Mending Kamu

0 386

BERANDAKOTA
Teman saya L datang dengan wajah yang hampir jatuh. “Capek sekali. Aku jauh-jauh dari Cimahi ke Dago,” ujarnya mengeluh.

“Kamu enak punya motor, aku setiap hari jalan kaki,” jawab B.

“Aku stress sekali dengan skripsi,” kata L sembari memegang kepalanya agar tidak jatuh.

“Kamu enak sudah bikin skripsi, aku angkatan 2011 belum bikin-bikin sampe sekarang,” respon B.

L sedikit meninggikan suara: “Kamu gak ngerti. Aku sudah tidak punya ibu!”

Sejurus kemudian dibalas B: “Lah aku gak punya bapak!”

Percakapan itu berakhir dengan hasil mencengangkan. L akhirnya menangis dari kompetisi “hidup siapa yang paling sial di antara kita”. Sejak insiden itu, kami tidak melihat kehadiran L di sekitar Dago untuk beberapa waktu. Tapi bagaimanapun, kejadian itu membekas lama di benak saya. Saya diam-diam mengerti, bahwa bukan hanya kebahagiaan, orang bahkan senang memamerkan tragedi mereka.

Dalam buku Mark Manson berjudul A Book About Hope (yang menurut saya lebih pas diterjemahkan dengan “amburadul” atau “kacau balau” ketimbang “ambyar”), peristiwa saling pamer tragedi antara B dan L bisa digolongkan sebagai narsisme. Narsisme tidak melulu dengan membanggakan ego di hadapan orang lain. Intisari sikap narsistik adalah menjadikan diri sendiri sebagai poros perhatian di tengah-tengah percakapan, bahkan bila itu artinya dengan menjual kesedihan kita untuk membeli telinga orang-orang di sekitar.

Saya dan Anda mungkin bisa paham pada titik tertentu, bahwa niat B sebenarnya baik. Ia barangkali lagi menawarkan sikap empatik kepada L  bahwa L tidak sendirian menderita di dunia ini. Dengan membuktikan bahwa diri kita lebih sial dari lawan bicara yang lagi merutuki hidupnya, diam-diam ada harapan lawan bicara kita bakal bersyukur bahwa nasibnya tidak seberapa. Sayangnya anggapan seperti itu, bagi saya, keliru besar.

Cara bersikap seperti dalma percakapan disebut narsis karena terdapat hasrat untuk mengambil alih percakapan agar subjek percakapan diarahkan ke arahmu. Seorang sosiologis bernama Charles Derber mendeskripsikan tendensi ini sebagai conversational narcissism. Dia menjelaskan dua jenis repson: respon “menggeser subjek” yang tujuannya menjadikan diri sendiri sebagai poros topik dan respon “memberi dukungan” yang tujuannya memberi dukungan emosional. Mata rantai respon antara B dan L di atas adalah contoh terang benderang soal respon jenis pertama.

Sampai paragraf ini, barangkali saya perlu lebih banyak introspeksi begitu pun khalayak pembaca, saya yakin kita semua mengira sudah menjadi seorang teman ngobrol yang baik sejauh ini, bahwa kita sudah berusaha menampilkan empati meskipun ternyata keliru.

Kini saya mengerti, bila saya pengen menjadi teman ngobrol yang baik bagi teman-teman yang sedang ingin mengeluhkan hidup, saya akan membiarkan mereka bersedih sesuka hati. Saya tidak akan sok-sokan menggeser sorot lampu percakapan ke arah pengalaman penderitaan saya meskipun itu didasari niat membuat teman saya bersyukur karena ada yang lebih sial.

Kita ini memang makhluk yang tersandera oleh Messiah Complex. Kita merasa sebagai juru selamat dengan berkta “Kamu masih mending begitu…” Saya tahu niat kita baik, tapi apalah artinya niat baik bila tidak digunakan dengan cara yang tepat? Kita tahu, dokter yang memberi obat yang tidak sesuai dengan penyakit pasien bisa-bisa menyebabkan sakit pasiennya tambah gawat darurat. Ia kan?

Oleh: Triwardana (Tio) Mokoagow

(Visited 29 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan