19 Desember 1945, Hari Patriotik Bolaang Mongondow Raya

0 400

BERANDAKOTA-Hari ini, 19 Desember, merupakan hari bersejarah bagi rakyat Bolaang Mongondow Raya. Pada 75 tahun silam, para pejuang Kelaskaran Banteng RI berjuang mempertahankan kemerdekaan berperang melawan tentara NICA dan KNIL di Lapangan Molinow, Kotamobagu saat ini.

Karena peran sejarah ini, 19 Desember sudah seharusnya oleh pemerintah daerah dijadikan sebagai Hari Patriotik. Hari ini sekaligus merupakan momentum pemersatu rakyat Bolaang Mongondow Raya.

Tepat 19 Desember 1945, beberapa bulan setelah kemerdekaan, rakyat Bolaang Mongondow melakukan upacara sebagai wujud dukungan dan pengakuan bahwa Bolaang Mongondow adalah bagian dari Indonesia pascamerdeka. Sebelumnya diawali dengan pawai merah putih oleh pasukan Kelaskaran Banteng.

Menariknya, pawai itu terdiri dari anggota pasukan putri yang masing-masing membawa bendera dan dipimpin oleh 4 komandan regu putri berseragam putih dan pita merah putih terikat di kepala. Mereka adalah Djamila Ansik, Hasnah Mokobombang, Hamsiah Moji dan Nurbaya Ansik.

Keempat pejuang wanita ini menyelipkan pistol secara tersembunyi sembari membawa bendera. Tugas mereka setiba di sasaran adalah menurunkan bendera Belanda dari tiang dan menggantinnya dengan Sang Merah Putih. 

Mereka telah disumpah dan tidak dibenarkan meninggalkan tugas atau mundur apapun yang tejadi. Tugas mereka adalah mengibarkan bendera hingga ke ujung tiang atau mati karena diberondong senjata musuh.

Meski mengetahui ancaman, srikandi-srikandi tersebut tidak surut tekad mereka untuk melaksanakan tugas menantang maut. 

Disamping kekuatan bersenjata Laskar Banteng, pada hari yang telah direncanakan semula,17 Desember, akan datang pasukan tempur ‘Barisan Berani Mati” dari Molibagu yang dipimpin Husin Thanta. Namun karena berbagai hambatan, Pawai Akbar Merah Putih tertunda hingga dua hari.

Setelah sempat tertunda, akhirnya rencana “Pawai Akbar Merah Putih” terjadi pada 19 Desember 1945. Desa Molinow dijadikan sebagai tempat Konsolidasi terakhir sebelum bergerak menuju Kotamobagu. Aksi Laskar Banteng mengawali dengan upacara penaikan bendera pagi jam 08.00 di Lapangan Olahraga Molinow dan pengucapan ikrar bersama.

Sejak pagi buta setiap perbatasan desa yang akan dilalui pasukan Laskar Banteng dengan berjalan kaki dari Tanoyan sudah dipagari oleh barisan pengintai, terutama dari Jurusan Kotamobagu. Rumah JFK Damopolii yang terletak antara Molinow dan Motoboi (Jalan Veteran) sudah dihiasi lambaian merah putih. Abdurahman Mokobombang dan Nurtina Manggo yang memimpin aksi Merah-Putih tersebut. Rakyat dari desa-desa tetangga juga sudah mulai berkumpul di Molinow sambil membawa senjata seadanya, seperti parang, tombak dan bambu runcing. Semangat juang yang terpancar dari wajah mereka sangat membara.

Pada tanggal 19 Desember 1945, saat hendak pawai menuju Kotambagu setelah sebelumnya mengibarkan bendera Merah Putih di markas Badule, saat di Lapangan Molinow dengan iringan lagu Indonesia Raya, pasukan Laskar Banteng dikepung oleh tentara NICA yang berintikan KNIL dan polisi kerajaan yang dipimpin oleh J. Kambey. Setelah terjadi baku tembak, J.Kambey dan pasukannya pun akhirnya mundur setelah sebelumnya ia tertembak di kaki.

Setelah terjadi baku tembak dan dipukul mundur pasukan J. Kambey, terdengar ancaman akan mendatangkan pasukan KNIL yang lebih besar lagi. Ancaman tersebut bukan guyonan belaka, maka untuk menghindari korban jiwa dari kalangan rakyat, para pimpinan Laskar Banteng memutuskan agar pasukan menuju ke hutan. Sebagian pasukan lain pergi menyusup ke tangah-tengah rakyat dalam kampung.

Serangan KNIL dan Pasukan NICA ke basis Tanoyan mendapat perlawanan. Meski begitu, karena kehabisan amunisi dan keterbatasan senjata, akhirnya markas tersebut baru dapat dikuasai pasukan NICA dan KNIL pada 29 Desember 1945.

Dalam catatan singkat ini, tidak cukup untuk menjelaskan secara rinci peristiwa patriotik tersebut. Penulis sarankan pembaca untuk membaca bukunya Ny. Ha. Nurtina Gonibala Manggo, “Sejarah Perjuangan Kelaskaran Banteng RI Bolaang Mongondow” dan bukunya T. Mokobombang, “Napak Tilas Mengikuti Jiwa dan Jejak Merah Putih Kawasan Utara PropinsiSulawesi Utara”.

Masyarakat Bolaang Mongondow Raya, perlu bangga memiliki peristiwa sejarah heroik. Ini membuktikan bahwa para orang tua kita juga ikut berjuang. 

Momentum ini patut dijadikan sebagai inspirasi dan motivasi dalam mengisi kembali setiap detik perjuangan daerah ini dengan karya dan prestasi. Lalu kita bingkai catatatan sejarah hari ini dan ke depan dengan kerja-kerja produktif demi meraih cita-cita dan harapan masa depan Bolaang Mongondow Raya yang lebih baik.

Meminjam ungkapan Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainuddin Amali, yang disampaikannya dalam peringatan hari patriotik Gorontalo. Momentum 19 Desember di Bolaang Mongondow Raya juga patut diperingati dengan retrospektif, introspektif, dan prospektif.

Retrospektif dalam artian 19 Desember sebagai fakta masa lalu adalah sebuah mata rantai sejarah. Masa lalu adalah fondasi yang sangat bernilai sebagai referensi dan spirit untuk menatapi pembangunan di masa depan.

Introspektif artinya peringatan 19 Desember ini menjadi sarana mengawas diri atau berintrospeksi diri dengan menjadikan tiap-tiap etape pembangunan Bolaang Mongondow Raya mendatang semakin bermakna. Karena hal itu mampu memberi jawaban atas persoalan kekinian.

Sedangkan prospektif artinya perayaan 19 Desember menjadi acuan spirit untuk berupaya mendesain atau merancang sebuah masa depan berdasarkan realitas dan dinamika kekinian. Tanpa melupakan nilai-nilai peristiwa bersejarah dengan masa lalu.

Semoga di masa mendatang momentum 19 Desember akan diperingati setiap tahun di Bolaang Mongondow Raya sebagai bagian dari cara merawat nalar menuju  daerah otonomi sendiri. Inggai kita motabatu molintak kon Bolaang Bolaang Mongondow Raya.

 

Penulis:

Donald Qomaidiansyah Tungkagi, Direktur The Bolmongraya Institute

 

(Visited 63 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan