Overdosis Demokrasi

0 400

BERANDAKOTA- Aneh rasanya ada kata “overdosis” di depan kata demokrasi. Sebab, sesuatu yang konon agung menyentil konotasi pada semacam pandangan anti-demokrasi. Namun tidak demikian yang akan kita bahas dalam tulisan ini.

Aristoteles memandang bahwa manusia pada dasarnya adalah politik. Tentu saja, proses dan institusi politik adalah pusat kehidupan manusia. Tapi apakah itu segalanya? Apakah semua yang kita lakukan selalu bersifat politis? Dan, yang lebih penting, haruskah semua yang kita lakukan terlihat politis?

Robert B Talisse, menawarkan logika unik tentang subjek tersebut. Profesor Filsafat W Alton Jones dan ketua Departemen Filsafat di Vanderbilt University di Tennessee ini melihat bahwa untuk mencapai cita-cita demokrasi tidak melulu soal melibatkan orang-orang dalam proyek tersebut. Sebaliknya, untuk menjaga demokrasi, masyarakat perlu melakukan aktivitas lain tanpa unsur politis sama sekali.

Tapi bukankah ini mengajak orang untuk cenderung bersikap apolitis?

Dalam bukunya yang terbaru, Overdoing Democracy, Talisse menunjukkan bahwa kehidupan kontemporer (khususnya kehidupan kontemporer di AS) terlalu dipolitisasi. Identitas politik dan tujuan politik telah meresap ke dalam dan mencemari hampir setiap aspek kehidupan kita.

Terkait hal itu, ada yang disebut Talisse sebagai such a thing as too much democracy–bahwa seolah dunia ini adalah jejaring yang hanya menghubungkan orang-orang pada proyek besar politik yang pada gilirannya hampir menutupi unsur fundamental kehidupan sipil kita.

Hari ini, di mana mata memandang, di situ ada politik–linimasa Facebook, Twitter, grup WhatsApp, Instagram, meja makan, dapur, tempat tidur–semuanya nyaris terkontaminasi politik. Kita telah menciptakan dunia dimana tidak ada jeda dari politik.

Kehidupan sehari-hari yang justru hanya kita jadikan sebagai produk sampingan politik: jalan-jalan, main game, membentuk grup musik, komunitas budaya, teater, dan lain-lain, sejatinya adalah jantung demokrasi. Demokrasi idealnya menjadikan itu semua sebagai pijakan dasar, bukan merenggutnya.

Pada dasarnya, ada sejumlah aktivitas yang merupakan inti politik demokrasi–misalnya memberikan suara, berpartisipasi dalam debat dan musyawarah, dan memperoleh serta menyebarkan informasi tentang kandidat dan kebijakan politik. Namun, bukankah semua aktivitas itu harus dilakukan di tempat-tempat tertentu? Ya, seharusnya demikian. Namun mengapa demikian?

Talisse mengajukan apa yang ia sebut argumen crowding out. Argumen ini menyatakan, jika kita mengizinkan jangkauan politik terlalu jauh, maka kita mengizinkannya menyingkirkan barang-barang kehidupan lainnya. 

Analoginya begini. Dodi adalah seorang ahli kebugaran yang menghabiskan semua waktunya untuk fokus mengasah kebugarannya. Dia dengan hati-hati mengatur apa yang dia makan dan menghabiskan sebagian besar waktunya di gym. Hasilnya, Dodi sangat fit dan kebugarannya bagus. Ini memberinya tingkat kesehatan dan kesejahteraan fisik yang hanya dicapai oleh sedikit orang. Tetapi Dodi adalah orang yang gila kebugaran sehingga dia memiliki sedikit waktu untuk hal lain dalam hidupnya. Dia tidak punya waktu untuk mengabdikan diri untuk keluarga, teman, karier, jejaring sosial, seni, sastra, seks, dan sebagainya. 

Apakah Dodi menjalani kehidupan yang baik? Jelas ada beberapa barang dalam hidupnya (kebugarannya) tetapi dia juga kehilangan banyak hal. Dedikasinya pada kebugaran telah menyingkirkan banyak hal lain yang akan membuat hidupnya lebih baik.

Tesis tentang politisasi berlebihan dalam konteks ini adalah kegiatan yang menjadi pusat politik sekarang terjadi di banyak tempat-tempat yang seharusnya tidak terjadi. Contoh dari jangkauan berlebihan ini mencakup politisasi meja makan keluarga, kantor, aktivitas santai, bahkan tempat ibadah.

Pada akhirnya, ini hanya akan berujung pada kejenuhan kehidupan sipil. Politik demokratis yang berlebihan mengesampingkan basis fundamental bagi komunitas dan kerjasama sosial. Jika kita ingin bekerja sama sebagai sebuah pemerintahan demokratis yang mengatur dirinya sendiri, kita harus memupuk sejenis persahabatan sipil yang memungkinkan kita untuk menganggap satu sama lain sebagai sesama warga negara dan berbagi nasib yang sama. 

Apa yang terjadi dalam kehidupan kita hari ini nyaris hanya soal berinteraksi di medan perang politik, dengan berbagai warna bendera dan identitas yang melatari interaksi tersebut. Apa yang terjadi kemudian?

“Tyranny of democracy,” ungkap Talisse.  Dalam artikelnya Democracy is like fun: you can’t set your mind to having it, ia mengatakan, tirani demokrasi merusak demokrasi.

Apa yang disebut tirani demokrasi disini bukan sebentuk pemikiran anti-demokrasi. Ini hanya berlaku untuk demokrasi dengan wawasan umum tentang nilai, yaitu bahwa kadang-kadang, untuk mewujudkan sesuatu yang bernilai, seseorang harus berjuang untuk sesuatu yang lain. Untuk memperoleh bunga dari seseorang yang spesial, anda perlu jadi pacar yang baik terlebih dahulu. Dalam kasus seperti itu, pengejaran nilai yang dimaksud menghasilkan kebalikannya.

Sejauh ini, terlihat ada unsur paradoks dalam gagasan Talisse. Namun tunggu dulu. Perhatikan cara kerjanya. Misalnya bersenang-senang itu pasti menyenangkan. Tetapi kesenangan hanya bisa didapat sebagai produk sampingan dari berpartisipasi dalam kegiatan yang memiliki tujuan lain. 

Kita bersenang-senang saat terlibat dalam usaha yang intinya selain kesenangan, semisal memenangkan suatu permainan, menari mengikuti lagu, merasakan terjunnya rollercoaster, dan menyelesaikan teka-teki silang. Apa yang membosankan kalangan remaja hari ini karena tidak ada usaha apapun yang mereka lakukan selain menikmati hiburan dan kesenangan semata. Ketika kesenangan itu sendiri adalah nama permainannya, maka semuanya membosankan.

Seperti juga dalam hal berteman. Anda tidak akan mendapat teman jika anda bertujuan mencari teman. Kita mendapat teman baru biasanya karena kita mendapat kesempatan bekerja di perusahaan baru, sekolah di luar kota, bahkan ketika di penjara. Dan barangkali semua teman terdekat kita sekarang adalah hasil dari tindakan di luar kita mencari teman.

Bagaimana dengan demokrasi? Demokrasi adalah sistem yang bertumpu pada persahabatan sipil. Dan mungkin tidak mengherankan bahwa untuk mempraktikkan demokrasi yang lebih baik, kita perlu terlibat satu sama lain dalam hal-hal yang bukan politik. 

Kehidupan sipil kita harus terstruktur di sekitar aktivitas bersama dan pengalaman bersama yang tidak memiliki unsur politik, arena dimana keterlibatan sosial yang belum terstruktur dan diganggu oleh kategori politik. 

Dengan demikian, kita harus melibatkan diri dalam upaya kerja sama dengan orang lain yang, sejauh yang kita tahu, memiliki pandangan politik yang berlawanan dari kita sendiri. Kita harus berbicara dengan orang asing tentang perkara yang sama sekali tidak politis. Kita harus membuat hubungan keterlibatan sosial dimana afiliasi partai dan kesetiaan platform tidak penting. Kita harus ‘mengabaikan’, bukan dari masyarakat itu sendiri melainkan dari masyarakat yang dikonstruksi oleh politik demokratis. Singkatnya, jika kita ingin menjalankan demokrasi dengan benar, terkadang kita perlu melakukan sesuatu yang sama sekali lain.

(Visited 22 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan