Percakapan di Bentor Bersama Sartre

0 401

P

ada suatu sore di bulan Juni yang dingin, Sartre (S) hendak pergi ke kafe untuk menghangatkan diri dengan secangkir Caffè latte. Ia berdiri di samping jalan di Kelurahan Mongkonai menunggu bentor, kendaraan roda tiga khas Kotamobagu. Selang beberapa menit, bentor berwarna biru yang kusam dan reyot mengarah di depannya. Pengendaranya sudah berumur 60-an. Namanya Bapak Ilep (BI). Wajahnya terdapat guratan seperti lukisan masa lalu yang penuh kekecewaan. “Bentor?” teriak orang tua tersebut dengan wajah berharap.

Merasa tak wajib menjawab, Sartre langsung berjalan ke arah bentor itu. Ia tidak sendiri. Ada seorang ibu di sampingnya yang hampir seumuran dengan BI. Namanya Ibu Inang (II). Sartre duduk di sebelahnya, mengingat bentor idealnya adalah kendaraan untuk dua orang penumpang, kecuali untuk anak sekolah–mereka bisa bertiga atau berempat, satunya duduk berboncengan di belakang.

Perlahan, bentor mulai bergerak di atas aspal basah sepeninggal gerimis bulan Juni.

 

BI: “Tujuan anda ke mana?” tanya BI dengan kesan akrab.

S : “Kafe di Kelurahan Matali,” jawab Sartre sambil merapikan posisi duduknya.

BI: “Oh, iya. Searah dengan ibu di samping anda. Iya kan, Bu?” sambung BI berharap II terlibat dalam percakapan mereka. Namun II senyap, sesenyap posisi duduknya.

BI: “Akhir-akhir ini, penumpang sedikit. Tak banyak orang ke luar rumah. Dasar corona. Dia membuat orang takut bergerak,” sergah BI memarahi nasibnya sambil membuka percakapan yang lebih spesifik.

S: “Keadaan hari ini memang sulit. Tetapi bukankah kita harus tetap hidup?” tanya Sartre menenangkan BI.

BI: “Saya terlalu lama hidup miskin. Lelah saya sebenarnya. Ditambah pandemi yang tak tahu kapan berakhir. Kadang saya melihat manusia tak lebih bernilai dari pada batu,” keluh BI dengan napas berat.

S: “Saya bukan orang yang gampang memberi nasihat hidup. Bagi saya, menjadi manusia memang berbeda dengan menjadi batu. Manusia ada di dunia bersama kesadarannya. Dan itu tak bisa dipertukarkan,” Sartre menatap wajah BI sebagai sesama manusia fana.

BI: “Ya, kita memang beda dengan batu,” menanggapi S sembari menghentikan perlahan bentornya tepat di lampu merah Molinow. “Namun batu tidak bisa bahagia, bukan?”

II: “Tidak bahagia tidak pula menderita,” kata II menanggapi BI dengan tatapan senyap ke depan. Kini ia angkat suara tapi sekejap saja.

S: “Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda-benda lain yang tidak memiliki kesadaran atas keberadaannya sendiri. Bagi manusia eksistensi adalah keterbukaan. Berbeda misalnya dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus adalah esensinya. Sedangkan manusia selalu adalah eksistensi mendahului esensi. Ia tak bisa dilabeli ini-itu.”

II: “Hei, sudah boleh jalan, Om!” sergah II kepada BI mengingatkan kalau sudah lampu hijau.

BI: “Maaf, Bu. Saya terkesima dengan kata-kata bapak di samping anda,” kata BI mengembalikan kesadarannya yang mulai terganggu. “Mengapa manusia seperti dikutuk hidup sambil terus memilih ini dan itu?”

S: “Asas pertama untuk memahami manusia haruslah mendekatinya sebagai subjektivitas. Artinya manusia sebagai pencipta dirinya sendiri dan tak pernah selesai dengan upayanya itu. Manusia tidak lain adalah rencananya sendiri. Ia adalah kumpulan tindakannya, ia adalah hidupnya sendiri.

BI: “Betapa indahnya menjadi batu. Tidak bisa memilih ini dan itu. Ia adalah dirinya sendiri. Sepertinya menjadi manusia tidak selamanya adalah anugerah. Sedangkan batu, tidak berpikir bagaimana mendapatkan uang pengobatan ketika sakit, tidak takut tidak dapat uang hari ini, tidak berharap seperti saya untuk memiliki bentor mengkilap lengkap dengan musiknya. Entahlah,” BI menarik napas panjang, cemas.

II: “Bisa cepat sedikit? Saya sedang ada janjian dengan anak saya pukul 19:00 ini,” ujar II mengingatkan BI karena tampak tak lagi bersemangat menarik bentornya.

BI: “Berarti manusia makhluk yang penuh risiko?” Tanya BI kepada S. Ia mengabaikan suara dari II. Pikirannya mulai memasuki alam kebimbangan. Ia melupakan dirinya sebagai tukang bentor, tujuan penumpang, klakson kendaraan di samping dan belakangnya, dan hal ihwal tujuan hidupnya.

S: “Benar. Sebab realitas manusia adalah bebas. Secara asasi ia sepenuhnya bebas.”

BI: “Berarti kita juga bisa memilih risiko yang bakal kita dapatkan di masa depan dengan tindakan bebas?”

S: “Konsekuensi dari kebebasan yang tak terbatas itu, atau yang anda maksud penuh risiko, adalah tanggung jawab. Meskipun itu bersifat pribadi, pada kenyataannya itu merupakan suatu keputusan yang menyangkut kemanusiaan juga. Tanggung jawab ini merupakan beban eksistensial yang berat untuk ditanggung.”

BI: “Sekarang saya merasakan beban itu, Pak. Apalagi saya yang miskin ini. Selain punya beban menafkahi keluarga, saya kini sadar bahwa saya juga punya beban tanggung jawab pada setiap pilihan hidup saya. Bahkan beban kesadaran bahwa saya akan mati,” ujar BI. Wajahnya tampak kehilangan arah.

S: “Ya, kematian itu absurd. Karena ia datang di luar dugaan kita. Misalnya saya mempersiapkan diri menjadi seorang pengarang, saya berlatih dan belajar terus-menerus. Namun, bisa saja saya mati sebelum menulis halaman pertama buku saya.”

BI: “Betapa nistanya kita!” sergah BI. Amarahnya meluap melampaui kemurungannya.

II: “Dari dulu,” jawab II kepada BI. “Jangan lupa, saya turun di depan Indomaret.”

BI: “Baiklah, Ibu. Sudah dekat,” jawab BI menanggapi.

II. “Tetapi tunggu. Tanggung jawab saya sebagai manusia sedikit banyak karena saya lahir di tengah masyarakat dan hidup dengan pola masyarakat di mana saya lahir dan tumbuh. Artinya, saya bisa saja hidup dengan cara tertentu, namun cara itu adalah cara orang lain juga.”

S: “Memang begitu faktanya. Misalnya saya duduk sendiri di sebuah taman nan indah dengan penghayatan saya sendiri, namun tiba-tiba datang orang lain yang juga punya penghayatannya. Di situ, saya merasa harus berbagi suasana dan dunia dengannya. Dengan kata lain, kesan yang saya bangun atas taman itu sebagai dunia yang saya diami berubah karenanya, atau bahkan saling memonopoli.”

BI: “Bukankah ia datang di taman tersebut demi menikmati suasana, dan bukan datang mengganggu anda?”

S: “Bisa saja. Namun, kehadiran orang lain di suatu tempat bersama kita kebanyakan memandang kita sebagai objek semata. Mereka akan bertanya-tanya mengapa saya menyendiri di sebuah taman; orang itu sepertinya sedang dirundung masalah; orang itu tampak seperti sampah masyarakat, dan lain sebagainya.”

BI: “Bagaimana anda tahu bahwa ia memandang anda selalu sebagai objek dan bukan subjek?” tanya BI. Dahinya mengerut tak beraturan.

S: “Saya orang aneh, bukan?” S balik bertanya kepada BI.

BI: “Saya belum tahu tentang anda.”

S: “Baguslah. Anda belum mengubah saya menjadi objek. Sebab, kalau anda sudah membuat saya menjadi objek amatan dengan segala nama atau predikat tertentu, maka anda membekukan saya sebagai manusia yang bebas. Jika anda sudah menilai saya, maka saya jadi serupa batu, bukan lagi manusia yang bereksistensi.”

BI: “Apakah saya yang tidak percaya diri dengan bentor saya yang reyot ini termasuk akibat pandangan umum bahwa bentor jelek dijauhi penumpang anak muda atau anak sekolahan? Dan pengendara bentor jelek selalu adalah orang tua yang durjana?” Tanya Bi dengan saksama. Ia mulai melihat titik terang. Meskipun itu adalah kegelapan.

S: “Begitulah. Saya dan anda tampak, tembus pandang, dan terbekukan dengan orang lain.”

II: “Asal mula kejatuhan diri kita adalah eksistensi orang lain,” sambung II sebagai tanda perpisahannya dengan S dan BI. “Saya turun di sini.”

S: “Benar apa yang dikatakan Ibu ini,” ujar S dengan seyum puas. “Saya sepuluh meter di depan. Tepat di depan kafe, Pak.”

BI: “Baiklah. Tetapi tunggu. Bagaimana saya harus bersikap di hadapan orang lain?”

S: “Setidaknya anda tidak menganggap orang lain sebagai objek–batu, kursi, atau pelek motor.”

BI: “Lalu, apa artinya orang lain yang suka menghakimi kita?”

S: “Kita tidak perlu besi panas yang membara untuk membakar seperti dongeng nenek-nenek tua belaka, atau tentang kamar-kamar siksaan tempat orang-orang berdosa. Neraka adalah orang lain,” tutup S sembari turun dari bentor. “Ambil saja kembaliannya.”

BI: “Terima kasih, Pak.”

(Visited 225 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan