Kata “Terserah” dan Hal-Hal yang Tak Selesai

0 374

BERANDAKOTA-“Jadi aku harus bagaimana?”

“Ya terserah kamu”

“Kamu marah sama aku?”

“Tidak”

“Kok, jawabanya singkat?”

“Ya”

“Kok kamu sudah berubah sayang?

“Sayang..Halo…halo..”

“Tutt..tutt…”

Demikianlah dialog singkat dengan tema “terserah” serta bahaya-bahayanya. Mengapa bahaya? Sebab tersirat makna ganda di balik kata itu. Seorang pria, di satu sisi, bisa menafsirkan itu sebagai bentuk ketidakpedulian, sedang di sisi lain sebagai pemberian kebebasan.

Suatu kali teman saya pernah bilang ke pacarnya, “Tolong jangan lagi ada kata ‘terserah’ di antara kita, apalagi dalam cinta. Kamu tahu, kata itu berarti aku bisa melakukan apa saja, mencintaimu atau mencintainya. Atau jangan-jangan kamu tidak peduli aku mati?”

Ia menceritakan perkara ini selalu dengan tampang tersiksa dan bingung. Dan sembari menuangkan dadanya yang berat kepada saya, ia sesekali mendongak dan mengutip puisi Sapardi, “betul kata Sapardi, pada suatu saat seorang gadis adalah bunga, tetapi di lain saat menjelma sejumlah angka yang sulit.”

Saking ngeri-nya para lelaki atas jawaban “terserah” ini, muncul beberapa artikel khusus di google membahas makna di balik kata itu. Bahkan ada yang membahas kiat-kiat menghadapinya.

Hal ini mengingatkan saya pada filsuf besar Sokrates bersama istrinya, Xanthippe. Keduanya menjalani hubungan yang kurang akur, namun bukan karena ada kata “terserah” yang lepas dari mulut keduanya, melainkan kisruh dan debat tanpa ujung.

Bahkan Sokrates memberi tips pernikahan ideal berasaskan cintanya ini: “Bagaimanapun juga, menikahlah. Jika Anda mendapatkan istri yang baik, anda akan bahagia. Jika anda mendapatkan yang buruk, anda akan menjadi seorang filsuf.”

Ungkapan ini memang bias seorang filsuf: melahirkan pencerahan lewat tragedi. Dan Sokrates mendapatkan sebagian pencerahannya lewat murka Xantippe. Tidak hanya itu, keluarga mereka bertahan karena dalil aneh Sokrates ini: aku menjadi kuat berhadapan dengan orang-orang di luar rumah jika terbiasa di maki di dalam rumah.

Socrates menjawab ini dengan cukup jelas. Dia konon menikahi Xanthippe tepatnya karena sifat argumentatifnya. Baginya, jika dia bisa bertahan dengan wanita ini, kuat berhadapan dengan emosinya yang berapi-api, maka dia bisa dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain di Athena.

Sokrates sendiri memberikan contoh seorang penunggang kuda yang ingin menjadi ahli. Alih-alih mengendarai kuda jinak, penunggang sejati akan memilih beberapa kuda yang mempertajam keterampilan dan kemampuannya.

“Aku mengikuti contoh penunggang yang ingin menjadi penunggang kuda yang ahli. Dan tidak ada kuda jinakmu yang lembut dan pendiam bagiku. Kuda yang saya miliki harus menunjukkan semangat dalam keyakinan. Tidak diragukan lagi, jika dia dapat mengelola kuda seperti itu, akan lebih mudah untuk berurusan dengan setiap kuda lainnya. Dan itu hanya kasus saya. Saya ingin berurusan dengan manusia, untuk bergaul dengan manusia pada umumnya; maka dari itu saya memilih dia sebagai istri saya. Saya tahu betul, jika saya bisa mentolerir sikapnya, saya bisa dengan mudah berhadapan dengan setiap manusia lainnya. ” -Xenophon (Simposium)

Bagaimana jika Xantippe banyak menyebut “terserah” ke Sokrates dalam kisruh rumah tangga mereka? Mungkin Sokrates tidak akan menjadi seorang filsuf sekarang. Bahkan Filsafat Barat yang kita kenal, tidak akan pernah ada.

Jika demikian alasan Sokrates, maka cintanya kepada Xanthippe adalah semata sarana memeroleh kebijaksanaan, bukan karena memang mencintai Xanthippe. Kita juga tidak tahu, mungkin Sokrates mencintainya di awal, namun setelah tahu sikap asli istrinya, ia berkilah dengan ungkapan-ungkapan quotable agar tidak tampak kalah dalam hidup.

Xanthippe memang dikenal sebagai orang yang keras kepala dan pemarah. Namun Plato menggambarkannya sebagai istri dan ibu yang setia di halaman awal Phaedo. Hanya saja karikatur itu sudah melekat kepadanya sebagai perempuan yang suka membantah dan merepotkan.

Tapi kita di sini mesti adil. Sokrates terkenal banyak menghabiskan waktu berdebat dan mabuk di simposium dengan anak-anak muda, dan kemungkinan besar ia pulang dalam keadaan tidak waras, kalau bukan mabuk.Dan saya membayangkan, ketika mereka bertengkar, Sokrates mungkin pernah mendorongnya.

Dan bukan tanpa alasan ketika Xanthippe pertama kali memarahinya dan kemudian menumpahkan isi pispot di kepala Sokrates.”Bukankah sudah kubilang, bahwa guntur Xanthippe akan berakhir dengan hujan?” ungkap Sokrates sambil melanjutkan debat.

Saya bukan penasihat perkawinan, tetapi jika anda menikahi istri anda hanya untuk berdebat dengannya, jangan kaget ketika dia menuangkan isi pispot di kepala anda.

Dengan demikian, apa yang hendak saya sampaikan dalam tulisan ini adalah tentang bahaya kata “terserah” dan “debat” (mobobayowan, dalam bahasa Mongondow). Yang pertama untuk mengindari kesalahpahaman, sedang yang kedua menghindari hilangnya ketenangan dan keharmonisan. Cinta itu adalah kepedulian sekaligus ketenangan (meskipun ada unsur perang dan gelak-tawanya).

Sebagai manusia bucin (budak cinta), tentunya kita tidak rela kalau pacar atau istri kita sering memberi jawaban “terserah”. Sebab, Ini seperti melepas cinta seseorang di udara dengan opsi: lanjut atau tidak, masih sayang atau tidak, masih dianggap atau tidak, apakah aku ada atau tiada. Sedangkan yang sering berbantah-bantahan justru akan menghilangkan unsur harmonis dan ketenangan jiwa dalam hubungan cinta. Mungkin Sokrates adalah pengecualian, namun sebagai manusia rasional, kita punya jalan sendiri untuk menjadi bijaksana dalam hidup.

Sekali lagi, bayangkan jika saja waktu itu Sokrates bertanya seperti ini ke istrinya, “Apa itu keadilan?”. Dan terus dijawab Xanthippe, “terserah. Susu anak kita sudah habis”. Maka Sokrates mungkin tak sebijaksana yang kita kenal dan Plato berpikir keras menggunakan nama Sokrates di buku Republik-nya.

(Visited 23 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan