Nasir Ganggai: Konflik Upai–Poopo Tak Boleh Diwariskan ke Generasi Berikutnya

0 7

Berandakota Kotamobagu— Aktivis masyarakat, Nasir Ganggai, mengajak seluruh warga Desa Upai dan Desa Poopo untuk menghentikan berbagai bentuk provokasi yang berpotensi memperkeruh suasana di tengah masyarakat.

Nasir menegaskan, persoalan yang terjadi antara kedua kampung tersebut tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi konflik berkepanjangan, terlebih sampai diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menurutnya, penyelesaian persoalan bukan dengan mencari siapa yang paling bersalah, melainkan mencari jalan keluar agar persoalan tidak semakin meluas.

“Keselamatan seluruh warga harus menjadi prioritas utama,” ujar Nasir.

Ia menilai, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghentikan segala bentuk provokasi, tindakan kekerasan maupun niat balas dendam. Menurutnya, penyelesaian persoalan harus dilakukan secara terukur, adil dan bermartabat.

Nasir juga mendorong pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pemuda serta aparat keamanan untuk duduk bersama dalam forum yang aman dan terbuka.

Menurutnya, setiap pihak harus diberikan ruang untuk menyampaikan fakta, persoalan, serta harapan masing-masing tanpa adanya tekanan.

“Kita harus membedakan pelaku persoalan dengan masyarakat secara keseluruhan,” katanya.

Nasir mengingatkan agar persoalan yang melibatkan individu tidak kemudian berkembang menjadi permusuhan kolektif antarmasyarakat.

“Jangan sampai kesalahan individu berubah menjadi permusuhan kolektif. Jangan pula nama desa dijadikan alasan untuk saling membenci,” tegasnya.

Setelah situasi mereda, Nasir meminta agar dibangun kesepakatan bersama untuk menghentikan provokasi, menjaga keamanan lingkungan, menyelesaikan aspek hukum melalui jalur resmi, serta mengembalikan komunikasi dan kepercayaan antarwarga.

Ia secara khusus mengajak kalangan pemuda mengambil peran penting dalam menciptakan perdamaian.

“Energi pemuda seharusnya digunakan untuk membangun kampung, mengembangkan ekonomi, pendidikan, olahraga dan kebudayaan, bukan saling berhadapan,” ujarnya.

Nasir berharap perbedaan kampung, kelompok maupun pandangan tidak sampai memisahkan hubungan sosial masyarakat. Ia menekankan pentingnya menjaga persaudaraan dan rasa kebersamaan di tengah persoalan yang sedang dihadapi.

“Damai bukan berarti tanpa masalah. Damai adalah kemampuan menyelesaikan masalah tanpa menciptakan masalah baru,” pungkasnya. ***

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.