Tiga Figur Tinggalkan NasDem Sulut, Ada Apa di Balik Dinamika Internal Partai?
Oleh: Alfian Polla Daini
Sebagai aktivis dan pemerhati politik yang mengikuti dinamika politik Sulawesi Utara, saya melihat perkembangan di tubuh Partai NasDem Sulawesi Utara bukan sekadar pergantian jabatan atau perpindahan figur. Ada dinamika politik dan organisasi yang menarik untuk dicermati secara lebih substantif.
Hengkangnya sejumlah figur yang memiliki posisi dan pengaruh politik di Sulawesi Utara menghadirkan pertanyaan yang sulit diabaikan: apakah ini sekadar pilihan politik individual, atau ada persoalan yang lebih mendasar dalam konsolidasi, komunikasi, dan tata kelola internal partai?
Victor Mailangkay, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua DPW NasDem Sulawesi Utara sekaligus Wakil Gubernur, kini mengundurkan diri dari posisi kepemimpinan partai. Tatong Bara juga telah lebih dahulu meninggalkan NasDem dan memiliki rekam jejak elektoral yang kuat di Bolaang Mongondow Raya. Sementara Hillary Brigitta Lasut adalah salah satu politisi muda Sulawesi Utara dengan perolehan suara besar pada Pemilu 2024, meskipun terpilih melalui Partai Demokrat, sehingga tidak tepat disebut baru hengkang dari NasDem. Namun, terlepas dari perbedaan konteks masing-masing figur, fenomena ini tetap menarik untuk dibaca sebagai dinamika politik Sulawesi Utara.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya siapa yang pergi, tetapi bagaimana partai mengelola perbedaan dan membangun kembali daya ikat organisasi melalui kepercayaan. Menjelang 2029, publik akan melihat apakah ini hanya pergantian elite atau momentum evaluasi yang lebih mendalam bagi NasDem Sulawesi Utara.
Dan bagi saya secara pribadi sebagai pemerhati politik, peristiwa ini seharusnya tidak dibaca dengan kacamata siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa partai politik mampu belajar dari perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan politik. Sebab, partai bukan sekadar kendaraan menuju kekuasaan. Ia seharusnya menjadi institusi demokrasi yang mampu mengelola perbedaan, membangun kader, dan menjaga kepercayaan rakyat.
Dan mungkin, pertanyaan terbesarnya justru sederhana: bukan siapa yang hengkang, tetapi apa yang membuat mereka memilih untuk pergi?