Dokter Forensik dan Jenazah yang Bersaksi Dalam Sunyi

0 624

BERANDAKOTA- Enam belas tahun silam, tepatnya 7 Desember 2004, sebuah kasus kematian menghebohkan Indonesia dan dunia Internasional. Aktivis Hak Asasi Manusia, Munir Said Thalib, meninggal dunia dalam pesawat Garuda Indonesia – GA 974 tujuan Amsterdam, Belanda. Kala itu, selepas transit di Bandara Changi, Singapura, aktivis Kontras (Komisi orang hilang dan tindak kekerasan) itu terlihat gelisah dan bolak-balik ke toilet. Salah satu penumpang yang juga dokter sempat merawat dan memberi pertolongan kepada Munir, namun nyawanya tidak tertolong. Munir bersua ajal di angkasa.

Otoritas kepolisian Belanda yang menangani kasus ini kemudian melakukan autopsi dan menemukan jejak-jejak senyawa arsenik dalam tubuh jenazah Munir. Mereka menyimpulkan bahwa Munir meninggal secara tidak wajar, Munir dibunuh. Kerja keras kepolisian dalam mengungkap kasus kematian Munir ini tidak lepas dari peran dokter forensik yang bekerja di belakang layar.

Istilah dokter forensik masih terdengar asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan profesi sebagai dokter forensik masih menjadi pilihan kesekian bagi mahasiswa kedokteran yang hendak terjun di dunia profesional.

“Ilmu kedokteran diibaratkan seperti pohon yang memiliki berbagai cabang dengan objeknya masing-masing. Salah satunya ilmu kedokteran forensik, atau biasa disebut yurisprudensi medis. Dokter forensik hadir untuk membantu proses penegakkan keadilan melalui penerapan ilmu atau sains,” ujar dr. Paula Lihawa, MForSc.

Paula adalah Dokter forensik asal Bolaang Mongondow yang menjadi satu-satunya dokter Antropologi Forensik di Mabes Polri saat ini. Pada Jumat (6/11/2020) silam, kepada Berandakota, Dokter Paula menjawab sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan profesinya itu.

Menjawab Teka-teki Kematian Lewat Logika Saintifik

Peran dokter forensik sangat vital dalam membantu polisi menyingkap misteri kasus kejahatan, terutama kasus pembunuhan. Banyak sekali kasus pembunuhan yang tidak meninggalkan jejak pelaku atau identitas korban sama sekali, sehingga menyulitkan polisi dalam melakukan penyelidikan.

“Kadang polisi menemukan mayat tanpa identitas yang sudah membusuk, potongan tubuh, bahkan menyisakan tengkorak saja. Saat itulah kami mengambil alih penyelidikan lewat visum maupun autopsi. Dari penyelidikan secara mendalam itu, kami bisa mengidentifikasi jenis kelamin, usia, ras, penyakit bawaan, waktu kematian, dan penyebab kematian seseorang yang bisa digunakan kepolisian sebagai alat bukti,” kata dr. Paula.

Dalam dunia forensik, petunjuk sekecil apa pun bisa menjadi kunci misteri kematian seseorang. Seperti yang pernah dialami dr. Paula ketika menangani korban dengan tengkorak yang remuk di salah satu wilayah di Bolaang Mongondow. Menurut cerita orang-orang sekitar, korban meninggal akibat tertimpa batu yang jatuh dari tebing di sekitar tempat ia beristirahat dari aktivitas menambang.

Namun, ketika tim forensik melakukan autopsi terhadap tubuh korban, ditemukan beberapa anomali. Saat menganalisis luka pada jenazah, tim forensik memperkirakan terlebih dahulu apakah benda yang datang ke kepala atau kepala yang mendatangi benda kemudian dielaborasi dengan data ketinggian tebing, elevasi, bobot dan diameter batu serta posisi korban. Pada akhirnya, kesimpulan dari tim forensik adalah: kepala korban dihantam dengan benda tumpul dan bukan merupakan kecelakaan.

“Kami semua sepakat bahwa dengan lokasi kejadian yang terbuka, tak mungkin orang yang meninggal ini tak menyadari batu yang akan menimpanya. Pun ketika melihat posisi korban, tengkorak yang hancur seperti itu hanya mungkin terjadi ketika tertimpa batu seukuran mobil Avanza. Manusia seperti apa yang tak menyadari tanda-tanda batu seukuran itu datang bergelinding mengancam nyawanya?” tuturnya.

“Kami semua melihat itu adalah act of rage. Mayat dengan tengkorak yang hancur itu berhubungan dengan amarah yang menyala-nyala. Tapi siapa yang marah kepadanya? Ia telah melakukan kesalahan apa hingga ia dibunuh tanpa ampun seperti itu? Pemeriksaan forensik seperti itulah yang sering kami lakukan di kamar jenazah. Kami ingin membuktikan apakah ini ketidaksengajaan atau kejahatan. Hasilnya kemudian dapat memberi petunjuk dan membantu polisi untuk mereka ulang peristiwa,” lanjutnya.

Ketika ditanya perihal tantangan sebagai dokter forensik, dr. Paula yang merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi dan Magister Foransic Science di University of Western Australia ini menjawab bahwa pekerjaan sebagai dokter forensik memberikan tantangan tersendiri baginya, meskipun kedua anaknya mengatakan bahwa profesinya saat ini lumayan mengerikan, karena senantiasa berurusan dengan mayat korban pembunuhan.

“Bagi saya, banyak hal yang menyenangkan dari bidang ini. Kita bisa mengetahui, membayangkan, serta menjelaskan ke penyidik tentang jawaban dari sebuah teka-teki yang rumit. Dan ketika penjelasan kita itu terbukti benar, ada semacam kepuasan tak terkira. Kepuasan yang sukar untuk dibandingkan dengan kepuasan lain. Bayangkan, kita yang condong memiliki imajinasi liar, dan imajinasi itu menjadi petunjuk pada kebenaran, betapa mengasyikkan, bukan? Teka-teki adalah permainan orang-orang cerdas. Dan ketika teka-teki itu terkoneksi langsung dengan passion kita, kerja keras itu terbayar dengan tuntas,” aku dr. Paula, seraya menambahkan bahwa Iben (anak kedua dr. Paula) setelah menamatkan pendidikannya di Akademi Kepolisian, pasti akan memahami sepenting apa profesi ibunya saat ini.

Jika pembaca pernah menonton serial CSI (Crime Scene Investigation) yang menyuguhkan aksi tim forensik Las Vegas dan cara mereka memecahkan misteri kematian, tentu pembaca cukup mengerti seperti apa tim forensik bekerja dengan standar yang tinggi. Baik dari sisi peralatan maupun kemampuan setiap personelnya. Ketekunan, kesabaran, dan ketelitian menjadi kunci dalam memecahkan setiap kasus pembunuhan yang mereka tangani.

Luka-luka yang Bersaksi

Para pelaku atau tersangka pembunuhan kerap menciptakan alibi dalam banyak kasus yang terjadi. Seperti merekayasa kematian korban agar terlihat seolah-olah bunuh diri, membuang alat bukti kejahatan, menghilangkan identitas korban atau tiada segan merusak dan memutilasi tubuh korban agar sulit diidentifikasi oleh pihak berwajib. Hal semacam ini kerap dijumpai dr. Paula ketika bertugas membantu polisi dalam penyelidikan. Akal manusia sulit mengecoh sains, sehingga tidak ada rencana yang benar-benar matang ketika melakukan tindak kejahatan.

“Selama bagian tubuh korban masih bisa kami temukan, selalu ada harapan untuk memecahkan kasus tersebut,” ujar dr. Paula.

Dunia forensik melibatkan analisis dan pendalaman yang lebih kompleks dibanding kedokteran umum atau spesialis lainnya. Sebabnya, ilmu forensik terbagi dalam beberapa cabang: ilmu fisika forensik, kimia forensik, psikologi forensik, toksikologi forensik, psikiatri forensik, komputer forensik, pathologi forensik, dan antropologi forensik.

Dr. Paula juga begitu optimis bahwa keadilan akan selalu menemukan jalan untuk mengalahkan kejahatan. “Pelaku pembunuhan boleh saja melarikan diri atau meyakini alibinya kuat sehingga merasa aksinya dilakukan dengan bersih, tanpa bukti dan saksi. Tapi mereka lupa, dalam diamnya, jenazah korban bisa memberikan petunjuk kepada kami. Tubuh malang itu mampu bersaksi atas nahas yang menimpanya.”

“Fasilitas instalasi forensik dan laboratorium forensik di berbagai rumah sakit, telah dibekali peralatan yang lumayan canggih untuk digunakan memeriksa jenazah korban meninggal yang tidak wajar atau pembunuhan. Kami bisa memeriksa seluruh bagian tubuh korban, mulai dari jejak kekerasan di tubuh bagian luar, organ bagian dalam, tulang, rambut, gigi, dan kuku. Semuanya berbicara memberi petunjuk kepada kami,” ceritanya.

Bisikan dari Alam Kematian

Kami kemudian mengajak dr. Paula mengingat kembali apakah ia pernah mengalami kejadian mistis selama menangani jenazah korban pembunuhan. Paula menjawab bahwa ia pernah mengalaminya beberapa kali. Namun yang segar dalam ingatannya adalah ketika ia menangani jenazah korban amukan massa.

“Saat memeriksa mayat yang sewaktu hidup adalah tersangka pencurian. Sesaat sebelum saya mulai, datang seorang dokter coass dan mengutik murka jari jempol jenazah itu, ‘Dasar, so ngana tu papancuri (dasar pencuri) katanya’. Saya pun menampik dokter itu, ‘Jangan, nimbole bagitu (tidak boleh seperti itu). Meski dia sudah meninggal, jenazah ini adalah jenazah manusia dan pernah jadi manusia’,” cerita dr. Paula

“Jenazah itu kami perlakukan dengan sangat baik ketika itu, sambil sesekali mengajaknya bercakap, meminta maaf dan memohon izin bahwa tubuhnya harus kami bersihkan kemudian kami periksa,” kisahnya.

“Setelah selesai, saya pulang dan bergegas memasuki kamar untuk mandi dan beristirahat. Namun saya dikejutkan oleh penampakan sesosok manusia pucat di balik jendela kamar. Saya kenal wajah itu, kata saya dalam hati, dia adalah orang yang meninggal tadi. Gerak bibirnya mengucap, ‘Makase (Terima kasih)’ kemudian menghilang begitu saja.”

Hidup itu misteri dan tak ada yang tahu kapan manusia akan mati. Sebagai makhluk yang senantiasa mendamba kebahagiaan, kita semua tentu ingin menjemput ajal dengan tenang di tengah-tengah keluarga tercinta, di pembaringan rumah kita yang nyaman, dan sebisa mungkin berpulang secara alamiah karena faktor usia. Kita bisa memetik hikmah dari profesi dr. Paula, bahwa sesekali kita harus mengambil sebongkah perspektif perihal watak manusia–sisi gelap yang bisa tiba-tiba menyembul ke permukaan dengan bentuk kekerasan yang mengerikan. Dan, tidak sedikit manusia yang menjadi korban kekalapan manusia lain, harus terbujur kaku di selokan, emperan toko, gudang, hutan bahkan di udara. Jasad-jasad malang ini yang kemudian masih harus menambah satu fase lagi di dunia, menunggu sains bekerja di ruang forensik yang sunyi dan lembap. (*)

 

Tentang Narasumber:

dr. Paula Lihawa, MForSc, Lahir di Manado 25 Juni 1972, adalah istri dari Katamsi Ginano dan ibu dari Anugerah Barzanzi Rahman Ginano, S.Sos, serta Brigadir Dua Taruna Raihan Gautama Benjamin Ginano. Saat ini dr. Paula Lihawa menjabat sebagai Kasubid Narkoba Bidokpol Pusdokkes Polri.

 

(Visited 76 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan