Kierkegaard: Patah Hati dan Lahirnya Filsafat Eksistensialisme

0 917

Jika Friedrich Nietzsche (1844-1900) berulang kali ditolak Lou Andreas-Salome, satu-satunya perempuan yang ingin ia nikahi, maka Soren Aabye Keirkegaard (1813-1855), pendahulu Nietzsche, justru memutuskan pertunangannya dengan Regina Oslen. Pertunangan itu putus begitu saja tanpa ada penjelasan dari Kierkegaard. Beberapa kali Regina Oslen memohon agar pertunangan itu tidak berakhir begitu saja. Namun, Kierkegaard tetap kukuh pada pendiriannya. 

Ketika memulangkan cincin pertunangan kepada Regina, Kierkegaard menyertainya dengan sebuah surat yang isinya sangat menyayat hati. “Agar tidak lebih sering mencobai sesuatu yang bagaimanapun juga harus dilakukan…biarlah hal itu dilakukan. Yang penting, lupakan orang yang menulis surat ini, lupakan lelaki ini, yang meskipun mampu melakukan sesuatu, namun tidak dapat membahagiakan seorang gadis.” 

Regina menolak menyerah, ia tahu betul bahwa cintanya yang begitu besar kepada Kierkegaard harus diperjuangkan, dan Kierkergaard tahu itu. Berulang kali Kierkegaard meminta agar Regina melepaskannya. “Menyerahlah, biarkan saya pergi; kamu tidak dapat menanggungnya,” katanya. Mendengar hal tersebut Regina justru menjawab dengan sabar bahwa ia akan menanggung apa saja asalkan Kierkegaard tidak pergi. Regina berjuang keras agar pertunangan itu tidak putus, hingga akhirnya ia pun putus asa. 

Ayah Regina, Estatsraad Oslen, seorang pejabat tinggi di Denmark menulis kepada Kierkegaard “Saya seorang yang tinggi hati, dan sulit bagi saya untuk mengatakan hal ini, tetapi saya mohon kepadamu, jangan putuskan hubunganmu dengannya.” Dengan memohon seperti itu, Oslen berharap Kierkegaard akan melunak. Benar saja, hati Kierkegaard tersentuh oleh kata-kata itu, namun ia tidak membiarkan dirinya terbujuk. Ia tetap pada pendiriannya, bahwa pertunangan itu harus disudahi.  

Alasan Kierkegaard memutus pertunangannya dengan Regina sulit untuk dipastikan. Namun yang jelas, itu bukan karena adanya perempuan lain. Regina adalah perempuan yang begitu diinginkan Kierkegaard. Dalam catatan hariannya, beberapa kali ia mengenang semangatnya yang menggebu-gebu ketika hendak memperistri Regina, momen ketika ia menyatakan cinta dan meminang perempuan itu. Lantas, apa sebenarnya yang melatarbelakangi Kierkegaard memutuskan pertunangan itu jika Regina adalah perempuan yang sangat ia cintai? Pergulatan seperti apa yang sedang dialami Kierkegaard? 

Manusia sering kali didatangi penderitaan ketika diperhadapkan dengan pilihan-pilihan. Bagi Kierkegaard, manusia menderita ketika harus memilih antara dua hal yang sama baiknya. Apakah saya harus menulis artikel perihal Kierkegaard ini, ataukah saya harus mengerjakan tugas kuliah? Kebebasan sering kali mendatangkan konsekuensi yang sulit ditanggung. Kita menderita karena kita punya pilihan, dan ketika salah memilih, maka kita mengutuk diri sendiri. Filsafat Kierkegaard sejak awal sudah bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan praktis eksistensial, menyangkut apa yang harus ia lakukan, dan bukan apa yang ia ketahui. 

Bagi Kierkegaard, pertanyaan yang relevan dalam filsafat bukanlah mengenai hakikat kodrat manusia seperti pencarian dalam sejarah filsafat sejak Aristoteles. Melainkan apa yang harusnya dilakukan manusia, khususnya bagi dirinya sendiri, agar dapat menemukan kedamaian dan makna hidup. 

Filsafat Kierkegard dibangun dari kritiknya terhadap proyek filsafat Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Bagi Kierkegaard, filsafat Hegel tidak berhadapan dengan eksistensi aktual, melainkan hanyalah konseptualisasi ideal. Hegel ingin membangun sistem filsafat yang memberikan masing-masing  berbagai unsur dan aspek pengalaman manusia. Sistem filsafat yang bersifat komprehensif, sistematik dan rasional. 

Proyek filsafat Hegel yang sangat optimistik bermaksud menjadikan filsafat sebagai suatu sistem ilmu pengetahuan yang komprehensif dan mencakup segala macam pengetahuan serta kebenaran yang telah ditemukan oleh manusia dalam sejarah. Melalui proses dialektika, filsafat pada akhirnya akan menjadi pengetahuan yang tak terbatas mengenai segala sesuatu dan yang dapat menjelaskan segala sesuatu. 

Menurut Hegel, sesungguhnya ada Roh yang bergerak dalam perjalanan sejarah dan Roh ini, yang merupakan kesadaran yang mengenali dan menyadari dirinya sendiri, pada akhirnya akan membawa manusia pada pembebasan menyeluruh dan kebenaran objektif meskipun harus melalui proses panjang. Segala bentuk pertentangan dan konflik dalam realitas dan perjalanan hidup manusia, termasuk perang dan revolusi, pada akhirnya akan didamaikan. Gerak Roh dalam sejarah inilah yang melatarbelakangi proyek filsafat Hegel yang sangat optimistik. 

Bagi Kierkegaard, filsafat semacam itu menggelikan karena tidak masuk akal dan sangat ambisius, selain itu tidak akan banyak membantu pergulatan hidup. Kierkegaard tidak membutuhkan kumpulan pengetahuan sistematik mengenai kebenaran objektif atau arah gerak Roh dalam sejarah. Yang ia butuhkan adalah bagaimana hidup dan membuat pilihan dan mengambil keputusan yang benar. Filsafat Hegel yang begitu rasional tidak memberikan ruang bagi keraguan dan kecemasannya dalam mengambil keputusan, keputusasaan terhadap diri dan situasi yang dihadapainya serta ketidakpastian yang dialaminya. 

Kierkegaard ingin berfilsafat secara manusiawi, tanpa mengabaikan sisi-sisi dari diri manusia yang paling subtil. Ia ragu bahwa segala kegetiran hidup manusia dapat diberikan kerangka rasional dalam suatu sistem sehingga semuanya dapat dipahami secara rasional. Menurut Kierkegaard, apa yang dialami secara aktual oleh manusia terlalu kaya dan padat untuk diabstraksi dan ditangkap oleh seorang pengamat, apalagi untuk diungkapkan lewat kata-kata. Inilah mengapa bagi Kierkegaard, proyek filsafat Hegel hanya merupakan konseptualisasi ideal, dan tidak berhadapan dengan eksistensi aktual. 

Filsafat bagi Kierkegaard haruslah dihidupi, yakni filsafat sebagai laku hidup. Ia menghidupi filsafatnya dengan terjun langsung menyelami eksistensi manusia sebagai seorang pelaku, mengalami suka-duka, kegembiraan serta kepahitan menjalani kehidupan sebagai manusia. Kierkegaard banyak bicara soal kecemasan yang sering kali melanda manusia, ketegangan antara hidup dalam waktu dan kerinduan akan keabadian, pencarian makna dan kepenuhan hidup serta cara-cara manusia menjalani hidup. 

Kierkergaard juga bicara perihal kebenaran sebagai subjektivitas. Secara naluriah, manusia selalu berhasrat untuk mengetahui realitas objektif, yakni kepastian dan kebenaran. Namun, menurut Kierkegaard, realitas objektif tidak dapat dipahami secara penuh, selalu terdistorsi oleh konsep-konsep dan bahasa, sehingga, kebenaran sejatinya bersifat subjektif. Kebenaran sebagai subjektivitas menuntut manusia agar memberikan komitmen dan hidupnya kepada kebenaran sebagaimana dipersepsikannya. 

Ketika bicara soal kebenaran sebagai subjektivitas, Kierkegaard tidak bicara mengenai semua bentuk kebenaran, melainkan hanya bentuk-bentuk kebenaran yang secara konkret menentukan cara manusia menjalani hidupnya, yakni kebenaran moral dan religius. Ia tidak menolak adanya kebenaran objektif. Melainkan  memberi posisi yang lebih tinggi pada kebenaran subjektif, karena baginya, kebenaran subjektif secara hakiki menentukan bagaimana manusia akan menghayati hidup sehari-hari dan nilai-nilai apa yang akan dipeluk. 

Kierkegaard yang melankolis menjadi sangat peka dengan berbagai aspek eksistensial kehidupan manusia, yang sering kali tidak akan terlihat atau tidak muncul ketika manusia berada dalam kerumunan. Dalam memperjuangkan eksistensi yang otentik, Kiekegaard mengajukan kritik terhadap ‘kerumunan’ atau ‘publik’. Baginya, orang-orang cenderung hidup berkerumun karena takut menghadapi eksistensinya sendiri. Kerumunan atau publik sering meniadakan indentitas individu, sebab kerumunan hanyalah sebuah abstraksi yang menjadi ada melalui yang konkret, yakni sang individu. 

Ketika individu bergabung dengan kerumunan, maka ia menjadi bagian dari kerumunan dan menjadi milik kerumunan, sehingga tidak dapat memberikan komitmen sejati karena pengaruh langusung dari kerumunan terlalu kuat dan besar. Komitmen sejati baru dapat diberikan ketika individu keluar dari kerumunan. Sementara itu, sepanjang eksistensinya, manusia akan terus-menerus ditantang untuk memilih dan membuat keputusan. Melalui keputusan yang diambil dan komitmen yang diberikan itulah individu dapat menjadi dirinya sendiri. 

Aliran filsafat eksistensialisme menjadikan pandangan ini sebagai salah satu pemikiran fundamental. Menjadikan eksistensi manusia dengan segala pergulatannya sebagai titik tumpu refleksi dan pemikiran filsafat. Demikianlah Kierkegaard, Sang Bapak Eksistensialisme yang melalui pergulatan dalam dirinya berupaya membangun sebuah sistem filsafat yang sama sekali baru dan pada akhirnya banyak dikembangkan dan diulas oleh berbagai filsuf selanjutnya. Ia sepanjang hidupnya banyak melahirkan karya-karya yang sebagian besar ia tulis menggunakan nama samaran. Ia ingin ketika tulisan-tulisannya dibaca, pembaca akan lebih banyak menengok ke dalam dirinya sendiri daripada memikirkan latar belakang kisah si penulis. 

 

Referensi:

Hadya Tjaya, Thomas, (2018). Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, Jakarta; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Landau, C., Szudek, A., & Tomley, S., (2017). The Philosophy Book: Big Ideas Simply Explained. DK Publishing (Dorling Kindersley).

Plato.stanford.edu. (10 November 2017). Soren Kierkegaard. Diakses pada 2 April 2021 dari https://plato.stanford.edu/entries/kierkegaard/ 

 

Penulis:

Indah Wahyuningsih, Alumni SKSG Universitas Indonesia

 

(Visited 533 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan