Semiotika Korona Kini dan Nanti

0 327

BERANDAKOTA—Sudah tidak asing di telinga masyarakat dunia bahwa Cina tercatat sebagai negara yang pertama kali melaporkan kasus Covid-19 di dunia.

Sedangkan Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasusnya pada dua Maret lalu. Saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus korona. Orang-orang kemudian mulai waspada. Mereka mulai bertanya-tanya seperti apa virus ini, apa saja gejalanya, dan bagaimana mengatasinya. Dari kasus pertama ini, kepanikan nasional pun dimulai.

Kepanikan masyarakat ini kemudian dijawab oleh ilmuan dan menjadi drama kolektif baru yang mengubah tatanan masyarakat yang sudah mapan dan berurat-akar–jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, lock down, karantina wilayah, dan lain-lain.

Tapi seiring berjalannya waktu, definisi yang diberikan ilmuan terhadap virus ini dan konsekuesi normatifnya tidak lagi mempunyai efek yang sama seperti awal ia ditetapkan. Orang-orang mulai tampak tidak takut. Paparan berita nasional maupun lokal mengenai jumlah kasus harian seolah menjelma bak berita selebriti. Bagaimana ini bisa dijelaskan? Apakah virus ini berubah, atau maknanya yang berubah?

Dalam tulisan ini, saya akan membahas virus SARS-COV2 atau korona lewat kerangka semiotik, khususnya semiotik pragmatis Charles Sanders Peirce. Namun sebelum membahasnya lebih jauh, mari kita pahami dulu apa dan bagaimana teori semiotika.

Teori Semiotika

Ada dua sudut pandang terkait fakta dalam ilmu pengetahuan. Fakta adalah sesuatu yang tertangkap oleh pancaindra kita. Bagi ilmu pengetahuan alam, fakta seperti itu adalah segala-galanya. Namun bagi ilmu pengetahuan sosial-budaya, fakta tidak hanya terbatas pada fakta empirik. Sebab di balik fakta, ada sesatu yang lain–pikiran, emosi, dan keinginan. Semiotik termasuk golongan yang kedua ini.

Semiotik adalah ilmu tentang tanda. Dan tanda adalah segala hal baik fisik maupun mental, baik di dunia maupun di jagat raya. Semua jenis tanda itu dalam kerangka semiotik tidak melulu tanda, namun juga makna. Jadi, “tanda adalah tanda sejauh ia bermakna pada manusia”. Seperti yang ditulis Danesi dan Paron, manusia adalah makhluk yang selalu mencari makna dari berbagai hal (tanda) yang ada di sekitarnya. Oleh sebab itu, manusia disebut sebagai homo signans.

Sampai di sini, terlihat bahwa teori semiotik mencakup tiga aspek yang saling bertaut, “tanda, makna, dan manusia”. Namun, jika ia dibicarakan dalam skema teoritik yang lebih luas, kita akan menemukan perbedaan, sehingga secara umum teori tentang tanda, makna, dan manusia melahirkan tiga aliran besar dalam kajian semiotik–struktural, pragmatis, dan gabungan keduanya.

Untuk menjelaskan perubahan makna, kesan, dan pikiran masyarakat atas fenomena Covid-19, di sini saya memilih pendekatan pragmatis. Ini bukan berarti pendekatan pragmatis lebih baik ketimbang yang lain, namun karena, pertama, karakter pendekatan ini lebih dekat dengan fakta konkret-individual, dimana tanda dan pemaknaanya selalu dimulai dengan kesan pancaindra, atau apa yang disebut Peirce sebagai representamen. Kedua, pendekatan pragmatis berbeda dengan pendekatan struktural di mana pendekatan ini selalu bergerak dan berhulu pada relasi antar tanda, dualitas signifiant-signifie, dan makna sosial dalam bahasa. Jadi dalam pendekatan strukturalis, kita memahami makna hanya jika setiap tanda dipahami secara asosiatif antartanda. Itulah alasan mengapa pendekatan ini disebut struktural, dan bukan individual.

Covid-19 dalam Proses Semiosis Tanda

Salah satu tokoh pemikir Semiotik pragmatis adalah Charles Sanders Peirce. Bagi Peirce tanda dan pemaknaanya bukanlah struktur, melainkan proses kognisi yang disebut semiosis. Jadi, semiosis adalah proses pemaknaan dan penafsiran tanda. Proses semiosis ini berlangsung dalam tiga tahap.

Pada tahap pertama, manusia melakukan pencerapan, atau disebut representamen tanda (kesan pancaindra). Tahap kedua mengaitkan secara spontan representamen dengan pengalaman dalam kognisi manusia yang memaknai representamen. Proses itu disebut object. Tahap ketiga adalah tahap menafsirkan object menurut keinginan masing-masing orang, dan ini disebut sebagai interpretant.

Singkatnya, semiosis adalah proses pembentukan tanda yang bertolak dari representamen yang secara spontan berkaitan dengan object dalam kognisi manusia yang kemudian diberi penafsiran tertentu oleh manusia yang bersangkutan sebagai interpretant. Proses ini terus berlanjut melalui interpretant yang dapat menjadi representamen baru. Dengan demikian, semiosis dapat terus berlanjut tanpa akhir. Peirce menyebutnya “unlimited semiosis“.

Bagaimana proses semiosis ini menerangkan perubahan makna Covid-19?

Sebelum menjelaskannya lebih lanjut, ada baiknya kita memulainya dengan definisi Covid-19 dari WHO. Menurut situs WHO, virus corona adalah keluarga besar virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Pada manusia corona diketahui menyebabkan infeksi pernafasan, mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrme (SARS). Virus corona paling terbaru yang ditemukan adalah virus corona COVID-19. Virus ini termasuk penyakit menular dan baru ditemukan di Wuhan, Cina pada Desember 2019 yang kemudian menjadi wabah.

Dalam proses semiosis Peirce, ada yang disebut kategori symbol, yakni tanda yang menunjukkan hubungan antara representamen dan object-nya berdasarkan konvensi sosial. Mengingat bahwa saat ini Covid-19 sudah disepakati di masyarakat sebagai virus berbahaya, maka katakanlah Covid-19 adalah representamen di antara banyak representamen lain seperti penyakit jantung, tipes, demam berdarah dan lain-lain. Ketika pemerintah atau dokter menyebut Covid-19, maka itu adalah representamen yang makna sosialnya adalah “Bahaya. harus jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan” (object).

Bagaimana perubahan representamen, yakni Covid-19 di tangan interpretant?

Seperti yang disinggung di atas, bahwa wajah Covid-19 tidak lagi semenakutkan seperti pertama ia muncul. Sekarang orang-orang mulai tidak menghiraukan bersamaan dengan pengetahuan yang berkembang soal virus ini. Namun perkembangan tersebut tidak menunjukkan bahwa kita sudah menang. Apa yang berubah dari virus ini hanyalah representamen berikut maknanya atau object–akibat tahap interpretant yang terus berlangsung dan terbuka. Artinya, orang-orang dengan sendirinya akan menafsirkan Covid-19 menurut keinginannya sendiri. Bahkan mungkin orang-orang akan sampai pada tahap dimana tidak lagi memercayainya.

Ketika anda saat ini membaca berita lokal maupun nasional mengenai pertambahan kasus positif Covid-19, object-nya (makna) bukan lagi, ‘bahaya, aku harus pakai masker jika keluar rumah; jangan dulu bertemu pacar,’ tapi, ‘ini kesempatan bagus kalau jualan masker; semua orang pasti mati; konspirasi; atau semua penyakit datang dari tuhan’. Dari penafsiran manasuka inilah yang memungkinkan orang-orang melanggar protokol kesehatan.

Mengingat bahwa penafsiran ini terus berlangsung dan berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia, apakah lantas secara etis kita butuh otoritas politik untuk membuat tafsir tunggal dan menghukum mereka yang mengabaikannya? Ini mungkin bisa dibenarkan sejauh penafisiran bebas atas Covid-19 direalisasikan menjadi tindakan fisik. Dan tindakan di bawah rezim koronaisme ini tidak lagi bersifat individual, melainkan telah menjadi tindakan kolektif. Kecerobohan seorang individu adalah ancaman bagi keselamatan yang lain. Oleh sebab itu, anda boleh saja menganggap Covid-19 tidak berbahaya, hanya konspirasi, ujian dari tuhan dan lain-lain. Namun, itu hanya dibenarkan sejauh hanya kepercayaan berdasarkan makna yang anda ciptakan, bukan ditindaki secara fisik.

Munculnya Covid-19 adalah bencana kolektif yang memusingkan para etikawan saat ini. Sebab, korona meligitimasi otoritas politik untuk mengambil sebagian kebebasan orang-orang atas nama keselamatan bersama. Sementara itu, beberapa kelompok menyebutnya antek kapitalis global; konspirasi jahat orang Barat kafir. Belum lagi ancaman ekonomi yang mengikutinya yang–kalau tidak diatasi–bisa menambah kirisis kemanusiaan yang berkepanjangan.

Akhirnya, masalah yang mencuat dari pembacaan semiotik atas korona membuat kita paham bahwa makhluk ini bukan ideologi, agama, ataupun negara. Anda tidak hanya bisa menafsirkan Pancasila sebagai tanda menurut keinginan anda sendiri, anda bahkan dapat mengubah setiap silanya jika punya kekuatan sosial. Tapi korona? Mustahil. Korona sebagai tanda punya referensi aktual di dalam dunia alamiah. Ketika makna sosialnya (object) berkembang, ia masih tetap sama. Bahkan new normal seakan memberi signal bahwa konotasi virus ini tidak lagi sama, sampai itu terbukti salah ketika kasus positif harian tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan kasus.

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan