Sapardi, Kau Senantiasa Abadi

0 264

 

Sapardi Djoko Damono tutup usia pada Minggu, 17 Juli 2020. Dunia kesusastraan Indonesia berduka. Ia seakan menunggu usainya hujan bulan Juni sebelum pergi. Tapi bekal keabadiannya sudah ia persiapkan sedari dulu, sejak ia masih kecil.

Sapardi dilahirkan di Solo sebagai anak pertama dari pasangan Sadyoko dan Sapariah, 20 Maret 1940. Ia tinggal di Ngadijayan, sekapung dengan pangeran Hadiwijaya. Rumahnya sekira 500 meter dari kediaman Rendra dan B. Sutiman. Namun ia tak mengenal calon-calon penyair tersebut. Ia mencatat biografi singkat ini di bawah judul “Tentang Diri Sendiri” untuk melengkapi kumpulan sajaknya Ayat-Ayat Api, (2000).

Ada yang istimewa dari kelahiran Sapardi menurut kalender Jawa. Ia dilahirkan pada hari Rabu Kliwon, tanggal 10 Sapar, pukul 08:00 malam. Bagi orang Jawa, sa’at kelahiran Sapardi menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemberani dan teguh dalam keyakinan. Sedangkan bulan kelahiran membuat ia diberi nama Sapardi.

Keluarganya adalah keluarga yang berkecukupan. Tapi ketika Sapardi mulai tumbuh besar, keluarganya berubah menjadi kekurangan. Ibunya pernah bilang, semasa pendudukan Belanda, ekonomi mereka baik-baik saja, tapi setelah itu kehidupan tampak suram. Menurut Sapardi ini aneh.

Apalagi ketika ayahnya minggat dari rumah demi menghindari pengejaran orang-orang Belanda—bukan karena ayahnya gerilyawan—tapi karena semua lelaki dewasa waktu itu dicurigai sebagai pemberontak. Jika tidak demikian, bisa-bisa ayahnya dibawa oleh londo mendem (Belanda mabuk), julukan orang Jawa kepada makhluk berkulit putih yang sekian lama mencaplok tanah mereka.

Kondisi demikian membuat Sapardi suka kluyuran. Tapi versi kluyuran-nya adalah lebih banyak berdiam di rumah dan menjelajahi buku dan pikirannya sendiri. Jelasnya dengan masuk ke dalam telinga sendiri. Ia mengatakan:”mungkin karena suasana aneh itu sehingga membuat saya ingin berdiam lebih banyak di rumah”.

Sapardi mulai menulis puisi pada November 1957. Tepat ketika ia sudah pindah kampung dari Ngadijayan ke Komplang. Ia munulis apa saja. Pokoknya menulis tanpa mungutip siapapun. Hingga sebulan ia menulis, karyanya mulai dimuat di majalah kebudayaan di Semarang.

Sebagai penjelajah dalam dirinya sendiri, Sapardi memulai kegemarannya membaca buku petualangan seperti buku Karl May. Tak hanya itu, dia juga suka membaca Manusia Komedi karangan William Saroyan dan kumpulan cerita pendek terjemahan Amerika karya Mochtar Lubis. Bahkan secara bersamaan ia menelisik Murder in the Cathedral karangan T.S. Eliot, yang berkahir dijadikan objek studi skripsinya.

Pada 1964, Sapardi pun menyelesaikan studinya di Jurusan Sastra Barat (sekarang Sastra Inggris) Universitas Gadjah Mada . Tiga tahun kemudian, sajak-sajak dalam Duka-Mu Abadi ditulis.

Gambaran singkat hidup Sapardi yang dikemukan di atas merupakan persiapan proses kreatifnya. Kluyuran adalah nama bagi pergualatan batinnya demi menemukan kata-kata. Ia menjadikan kata tidak sebagai medium, tapi sebagai subjek pada dirinya sendiri. Melalui gerak kluyuran inilah mental dan intelektualnya berkembang.

Di tanah air, Sapardi dikenal sebagai penyair yang sering mendapatkan penghargaan. Pada tahun 1986 seiring dengan produktivitasnya, ia mendapat anugerah SEA Write Award; pada 2003 menerima Penghargaan Achmad Bakrie. Goenawan Mohamad, dalam satu komentarnya, mengatakan bahwa karya Sapardi (berupa puisi, cerpen, esai, dan terjemahan) terus mengalir. Ia juga adalah guru besar ilmu sastra yang sempat menjabat sebagai Pembantu Dekan I, Ketua Program Pascasarjana, bahkan Dekan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Ia memang menulis dengan cara yang unik. Berbeda dengan pengarang yang ide-ide mereka didapatkan dari tema tertentu, atau suatu peristiwa sosial berupa kerusakan moral yang kemudian dijadikan isi dari sebuah karangan. Sapardi tidak demikian. Ia menulis isi batinnya setelah melihat sebuah peristiwa. Bisa dibilang sumber Ilhamnya adalah suasana batin yang berkecamuk setelah mengalami sesuatu.

Maka kita tak bisa melihat hal-hal tentang kereta api dalam puisinya, misalnya, ketika ia menulis puisi tentang kereta api dalam perjalanan menuju suatu tempat. Sebab, daya ciptanya mengalir tidak dengan menangkap ojek langsung, tapi suasana yang berisi objek-objek, yang dalam bahasa Inggris disebut atmosphere. Maka puisi yang lahir bukanlah tentang kursi, penumpang, kaca dan lain sebagainya, melainkan tentang “Perjalanan Panjang Menuju Entah”.

Puisi-puisi Sapardi memberi kita semacam pemaknaan universalis atas puisi. Membuat kita memahami puisi sebagai sorot mata yang mampu melihat perasaan terdalam manusia yang kerap terkunci. Pembacanya akan selalu merasa bahwa setiap puisi yang mereka baca ditulis untuk mereka. Dan itu membahagiakan.

Selain itu, ada roh yang dipasok dalam karya-karya Sapardi, yang oleh Plato disebut sebagai mousike. Suatu yang bakal abadi. Hingga barangkali itu alasan mengapa ia menulis “Yang Fana Adalah Waktu”.

Terkahir, untuk Tuan Sapardi Djoko Damono, selamat jalan. Kau datang ke dunia pada hari Rabu dan pergi pada hari Minggu di umur delapan puluh. Tapi mengulang pertanyaanmu, “yang fana adalah waktu, bukan?” Kau senantiasa Abadi.

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan