Filsafat, Musik, dan Bunuh Diri

0 357

BERANDAKOTA-Musik adalah yang paling indah, sekaligus yang paling hidup dari semua seni,” tulis Susan Sontag. Satu abad sebelumnya, Friedrich Nietzsche mengatakan: “Tanpa musik, hidup akan menjadi sebuah kesalahan.”

Namun, apa maksud dari para pemikir di atas mengatakan demikian? apa sebenarnya hakikat dari musik? Bagaimana musik bisa meresap pada setiap batin manusia bahkan memengaruhinya?

Mungkin akan ada banyak sekali jawaban perihal apa dan bagaimana musik dan hubungannya dengan manusia. Anda sendiri tentunya, meski bukan musisi, punya perspektif tentang bagaiamana musik memberi suasana tersendiri secara emosional.

Arthur Schopenhauer merenungkan masalah ini dalam karyanya, The World as Will and Representation:

“Musik… berdiri terpisah dari semua [seni lain]. Di dalamnya kita tidak mengenali tiruan atau pengulangan dari setiap Ide tentang dunia. Namun musik adalah seni yang sangat hebat dan luar biasa. Pengaruhnya terhadap sifat terdalam manusia begitu kuat, dan itu dipahami sepenuhnya dalam dirinya yang terdalam sebagai bahasa universal, bahkan melampaui dunia manusia. Di dalamnya kita tentu harus exercitium arithmeticae occultum nescientis se numerare animi (latihan tidak sadar dalam aritmatika di mana pikiran tidak menghitung)”.

Bagi Schopenhauer, musik tidak seperti seni lainnya, sebab ia adalah salinan dari kehendak dunia. Artinya, musik menyalin langsung dunia. Karena alasan ini, efek musik jauh lebih kuat dan tajam daripada seni lainnya yang tidak langsung, yang hanya berbicara tentang bayangan atau ide tentang sesuatu. Oleh sebab itu, musik merupakan esensi, dasar, dan fondasi dari setiap seni.”

Berangkat dari renungan Schopenhauer dimuka, tampak bahwa musik punya kedudukan yang penting dalam diri manusia. Apapun genre musiknya, ia akan menjelma semacam bahasa yang mampu mengkomunikasikan bahagia dan keluh-kesah manusia.

Seperti dikutip IDN TIMES, mengenai penelitian yang dilakukan Brunei University di Inggris tentang musik dan kesehatan mental. Dalam penelitian itu, ditemukan bahwa musik mampu mengurangi rasa sakit dan kegelisahan.

Penelitian yang melibatkan 7000 pasien ini membuktikan bahwa pasien yang mendengarkan musik pascaoperasi lebih tenang dalam merasakan sakit dan mengurangi kegelisahan dibandingkan orang yang tidak mendengarkan musik.

Namun dalam sejarahnya, beberapa aliran musik pernah dianggap sebagai biang atas fenomena bunuh diri di masyarakat. Dan anggapan ini banyak disematkan kepada musik rock. Ini mungkin tidak sepenuhnya benar untuk menganggap musik sebagai pemicu tunggal. Boleh jadi sudah ada faktor berlapis–perang, putus cinta, kematian orang terkasih, dan lain sebagainya. Sedangkan musik mungkin hanya sebagai pemantik untuk membakar masalah berlapis itu hingga berkobar dan membuat seseorang bunuh diri.

Sebagaimana dicatat Rolling Stone Encyclopedia of Rock, antara 1985 dan 1990, musisi Ozzy Osbourne digugat oleh tiga keluarga berbeda dari Georgia dan California. Semua mengklaim bahwa lagunya, Suicide Solution, telah mendorong anak-anak mereka bunuh diri. Osbourne menjawab ketiga keluarga itu dengan mengklaim lagunya sebenarnya ditulis untuk mengenang kematian bintang rock, Bon Scott, dan itu anti-alkohol dan anti-bunuh diri. Pengadilan kemudian memutuskan bahwa lirik lagunya dilindungi oleh Amandemen Pertama dan para rocker memiliki hak untuk kebebasan berkesenian.

Anggapan yang mencuat dari setiap tuduhan bahwa lagu tertentu mengajak bunuh diri umumnya berkisar pada ritme gelap dan liriknya yang menyedihkan. Ini tentu saja, bagi yang menolak, dianggap sebagai pemicu bagi seseorang untuk bunuh diri. Sebab, ada banyak ditemukan anak-anak muda menghabiskan hidup mereka sambil mendengarkan lagu seperti itu berulang kali.

Pada tahun 1983 Di Plano, Texas, misalnya, hidup dua remaja penggemar grup band Pink Floyd, Bruce dan Bill. Setiap mereka bertemu, mereka sering mendengarkan album Pink Floyd, The Wall, yakni lagu tentang penyanyi rock yang membangun tembok di sekeliling untuk menutup diri dari dunia.

Suatu malam, pada perlombaan drag, Bill ditabrak secara tidak sengaja dan meninggal. Bruce kemudian berkabung dan terus memberi tahu teman-temannya bahwa dia akan melihat Bill lagi–sambil mengutip potongan lirik dari album Pink Floyd–pada “Suatu hari yang cerah”.

Sehari setelah pemakaman Bill, Bruce ditemukan tewas di mobilnya karena keracunan karbon monoksida. Mayatnya ditemukan bersamaan dengan gema lagu Pink Floyd, ”Goodbye, Cruel World’ pada pemutar musik di mobilnya. Enam hari kemudian remaja lelaki lain di Plano bunuh diri dengan metode yang sama.

Belum lagi lagu Gloomy Sunday yang ditulis pada tahun 1932 oleh pianis dan komposer Hongaria, Rezso Seress, yang dijuluki lagu bunuh diri. Berikut petikan lirik lagunya yang terkenal:

Gloomy is sunday,

With shadows i spend it all

My heart and i

Have decided to end it all

Soon there’ll be candles

And prayers that are…

Seperti yang dilaporkan dalam majalah Times, Musik: Lagu Bunuh Diri, yang terbit pada 30 Maret 1936, seseorang pembuat sepatu di Hongaria bernama Joseph Keller meninggalkan pesan di tempat ia bunuh diri dengan mengutip beberapa lirik lagu Gloomy Sunday. Selain itu, beberapa mayat di Danube ditemukan mati dengan mencengkeram lembaran musik lagu itu.

Namun tragisnya, bunuh diri tidak terbatas pada pendengar musik saja, tapi juga di kalangan musisi rock.

Sperti Christopher Acland dari Lush, yang mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri pada tahun 1996 pada usia 30 tahun. Ia melakukannya dengan menggantung diri di gudang rumah orang tuanya. Musisi terkenal lainnya adalah Kurt Cobain. Ia menembak kepalanya dengan pistol di sebuah ruangan di atas garasi pada bulan April 1994, di usia 27 tahun. Dave Blood, pemain bass untuk Dead Milkmen, melakukan bunuh diri pada tahun 2004 pada usia 47 tahun, dan masih banyak lagi. Ada sekitar 112 kasus bunuh diri yang terhitung sampai hari ini.

Jika berangkat dari cerita bunuh diri dari para pendengar musik dan musisi di atas, apakah lantas perkataan Susan Sontag salah soal musik, bahwa musik memang adalah yang paling indah, tapi juga sekaligus yang paling mengerikan? Jika demikian, berarti Nietzsche juga tidak sepenuhnya benar: hidup itu belum tentu salah tanpa musik.

Barangkali ada benarnya ketika Plato membedakan musik menjadi dua jenis: musik yang baik dan yang buruk. Agar musik layak dinikmati, maka ia harus sederhana, bebas dari unsur-unsur kelam, dan harus seiring dengan filsafat yang mengutamakan kebenaran. Artinya, musik dan filsafat harus sejalan dalam arti keindahan, kebenaran, kecantikan, dan kemurnian. Inilah sebabnya mengapa Plato melarang penyair liris aède, seperti Homer, dari kota idealnya karena merusak semangat orang-orang. Musik itu indah, baik, dan bernilai hanya jika ia murni, tanpa sesuatu yang berlebihan dan harus mempromosikan kebenaran. Selain musik seperti itu, adalah musik yang buruk.

Apakah dengan begitu, musik, atau seni pada umumnya, harus selalu membawa nilai, seperti halnya Lekra yang menjadikan seni sebagai medium perlawanan? Atau seni tidak berpretensi untuk apa pun selain seni untuk seni? “Supaya jiwa merdeka, kegembiraan bermain,” demikian kata Goenawan Mohamad. “Maka keindahan eskpresi kesenian harus tetap hadir dan tak boleh ditembak mati biarpun atas nama “Revolusi”.

Namun berbicara nilai dalam konteks seni, bunuh diri nyaris tidak bisa dibenarkan dengan argumen bahwa tidak ada kebaikan tertinggi di dunia selain hidup itu sendiri. Moral hanya mungkin dibicarakan jika ada hidup. Tanpa hidup, relasi antar individu adalah tidak mungkin, dan oleh karena itu, seni juga menjadi tidak mungkin.

Jadi apakah kita wajib hidup semata demi relasi ini, demi hidup bersama dengan orang lain, dan bukan hidup demi diri sendiri?

Atas nama kebebasan, anda bisa saja mengatakan bahwa anda punya hak melanjutkan hidup dan menghentikan hidup anda sendiri. Namun jika bunuh diri hanya karena menghindar dari rasa sakit dalam hidup, maka benar kata pepatah untuk mereka yang bunuh diri: “masalah sementara dengan solusi permanen”.

(Visited 7 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan