Nyadran Itu Dakwah Islam Secara Kultural

Berandakota.com, Sidoarjo – Nyadran merupakan dakwah Islam secara kultural. Budaya Nyadran ada sejak zaman Hindu sebelum Islam masuk ke Nusantara. Kemudian saat Islam masuk ke Nusantara ia dibalut dengan nilai-nilai Islami.

“Sebelum Islam masuk sini, sesungguhnya Nyadran ini sudah ada sejak zaman Hindu Budha atau Zaman Mojopahit, hal itu kan di sampaikan di Kitab Mpu Prapanca, akan tetapi dengan Nyadran ini, sesungguhnya cara dakwah masuk kultul dengan nilai Islam.”

Itu disampaikan DR. H. Hartoyo M.Si dalam acara bedah buku “Nyadran” di Institus Agama Islam Al Khoziny Sidoarjo, Minggu, 22 April 2018. Buku ini merupakan hasil disertasi Hartoyo.

Hadir sebagai pembicara dosen filsafat Universitas Airlangga Dr. Listiono Santoso S.s M.Hum, dan Dr. Bahrul Amiq. S.sos MM.

Dr Listiyono Santoso S.s. M.Hum menyampaikan bahwa tradisi yang ada di Jawa ini sangat luar biasa seperti halnya Nyadran yang ada di Bluru Kidul. Nyadran ini adalah peristiwa kultural dengan dimensi spiriritualitas.

“Tradisi Nyadran ini sangat luar biasa. Karena budaya di balut dengan nilai-nilai agama, tanpa merusak kultur. Kalau Nyadran ini di bilang Syirik, di sana kan juga berdoa, Tahlil dan Lain lain, apanya yang syirik, syirik itu di hati,” jelas Listiono.

Sementara Bahrul Amiq, pengamat budaya dari Sidoarjo ini menyampaikan bahwa Nyadran ini dapat memberikan kekuatan baru yang ada di Bluru Kidul. Ia akan memberikan sebuah pundi-pundi wisata bagi masyarakat.

“Kita akan menjadi budaya besar bila kita kembali pada budaya. Karena itu kearifan lokal ini harus di lestarikan. Sesungguhnya kearifan lokal ini di desain sangat baik untuk menjadi ikon dan wisata di Delta ini,” kata kepala Dishub Sidoarjo ini. luc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *