Sejumlah Tokoh Pemuda BMR Kutuk Sikap Represif Oknum Polisi Terhadap Dosen Andri Mamonto

0 740

BERANDAKOTA— Sejumlah tokoh pemuda di Bolaang Mongondow Raya (BMR) mengecam  kekerasan yang dilakukan oleh oknum polisi kepada  Andri Mamonto, korban salah tangkap pada saat aksi unjuk rasa pengesahan Undang-undang Ciptaker beberapa hari lalu di Kota Makassar.

Pasalnya, Andri Mamonto sendiri yang kini berprofesi sebagai dosen di Univeristas Muslim Indonesia (UMI) ini, merupakan warga asli Bolaang Mongondow mengalami memar disekujur wajahnya yang turut mengundang keprihatinan dari para tokoh pemuda tersebut.

Andri Mamonto (Tengah) saat memberikan penjelasan terkait kasus kekerasan yang dialaminya.

Salah satu diantaranya, Ketua Pengurus Cabang (PC) Ansor Kotamobagu, Hamri Mokoagow SH MH, meminta kepada Kepolisian agar memberi penjelasan terkait kekerasan yang dilakukan oleh anggotanya.  “Kami dari PC Ansor Kotamobagu mengutuk keras aksi respresif itu, Polisi harus mengusut tuntas kasus ini,” tegasnya.

Menurut Hamri, selain meminta maaf, kepolisian juga harus mengembalikan semua unsur kerugian yang dialami oleh korban. “Pertanggungjawaban harus ada dari pihak polisi. Serta memberikan penjelasan secara resmi atas kekerasan yang dilakukan kepada saudara kami Andri Mamonto,” ujar mantan Aktivis PMII ini.

Senada dengan itu, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bolaang Mongondow Raya (BMR), Irwanto Mamonto, menilai apa yang dilakukan oleh oknum polisi tersebut mencerminkan tidak profesionalnya seorang oknum polisi.

“Ini sangat mencoreng nama baik lembaga Kepolisian, apa yang dilakukan oleh polisi sangat tidak memeperlihatkan arti dari jargon polisi yang melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat,” tuturnya,

Irwanto berharap agar oknum polisi yang melakukan kekerasan kepada Andri Mamonto mendapatkan sanksi tegas dari pimpinan kepolisian di Makasar. “Kami sangat beraharap ada efek jerah kepada oknum yang sudah melakukan kekerasan kepada saudara Andri Mamonto. Biar tidak ada lagi kasus salah tangkap dan kekerasan yang dilakukan oleh oknum polisi kedepannya,” tegasnya.

Kecaman juga datang dari Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonensia (GMKI) Cabang Kotamobagu, Maekel Moonik, Ia menyayangkan arogansi yang dilakukan oleh oknum polisi itu. “Kami sangat menyesali kejadian itu, sangat disayangkan apa yang dialami oleh dosen Andri Mamonto itu,”  tutur Maekel Moonik.

Ia berharap agar kasus ini mendapatkan respon dari pihak Polri melalui divisi Propam. “Ini sangat tidak manusiawi. Harus ada sikap tegas langsung Polri, agar ada pembelajaran atas gagalnya menerjemahkan sikap profesionalisme polisi,” tutup Moonik yang juga Ketua Pemuda GMIBM.

Andri Mamonto (tengah) diapit oleh sejumlah pengacara saat mendatangi Kantor Kepolisian di Makassar melaporkan kasus kekrasan dan korban salah tangkap yang dialaminya beberapa waktu lalu.

Sementara itu, diketahui Andri Mamonto melalui Perhimpunan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) telah menempuh kasus ini serta melaporkan kejadian kepada pihak Propam di wilayah Kota Makasar. (esgeem)

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan