Gracias el Mago

0 293

BERANDAKOTA– Perasaan gamang, gelisah dan gundah gulana menghinggapi para suporter Manchester City di musim 2009/2010. Kala itu optimisme yang muncul karena investasi gila-gilaan Thaksin Shinawatra kemudian dilanjutkan oleh sheikh Mansour yang royal dalam aktivitas belanja pemain empat tahun terakhir, perlahan diusik oleh ragu yang kerap muncul saat menyaksikan tim biru langit berlaga di lapangan hijau.

Deretan pemain berlabel bintang yang didatangkan City tampil melempem dan seperti kehilangan konektivitas ketika membangun serangan maupun saat bertahan. Benar saja, hingga musim berakhir City masih saja gagal meraih satu gelar pun, baik mayor maupun minor. Image klub semenjana terus melekat pada Manchester City, sebagai tim papan tengah EPL maupun sebagai tim pelengkap kota Manchester yang merah berapi-api.

Memasuki musim 2010/2011 liga Inggris kembali digelar. Kali ini City tampil dengan beberapa muka baru yang menghiasi skuad mereka. Pertandingan pertama City dimusim itu dimulai dengan hasil seri tanpa gol melawan Tottenham Hotspur. City terus berupaya memburu kemenangan pertama, hingga pada bulan Oktober 2010 mereka bertandang ke kendang Blackpool, di Bloomfield road.

“Blue moon you saw me standing alone
Without a dream in my heart
Without a love of my own
Blue moon, you knew just what I was there for
You heard me saying a prayer for”

Sayup-sayup lirik blue moon menyeruak dari bangku suporter Manchester City. Saat pertandingan memasuki menit ke 90, Manchester City mendapatkan sebuah tendangan bebas di sisi kiri pertahanan Blackpool. James Milner dengan cepat mengirimkan umpan pendek kepada pemain bernomor punggung 21 yang baru saja didatangkan oleh Roberto Mancini.

Pria kurus itu kemudian menggiring bola merangsek masuk ke area kotak penalti lawan. dengan tenang ia melakukan gerakan seolah akan menendang bola, namun bak balerina, ia tiba-tiba mengubah arah dan mengecoh dua pemain belakang yang datang berturut-turut untuk menutup jalur tembak. Gerakan indah itu disusul sebuah tendangan kaki kiri melengkung melewati seorang lagi pemain belakang Blackpool dan penjaga gawang Matt Gliks yang mematung seperti terkena mantra Immobilus;  Masuk!. Gol ini mejadi awal manis perjalanan City mengarungi Liga Inggris di tahun tersebut, mereka memang gagal menjadi juara liga, namun tropi Piala FA berhasil menghiasi lemari kaca Manchester City.

Gol yang terjadi sepuluh tahun lalu itu menjadi gol perdana sekaligus penanda bahwa telah lahir calon legenda baru bagi The Citizen pada sosok David Josue Jimenez Silva. Silva dijuluki el Mago (Penyihir) bukan tanpa alasan. 13 trophy, 434 penampilan, 140 Assist dan 77 Gol merupakan statistik Silva selama membela City di berbagai ajang. Bersama Yaya Toure, Vincent Kompany dan Edin Dzeko ia mempersembahkan gelar Piala FA di musim pertama, dan menuntaskan puasa gelar City selama 44 tahun ketika menjuarai Premier League pada tahun ke-duanya di Etihad Stadium.

Silva yang awalnya merupakan seorang winger, diubah oleh Roberto Mancini menjadi seorang fantastista di belakang Tevez maupun Aguero. Ia memang bukan pelari tercepat di premier league, namun ia adalah seorang pemikir cepat yang mampu mengatur tempo permainan City. Lewat sentuhan magis kaki kirinya, aliran bola Manchester City menjadi lebih variatif. Visi bermain, umpan akurat dan penguasaan bola yang paripurna adalah senjatanya.

Pelatih City saat ini, Pep Guardiola menyebut Silva sebagai ruh permainan City. “Ia adalah pembeda ketika kami mulai memainkan sepakbola menyerang, ia ruh permainan kami” Kata Pep kala itu.

Silva bukanlah tipikal pesepakbola yang mengagungkan popularitas atau drama dalam sepakbola. Ia hanya seorang pria dari Arguineguin, sebuah desa nelayan di pesisir pantai Gran Canaria, yang sejak kecil tertutup dan bahagia dengan anonimitas disaat pesepakbola lainnya mabuk akan sensasi pemberitaan media dan panggung hiburan.

Kini, setelah sepuluh tahun berkarir di Manchester City, Ia memutuskan berpisah dengan klub yang ia bela dengan penuh dedikasi. Ia pergi dengan senyum lebar dan kepala yang tegak, karena City bukan lagi The Noisy Neighbour atau Tetangga berisik yang minim prestasi seperti yang dikatakan Sir Alex Ferguson. City kini berubah menjadi tim yang berada di level kompetitif di EPL dengan deretan rekor yang membanggakan baik bagi pemain maupun bagi para supporter. Dan David Silva adalah pondasi sejarah kejayaan Manchester City di era sepakbola modern. Gracias el Mago ! (SAH).

(Visited 17 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan