Tuhan adalah Tujuan Akhir yang Sebenarnya

0 1.449

Oleh Adinda P. Ah-zahra

Siapa manusia di dunia ini yang tidak memiliki masalah? Siapa manusia di dunia ini yang dapat mengatasi masalahnya dengan mudah? Terkadang, saking banyaknya masalah yang harus dihadapinya, ia tak tahu lagi harus melakukan apa, atau tak tahu lagi harus bercerita kepada siapa. Semua terasa seakan kitalah yang memiliki masalah terberat di dunia ini.

Karena saya muslim, saya meyakini ayat yang berhubungan dengan hal di atas, yaitu, “Dia (Ya’qub) menjawab: ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku’.” (QS. Yusuf: 86).

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al Baqarah: 186).

Terlepas dari itu, sebenarnya saya memiliki sebuah kisah yang bahkan saya sendiri tidak tahu harus dipublikasikan atau tidak. Namun, saya merasa saya harus menceritakannya. Karena pada umumnya, semua akan terasa lebih baik ketika kita menumpahkan semuanya ke dalam sebuah tulisan, bukan?

Sekarang, saya harus mengakuinya, bahwa sayalah yang merasa seperti pada pertanyaan di atas. Ada kalanya saya merasakan saat-saat dimana saya tidak tahu harus melakukan apa-apa. Saya bahkan sering memikirkan sesuatu yang aneh, seperti: mengapa saya harus dilahirkan jika harus hidup dengan dikelilingi sesuatu yang buruk?

Nah, kembali ke masa lalu, ketika saya masih kecil. Saat itu, saya hidup berkecukupan dengan keluarga yang menurut saya bahagia, amat sangat bahagia. Namun, pemikiran seorang anak ternyata tak berjalan dengan mulus. Nyatanya, ketika saya berada di kelas empat Sekolah Dasar (SD), semuanya benar-benar hancur. Saya yang saat itu tidak tahu harus berbuat apa. Saya hanya terdiam dan menangis di saat melihat mereka menangis. Saya merasa bingung dengan semuanya.

Ada yang bisa saya ingat dengan jelas hingga sekarang, yaitu saat ketika semuanya sudah tidak bisa kembali seperti dahulu, pun saat dimana mereka mengkritik saya, mengkritik cita-cita seorang anak yang saat itu masih berumur sembilan tahun. Dulu, sejak saya masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK), saya sangat ingin menjadi seorang guru. Sehingga ketika mereka mengkritik mengenai cita-cita saya, saya benar-benar merasa hancur. Saya benar-benar ingat ketika mereka mengatakan, “Kamu masih ingin menjadi seorang guru? Kamu kan tidak bisa marah, nanti bisa-bisa mereka tidak mau mendengarmu.”

Ada juga hal-hal lain yang masih terjadi sampai sekarang. Bukankah hal yang lazim ketika seorang anak tidak mau memakan sayur, tidak bisa memakan cabai, dan lebih memilih susu dibanding nasi? Atau ketika setiap saya ingin makan di luar rumah, mereka selalu menanyakan saya tentang hal itu. Oh, saya tidak tahu harus mengatakan apa. Karena itu selalu terjadi, di mana pun dan kapan pun.

Dan, yang membuat saya merasa sangat marah, orang terdekat dengan saya tidak menyangkal semua itu, mereka mengatakan bahwa saya masih seperti dulu. Memang benar, tidak ada yang mengenal saya selain diri saya. Untuk itu, saya lebih memilih selalu menceritakannya kepada Tuhan.

Sebenarnya saya cukup jengkel jika harus menceritakan hal ini. Tapi dulu, saya sering sakit. Saya juga masih ingat ketika mereka semua meremehkan saya, karena saya lemah. Misalnya ketika di sekolah, pada waktu jam istirahat, mereka selalu memanggil saya dengan sebutan: anak bawang, anak mama, anak manja, dan lain-lain. Jika saja saat itu saya tahu makna nama-nama itu, pasti saya akan memilih untuk tidak bergabung dengan mereka. Seandainya saya bisa menyela atau membela diri, pasti saya tidak akan diremehkan. Tetapi, tetap saja, saya terlalu lemah untuk melakukan semua itu. Bahkan, dulu saya pernah tidak masuk sekolah seminggu hanya karena takut dirisak. Ternyata saya benar-benar payah.

Dulu, saya amat senang ketika mendapat peringkat kelas. Namun sepertinya mereka sedang menertawakan saya, karena saya seperti sedang memanipulasi peringkat, sebab saya tidak terlalu pandai. Sebelumnya saya meminta maaf, saya sama sekali tidak bermaksud untuk menjadikan mereka sebagai pemeran antagonis layaknya dalam sebuah film. Karena ini hanyalah cerita dari sudut pandang saya. Saya hanya menceritakan apa yang pernah saya alami. Sebenarnya, masih sangat banyak masalah yang saya alami dari dulu hingga sekarang. Namun saya tak ingin menggalinya lebih jauh lagi.

Beberapa hari ini, saya sering mendengarkan sebuah lagu yang saya pikir sedikit bertalian dengan kisah kehidupan saya. Sebelumnya, saya tidak mengetahui arti dari lagu tersebut, tetapi saya merasa seperti lagu tersebut sangat cocok dengan saya. Lagu itu berjudul To My Youth yang dinyanyikan Bolbbalgan4 sebuah grup musik asal Korea Selatan terdiri dari duo Ahn Ji-young dan Woo Ji-yoon.

Sebenarnya, dari judulnya saja memang tidak terlalu spesial, namun menurut saya jika kalian membaca arti atau mendengarkan lagu tersebut, pasti kalian dapat merasakan maknanya. Potongan liriknya seperti ini: di suatu titik aku harap aku bisa menghilang dari dunia ini/ dunia tampak begitu gelap dan aku menangis di setiap malam/ akankah aku merasa lebih baik jika aku menghilang?/ aku merasa begitu takut pada orang-orang yang menatapku.

Saya kerap larut ke dalam lagu itu setiap kali mendengarnya. Mengapa saya mengatakan jika lirik tersebut bertalian dengan kehidupan saya? Karena saya selalu merasa seperti dalam lirik-lirik lagu itu. Saya merasa benar-benar sendiri. Tidak ada yang bisa dengan tulus mendengarkan atau merasakan, apa yang ingin saya ceritakan dan rasakan. Tetapi sesungguhnya, saya hanya ingin didengar bukan untuk dihakimi.

Oh ya, saya rasa kalian pasti berpikir mengapa tulisan ini sangat melenceng jauh dari tema? Saya akan menjawabnya. Pada setiap kejadian di atas yang selalu saya lakukan ketika merasa sangat tertekan adalah menangis, dan meminta saran atau kekuatan dari Tuhan. Kalian pasti tahu siapa yang akan kalian tuju ketika kalian sudah tidak tahu harus pergi ke mana, kan? Dan itu adalah Tuhan, benar? Ketika kalian merasa tidak bisa mempercayai siapa pun, kalian pasti akan menceritakan atau meminta petunjuk pada Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa memberi kekuatan atau saran secara tidak langsung kepada kita. Kita harus selalu ingat, bahwa Tuhan sangat menyayangi kita. Tuhan-lah yang seharusnya kita tuju ketika kita kehilangan arah.

Saya bisa berkata-kata seperti yang di atas, karena ketika saya merasa benar-benar rapuh, saya pasti selalu mencurahkan semuanya kepada Tuhan. Benar saja, setelah itu saya merasa lebih baik dari sebelumnya. Seperti saat ini, saya sedang mencoba untuk tidak tinggal diam ketika mereka mulai meremehkan saya. Saya tidak ingin bersikap lemah di hadapan mereka. Tapi yang belum bisa saya ubah adalah saya sering merasa tidak percaya diri terhadap pendapat orang mengenai saya.

Berkat Tuhan, saya bisa melalui itu semua walau tak berjalan mulus. Setidaknya saya bisa menjadi lebih kuat jika dibandingkan yang dulu. Saya hanya bisa berharap, mereka bisa menghargai saya, menghargai apa yang sudah bisa saya capai. (*)

 

Adinda P. Ah-zahra adalah pelajar SMA Negeri 3 Kotamobagu pemenang Esai Terbaik Kategori Pelajar di Kelas Kapitulis.

(Visited 170 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan