Indonesia Diprediksi Masih Dililit Resesi, Jangan Lakukan 3 Hal Ini

0 161

BERANDAKOTA- Resesi diperkirakan masih akan melilit Indonesia, sebab pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2020 diprediksi masih minus atau negatif. Resesi sendiri diartikan sebagai kondisi pertumbuhan ekonomi negatif pada dua kuartal berturut-turut.

Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia di dua kuartal terdahulu di 2020, sudah minus. Pada kuartal II 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen, disusul di kuartal III 2020 minus 3,49 persen.

Angka pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2020 akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Jumat (5/2) ini. Jika saja pertumbuhan ekonomi mulai positif, artinya Indonesia mulai keluar dari resesi. Sayangnya, sejumlah prediksi memperkirakan ekonomi Indonesia masih negatif.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2020 masih minus, karena konsumsi rumah tangga yang masih melemah akibat pandemi corona. Dia menyebut, kemungkinan konsumsi rumah tangga akan minus 3,6 persen hingga minus 2,6 persen.

“Keseluruhan outlook pada kuartal IV ini minus 2,9 persen hingga minus 0,9 persen,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA November 2020 secara virtual, Senin (21/12/2020).

Hitungan serupa juga diungkapkan Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso. “Kami harapkan kuartal IV tidak terlalu jelek, yaitu minus sekitar 1 sampai 2 persen,” ujar Wimboh dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2021, Jumat (15/1).

Dengan kondisi itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 sebesar minus 1,7 persen hingga minus 2 persen. Proyeksi ini sama dengan kisaran dari outlook pemerintah.

Dengan kondisi Indonesia yang masih dibelit resesi karena ekonominya minus, ada 3 hal yang jangan dilakukan oleh masyarakat:

Baca juga: Aplikasi Sipantas, Solusi Penanganan Anak Putus Sekolah

1. Jangan Menahan Konsumsi

Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah mengakui struktur terbesar dalam perekonomian Indonesia adalah konsumsi rumah tangga. Menurut Piter, resesi ekonomi akibat pandemi virus corona sebenarnya adalah suatu kewajaran, yang hampir terjadi di semua negara.

Piter mengatakan yang perlu dilakukan saat ini adalah pemerintah mengencangkan ‘sabuk pengaman’. Adapun andil utama dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) adalah konsumsi rumah tangga.

Untuk itu, pemerintah perlu mendorong konsumsi, seperti bantuan sosial, program keluarga harapan (PKH), serta jaring pengaman sosial lainnya yang dapat mendorong daya beli masyarakat.

2. Jangan Boros

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, menyarankan agar belanja barang-barang yang tidak mendesak harus ditunda dulu apabila Indonesia masuk resesi.

Apabila kondisi pemasukan dan dana tabungan terbatas, bahkan bila mengalami pengurangan penghasilan atau terkena PHK, maka sebaiknya membelanjakan uang hanya untuk kebutuhan yang benar-benar penting dan diperlukan dulu. Andy menyebutkan beberapa kebutuhan penting yang tidak bisa ditunda adalah makanan, tagihan, sampai keperluan sekolah anak.

“Sementara kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya kesenangan ataupun keinginan sebaiknya ditunda terlebih dahulu,” ujar Andy.

Baca juga: Resensi Buku Money: Hikayat Uang Dan Lahirnya Kaum Rebahan

3. Jangan Panik

Dikutip dari Marketwatch, salah seorang terkaya dunia yang juga pendiri perusahaan investasi Bekshire Hathaway, Warren Buffett, memang melihat ini sebagai krisis yang parah. Namun baginya, menghadapi situasi ketidakpastian ekonomi, tak bisa dengan kepanikan. Di balik setiap kesulitan, selalu ada peluang. Hanya orang yang tenang yang dapat melihat peluang tersebut. (*red)

Sumber: Kumparan.com

(Visited 64 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan