak ke Surabaya.”

“Saya mau pulang ke Surabaya saja, Pak di sini saya sudah tidak punya siapa-siapa dan tidak punya apa-apa, semuanya sudah terbawa arus,” jawab Indri.

Indri tinggal di Aceh mengikuti suaminya, Sultan Dzaniar, seorang dosen di Universitas Syiah Kuala. Sebelumnya, Indri tinggal di Surabaya. Ia memang tumbuh dan besar di Surabaya. Setelah semuanya terbawa arus, Indri hanya ingin pulang ke Surabaya.

Hari yang di nantikan tiba. Indri bersama tujuh anaknya akan berlayar ke Surabaya. Dari rombongan yang akan kembali ke daerahnya masing-masing hanya Indri yang bertujuan ke Surabaya, Jawa Timur. Saat itu Surya Paloh memberi bekal uang kepada masing-masing korban bencana yang akan pulang ke daerahnya.

“Waktu itu, semua yang kembali ke daerah diberi uang oleh Pak Surya. Katanya untuk bekal hidup nanti di daerah. Saya kaget setelah menghitung uang yang diberikan Pak Surya. Uang lima puluh ribuan sejumlah 200 juta. Tapi saya tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada beliau,” kenang Indri.

Setibanya di Surabaya Indri berkumpul bersama kerabatnya. Ada hal yang mengganjal di dalam pikiran Indri: menyampaikan terima kasih kepada Surya Paloh. Tapi ia tidak tahu bagaimana bisa bertemu dengan Surya Paloh.

Pada tahun 2012, Yusuf yang dulu digendong Surya Paloh di lokasi pengungsian, sedang menonton televisi. Tanpa sengaja ia memindah chanel ke Metro TV yang sedang menayangkan Surya Paloh saat berpidato. Kontan saja Yusuf yang masih mengenang wajah Surya Paloh berteriak memanggil mamanya, Indri.

“Ma, Mama… lihat, Ma… orang yang brewokan itu kan yang dulu menolong kita,” kata Yusuf kepada mamanya.

Ke tujuh anak Indri masih mengenang Surya Paloh, dan Yusuf yang paling mengenang Surya Paloh.

“Sejak itu setiap ada tayangan Pak Surya di TV, Yusuf selalu ada di depan televisi. Mungkin karena dulu ia digendong Pak Surya jadi ia yang paling mengenang Beliau. Semua anak saya masih mengenang Beliau, ” cerita Indri.

Tiga hari setelah lebaran tahun 2016 akhirnya Indri bisa bertemu Surya Paloh. “Saya langsung nangis saat ketemu Beliau, sampai-sampai Pak Surya itu bingung melihat saya terus menangis. Sambil nangis saya bilang ke Beliau bahwa saya ke sini untuk menyampaikan terima kasih kepada Bapak karena sudah menolong saya bersama anak-anak. Mungkin Bapak lupa dengan saya, tapi saya tidak akan mungkin lupa.”

“Iya, Ibu saya ingat. Bagaimana kabar anak-anak sekarang,” cerita Indri menirukan Surya Paloh.

Tidak mudah bagi Indri untuk bisa bertemu Surya Paloh. Bertahun-tahun ia mencoba menemui Surya Paloh, bahkan berbulan-bulan ia harus bolak-balik ke Gondangdia, tempat Surya Paloh berkantor. Tapi selalu saja dibilang Surya Paloh sedang tidak ada di tempat.

Indri hampir putus asa. Ia pun terus berkirim surat kepada Surya Paloh untuk bisa ketemu. “Saya terus berkirim surat. Surat-surat yang saya kirim ke Beliau semua saya tulis tangan, saya sertakan semua foto dan dokumen saya sewaktu di Aceh,” katanya.

Satu kalimat dari Surya Paloh yang diingat Indri sebelum meninggalkan Aceh: “Didiklah anak-anakmu dengan baik supaya kelak mereka menjadi orang-orang baik.”

Setelah pertemuan itu ada satu hal lagi yang mengganjal di dalam pikiran Indri. Kalimat Surya Paloh kepada Indri. “Saya ingin nanti kamu kembali lagi ke sini tidak untuk berterima kasih, tapi untuk meminta rekomendasi maju sebagai calon bupati. (Zul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *