Melihat Toxic Positivity Bekerja

0 486

BERANDAKOTA-Bagaimana toxic positivity bekerja?

Dia ada di sekitar anda. Dia adalah suara-suara dari mata dan hati yang tertutup. Dia sering mencegah anda meratap dan menderita, dia mencegah anda menjadi manusia. Tapi apa itu toxic positivity?

Toxic Positivity adalah sikap berlebihan untuk menggeneralisasi diri sebagai bahagia, atau “melihat sisi baik” dalam semua situasi. Ini membuat diri anda atau orang lain mengabaikan emosi natural manusia dengan asumsi semuanya sedang baik-baik saja dan akan baik-baik saja.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita nyaris menemukan sikap ini dalam setiap percakapan –baik dengan sahabat, orang-orang di media sosial, bahkan tokoh-tokoh agama.

Ketika anda mulai menceritakan perihal pengalaman buruk anda kepada mereka dengan penuh emosi meluap-meluap dan bahkan air mata, mereka dengan entengnya menjawab: semua manusia punya masalah; ada banyak orang di luar sana yang lebih menderita darapada kamu; ah, lemah;  semua ada hikmahnya; Tuhan punya tujuan baik. Silakan anda tambah sendiri.

Apa yang menjadi persoalan dari toxic positivity ini adalah caranya mengabaikan pengalaman kompleks dan ontentik manusia. Bahkan bisa dikatakan merusak dan tanpa empati. Untuk kasus orang lain, anda bisa dikatakan menghukum mereka karena mengekspresikan frustrasi atau apa pun selain sikap positif.

Sikap positif bukan berarti salah. Di sini kita harus membedakan sikap positif yang sehat atau healthy positivity dengan toxic postivity.

Peneliti psikologi positif, Barbara Fredrickson , menyebut healthy positivity sebagai pengalaman emosi positif seperti rasa terima kasih, ketenangan, cinta, kecewa, rasa takut, dan banyak lagi. Semuanya dirangkul dan disadari sebagai kenyataan yang terbari dalam hidup.

Cukup mengalami semua perasaan itu secara teratur, dan ia akan bertransformasi dan mengarahkan pertumbuhan dengan memperluas kesadaran, membangun kekuatan kita, dan membantu kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Sebaliknya, toxic positivity cenderung intens, bahkan tanpa henti. Orang tersebut memiliki agenda untuk menjadi 100% positif dan ingin orang-orang di sekitarnya juga positif. Ia cenderung egois, palsu, kaku, bahkan menyangkal keberadaan orang lain.

Namun apa yang membuat orang-orang bisa menganut cara pandang positif seperti itu? Atau jangan-jangan itu ditopang oleh hamparan buku motivasi, konten media sosial, meme, stiker bemper–yang pada akhirnya mendorong pemikiran positif tanpa batas dan tindakan tanpa pamrih sebagai kunci menuju kehidupan yang bahagia. Tapi kedengarannya bagus, bukan?

Ya, itu terdengar sangat bagus. Namun ketika itu membuat mata anda hanya melihat dunia dengan satu rupa saja, yakni positif, maka segala sesuatu di luar itu adalah buruk. “Kehidupan ini seimbang, Tuan.” Kata Pramoedya Ananta Toer. “Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”

Kita mungkin punya niat baik untuk berpikir dan mengatakan hal-hal positif kepada orang lain, bahkan kepada diri kita sendiri. Dan itu bisa berarti demi hidup bahagia, hidup yang berkualitas. Saya sendiri percaya bahwa tujuan utama hidup adalah bahagia dan sekuat mungkin menghindari rasa sakit. Ini persis doktrin natural state utilitarianisme Jeremy Bentham, bahwa umat manusia secara alamiah ada di bawah dua pemerintahan berdaulat, yakni kenikmatan dan rasa sakit. Manusia lebih memilih yang pertama ketimbang yang kedua.

Namun ketika anda hanya mengambil salah satu dari sekian dimensi kehidupan manusia yang terlalu kompleks ini, maka anda memilih berdusta dan menjadi palsu. Mengapa? Sebab kita tahu dengan terang benderang bahwa nasib buruk adalah buruk; bahwa patah kaki akibat kecelakaan sepeda motor itu nyata menyakitkan; bahwa datang ke pesta pernikahan mantan tidak membuat cintamu lebih terhormat, apalagi membuatmu jadi suaminya.

Jika seseorang mengabaikan semua kenyataan menyakitkan dalam hidup seperti itu dan membingkainya dengan optimisme buta, maka ada yang tidak beres dalam pikirannya. Ia jelas menutup mata dan tidak ingin menerima kenyataan. Bahkan ia tak pernah bisa belajar hal baik dari penderitaan hidup.

Banyak orang-orang yang tercerahkan mengakui penderitaan hidup sebagai pintu masuk pada kebenaran abadi. Namun penderitaan itu tidak diciptakan. Ia sudah ada di sana. Mereka mengafirmasinya dengan maksud menjadikannya anak tangga menuju kesadaran tertinggi. Sebab, bukankah rasa sakit membuat kita merasa hidup?

Selain itu, penderitaan memungkinkan umat manusia memberi makna pada kehidupan bersama. Mereka berkumpul, berkawan, bermasyarakat, dan bernegara, semua karena pengalaman traumatis di masa lalu. Adalah suatu omong kosong bahwa untuk eksis, kita hanya perlu melihat hidup semuanya positif. Dan di sinilah racunnya. Toxic positivity membuat manusia menjadi dekaden.

Dengan kata lain, makna adalah sarana yang dengannya kita bertahan. Nietzsche melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa pencapaian besar manusia diperoleh dari penderitaan besar. Dan kita harus menjadi martir bagi seni kita, dan seni kita adalah kehidupan duniawi kita.

Oleh sebab itu, kita harus mengakui pertama-tama bahwa penderitaan adalah konsekuensi hidup yang tak terhindarkan. Fakta itu sudah nyaris self evident.

Setiap manusia akan menderita sejak saat mereka menjalani peristiwa kehidupan yang disebut kelahiran. Buddha menyebutnya Dukkha. Kita lahir dengan tubuh yang rapuh berisi nafsu abadi. Dan kebanyakan orang mengikuti nafsu itu dan melupakan tubuhnya yang rapuh. Jika seseorang cukup beruntung untuk hidup lama, maka ia telah menabung bekas luka dan air mata. Dan apakah itu salah? Tidak, itu fakta. Itu manusiawi.

Sejak lama orang-orang bijak mengajarkan bahwa kita sering salah memahami tubuh kita. Kita cenderung tidak waspada dan lupa bahwa tubuh gampang rusak, gampang sakit dan rapuh. Dan Itu memang adalah akar penderitaan, tapi memahaminya dan menerimanya adalah akar bagi kesadaran tertinggi.

Sikap optimisme buta atau toxic positivity akan menutup itu, tak ingin melihat itu. Dan kata-kata mereka tidak pantas untuk telinga manusia normal.

(Visited 13 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan