Bahaya Laten Berpikir Hitam-Putih

0 306

BERANDAKOTA—“Konon datang nabi baru di abad-21 ini, yakni manusia yang mengaku terpilih lengkap dengan kitab suci. Alasan ia diutus demi meluruskan sekelompok manusia sesat karena tenggelam dalam teknologi ketimbang agama. 

Nabi ini kemudian menyiarkan ajaran barunya di tengah perkembangan teknologi yang pesat. Menggunakan handphone lebih dari dua jam adalah dosa; film kartun telanjang harus disensor; jangan nonton film bajakan; jangan berdoa di medsos, dan lain-lain.

Namun, sama seperti nabi-nabi dalam sejarah, ia pertama-tama berhadapan dengan keadaan yang pahit–penolakan, diragukan, diolok-olok, bahkan dikatakan sesat. Dan tak berbilang tahun, ajaran baru ini pun berkembang pesat dan pengikutnya ada di mana-mana. Yang tak sepaham atau yang ingkar atas ajaran tersebut sesat, masih setengah manusia, masuk neraka, dan lain-lain. Pokoknya kami bukan mereka.”

Ilustrasi di atas menggambarkan bagaimana pemikiran hitam-putih atau black and white thinking lahir dan bekerja. Pemikiran jenis ini melihat segala sesuatu dalam kategori yang reduksionis, A atau B, hidup atau mati, baik-jahat, anda harus seorang republikan atau demokrat, dan seterusnya. Tidak ada jalan tengah. Tapi apa sesungguhnya akar dari pemikiran hitam putih ini?

Akar Filosofis 

Dari sisi filosofis, kita bisa mengevaluasi jenis pemikiran tersebut perihal manusia dan dunia dengan beberapa pertanyaan runut: apa itu dunia? Apa itu manusia? Seperti apa manusia dan dunia yang benar itu?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu hendak dijawab dengan doktrin dari ajaran atau aliran filosofis yang ketat dan otoriter (dalam artian sangat hitam putih), maka ia akan membuat pengikutnya berpikir dalam cara yang sama. Untung-untung kalau ajaran yang dianut seseorang terbuka dan mengajarkan moral yang menghormati semua orang, tapi jika tidak, maka tidak hanya reduksi pengetahuan dunia dan manusia yang terjadi, namun juga konflik sosial dalam bentuk pemaksaan dan intoleransi. Selain kami adalah salah, jahat, rendah, dan kafir.

Jadi, mengklasifikasikan apa pun – konsep, orang, ide, dll–ke dalam dua kelompok yang sepenuhnya berlawanan daripada melihat jalan tengah, disebut ‘Pemikiran Hitam Putih’. Ini adalah kesalahan logika yang sangat umum yang sering kita buat. Dan segala doktrin atau pandangan dunia yang mempunyai karakter demikian akan berbahaya dalam hubungannya dengan kehidupan dan dunia bersama. Oleh sebab itu, reduksi pemikiran seperti ini tidak hanya salah secara filosofis (bahwa dunia ini hanya A atau B), tapi juga berpotensi merangkap hingga ke pelanggaran moral.

Manusia memang punya kapasitas dan kebutuhan untuk mengkategorikan segala sesuatu. Dunia tempat ia tinggal mesti dikategorikan atau diberi nama karena–selain kebutuhan komunikasi–itu juga adalah kebutuhan pengetahuan. Artinya, segala yang dikategorikan, dikonsepkan, atau yang diberi nama tidak lain adalah kebutuhan berbahasa kita. Tapi apakah itu harus dikotomis, atau hitam putih? Tidak. Terlalu miskin akal kita jika kita hanya memiliki cara pandang seperti itu. Tidak hanya miskin, kita bahkan merendahkan diri kita sebagai manusia yang punya kapasitas berpikir melampaui makhluk lain.

Contoh yang paling mencolok adalah apa yang dilawan dan ditolak oleh salah satu ormas Islam di Indonesia: Umat Islam dan bahaya laten Komunisme (=) Liberal. Bayangkan komunisme dan liberalisme disamakan. Ini tidak hanya soal berpikir hitam-putih, ini juga soal ketidaktahuan yang fatal. Dan sialnya, mereka mendaku mewakili seluruh umat Islam.

Terjebak dalam pemikiran hitam putih seperti itu, membuat kita telah secara keliru menganggap seluruh spektrum kemungkinan menjadi dua pilihan yang paling ekstrim. Masing-masing adalah kebalikan dari yang lain tanpa ada nuansa abu-abu di antaranya. Seringkali, kategori itu adalah ciptaan kita sendiri. Kita mencoba memaksa dunia untuk menyesuaikan diri dengan prakonsepsi kita tentang seperti apa seharusnya. Dan Ini bisa jadi sebentuk antirealisme radikal nonfilosofis yang cenderung dipakai banyak orang.

Jadi, apa yang kita sebut realitas, sejatinya adalah mode menjadi (becoming), atau selalu berubah-ubah. Artinya, realitas tidak hanya berisi wilayah hitam putih. Selalu ada wilayah abu-abu di situ.

Dalam tataran psikologis, ini bahkan bisa menjadi akar rasa sakit. Anda berharap orang-orang disekitar anda menjadi seperti apa yang anda harapkan, dan ketika harapan itu tidak ada yang terjadi atau hanya sebagian yang terjadi, maka anda langsung membenci bahwa selain anda adalah salah.

Contoh lain misalnya anda ingin menunjukkan kelebihan dan skill anda kepada seorang bos di suatu perusahaan. Ketika bos itu bilang anda belum 100% berhasil (katakanlah baru 85%), anda langsung menyimpulkan bahwa anda tidak layak bekerja di kantor itu. Anda tidak mampu. Dan derita pun dimulai.

Berpikir Abu-abu

Anak-anak biasanya suka menyiksa orang tua dan guru mereka dengan pertanyaan mengapa tanpa henti. Rantai pertanyaan ini bisa tidak ada habisnya–mengapa anjing itu kepanasan dan terengah-engah? Sebab dia memiliki bulu. Kenapa dia punya bulu? Untuk membuatnya tetap hangat. Mengapa saya tidak punya bulu? OK, cukup.

Setiap orang tua mungkin pernah mengalami hal ini. Dan itu memang agak mengganggu. Namun sebagai gejala awal atas pandangan anak terhadap dunia, itu mesti dieksplorasi. Sebab, pandangan mereka belum ditata, atau belum tertata.

Seiring bertambahnya usia, kita mulai menjadi kaku. Kita dipaksa untuk mengikuti tes dengan jawaban pasti–A, B, C, atau D? Seberapa baik kita memilih hal ini, dapat menentukan sampai taraf tertentu posisi kita dalam hidup. Dan sistem ini kemudian didokumentasikan dengan baik sehingga kita terus mengulanginya.

Gejala utama dari gaya pemahaman seperti ini jika dikombinasikan dengan kecenderungan alami kita untuk mendapatkan jawaban yang mudah dicerna, maka kita mulai berpikir dalam kategori yang kaku: Perang itu baik-Perang itu buruk; Kapitalisme itu bagus-Kapitalisme itu buruk; Jokowi itu orang baik-Jokowi itu orang tidak baik; Amerika adalah Sosialis-Amerika adalah Sistem Pasar Bebas. Begitu seterusnya.

Kebenaran mendasar ini mudah dipahami dalam teori tapi sulit dalam praktik setiap hari. Dibutuhkan semacam pemrograman ulang yang substansial untuk menyadari bahwa hidup itu serba abu-abu, bahwa semua realitas terletak pada satu kontinum.

Masalah ini bisa kita lihat misalnya dalam perdebatan antara ekonomi berbasis Matematika (ekonometrik) dan ekonomi praksiologi. Para penganut ekonometrik percaya bahwa setiap tindakan ekonomi bisa dirumuskan dalam kerangka matematis sebagaimana ilmu alam. Sedang penganut ekonomi praksiologi percaya bahwa pilihan atau tindakan ekonomi tidak bisa dirumuskan dalam persamaan matematis sebab tidak mungkin mengisolasi setiap variabel tindakan manusia yang berubah-ubah ke dalam satu rumus yang tetap. Artinya, penganut ekonomi praksiologi sadar bahwa realitas manusia tidaklah sehitam putih pola matematis, melainkan selalu abu-abu.

Dengan demikian, kesadaran bawah realitas senantiasa abu-abu, netral, atau serba mungkin, membuat kita lebih fleksibel dan reflektif dalam hidup, alih-alih reaksioner. Ini penting demi kesadaran dan kebijaksanaan. Sikap reaksioner cenderung membuat kita sakit, sebab kita berkubang dalam dualisme ideal hitam putih yang kita bangun begitu megah di atas awan dan lupa bahwa kita bisa jatuh ke bumi dan hancur lebur.

(Visited 7 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan