Ngopi di Beranda Bersama Yedi Mamonto

0 977

BERANDAKOTA—Tertawa adalah salah satu kesenangan hidup yang tidak berbahaya, bukan? Tapi mengapa Para pemikir dari jaman dahulu hingga hari ini sangat curiga terhadap tawa.

Platon berpendapat bahwa warga polis tidak boleh terlibat dalam komedi, atau jangan terlalu banyak terlibat komodi. Epictetus tidak pernah tertawa sama sekali. Hobbes, satu setengah milenium kemudian, mengatakan bahwa banyak tertawa adalah “tanda kebencian”. Mengapa?

Barangkali tertawa adalah tanda manusia melupakan masalah penting dalam hidupnya. Mereka yang banyak berpikir kadang terlalu serius dalam hidup, sehingga jangan heran, para filsuf seperti mengutuk mereka yang tertawa.

Ngopi di Beranda kali ini mengundang seorang seniman, komedian, dan musisi dari band Beranda Rumah Mangga asal Bolaang Mongondow yang terkenal itu, Yedi Mamonto.

Ia adalah semacam perwujudan dari manusia yang melampaui hidup dengan menertawakan hidup. Tak hanya itu, ia membagi tawanya dengan banyak orang meski tanpa bicara, tanpa kata-kata. Orang bisa tertawa meski hanya melihat wajahnya.

Apakah wajahnya aneh? Tidak juga. Ia gagah nan rupawan menurutnya, dan kami Berandakota sepakat meskipun sebenarnya forum tidak kuorum. Dan seperti itulah Yedi, sosok sanguinis dengan berkah bakat yang berlimpah. meski begitu, Yedi juga manusia. “Punya rasa, punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati”.

Berikut petikan bincang-bincang Berandakota bersama Yedi Mamonto.

Apa kabar, bung Yedi, sehat?

Aman. Alhamdulillah. Kalau sakit saya tidak datang. (Tertawa)

Siap. Selain sibuk manggung bersama Braga, kesibukan hari-harinya apa?

Mengajar. Di dunia maya saya komedian dan tiktokers, di dunia nyata saya guru, Pahlawan tanpa tanda jasa.

Sedap. Mengajar di sekolah mana?

Di SMA 2 Kotamobagu.

Sepertinya anda memilih sekolah itu punya motif lain (?)

Tidak juga. (Tertawa). Sudah dua tahun saya mengajar di sekolah itu. Sebelumnya memang sudah mengajar di beberapa sekolah di Bolaang Mongondow Timur sebelum pindah di SMA 2.

Mengajar mata pelajaran apa di SMA 2?

Geografi. Saya mengajar gempa.

Pantas anda kelihatan sedikit oleng malam ini.

Ya, banyak terjadi gempa di dunia. Dan tidak hanya siang, malam juga. Bahkan lebih sering (Tertawa)

Mengapa anda memilih jurusan Geografi?

Sebenarnya saya terinspirasi dari guru Geografi saya di SMA. Guru yang keras kepada saya. Guru yang tak lelah memberi nasihat kepada saya. Saya ini sering bolos di sekolah, suka baku hantam pula. Jadi saya mengikuti jejaknya, dan sedikit banyak dia telah mengubah hidup saya. Entah mengapa, saya terinspirasi dari beliau. Mungkin ini karma (Tertawa)

Keinginan anda memilih jurusan itu berarti sudah sepaket dengan anda memilih menjadi guru?

Iya, mengajar adalah panggilan jiwa saya. Anda tahu, saya juga mengajar paket C. Orang-orang tua. Memang ada perbedaan. Kalau SMA kondisi belajarnya masih agak fokus, tapi paket C biasa fokus mereka pecah. Soalnya, sambil belajar mereka berpikir suami dan anak di rumah. Tapi begitulah, pendidikan harus tetap jalan.

Luar biasa. Kopi dulu Bung Yed. Jadi passion anda ini bisa dikatakan ada dua, band dan mengajar?

Memang kalau di band saya totalitas. Itu hidup saya. Tapi tetap mengajar juga karena itu bentuk tanggung jawab.

Bagaimana jika kelak Braga menjadi besar, sangat besar, apakah anda masih akan mengajar?

Kalaupun Braga menjadi besar, saya pikir tetap ada celah dan kesempatan untuk saya mengajar. Begini, yang penting itu saya tersalur…

Itu apa? Libido?

Bukan, tanggung jawab saya mengajar. (Tertawa)

Nah, kami penasaran. Bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas sewaktu anda mengajar? Anda ini kan bisa dikatakan pembawa tawa dimana pun. Meski tidak melucu, orang bisa tertawa melihat rupa anda.

Ya, sosok saya di luar sekolah menjadi salah satu strategi dan metode saya mengajar di kelas. Saya bilang ke anak-anak misal kalau mengajar tiga jam, satu jam memberi materi, satu jam menjelaskan, dan satu jam lagi melucu. Jadi anak-anak meskipun bosan di kelas, atau bosan mendengar materi, mereka tidak akan bolos atau izin ke kantin, tapi menantikan jam melucu saya di jam terakhir.

Betapa kreatif anda. Tapi bukankah mereka pada akhirnya lebih suka anda melucu daripada anda mengajar?

Tidak apa-apa. Setidaknya mereka ada di dalam kelas. Sedikit banyak tetap ada pelajaran yang singga di kepala mereka. Melucu itu bonus sebenarnya.

Betul. Anda luar biasa. Di luar maupun di dalam. 

Cantik di luar, cantik di dalam. Inner beauty dank? (Tertawa)

Jadi anda teringat dosa-dosa anda di masa lalu?

Bisa dibilang begitu. Dan masa lalu itu saya anggap sebagai pembelajaran. Dan banyak hal yang saya petik dari situ.

Nah, bagaimana dengan efek film pendek Dilan Katege pada anda sebagai guru, kita tahu dulu film itu meledak dan dibicarakan di mana-mana?

Ya, itu jadi semacam ujian mental bagi saya setelah film Dilan Katege 1990 diluncurkan. Saya masih ingat pagi itu, saya disambut oleh ribuan siswa yang berjejeran di semua sudut sekolah. “Sapi…sapi…,” teriak mereka “pamping pa sapi”. Perasaan saya waktu itu memang agak terganggu. Saya guru di sekolah itu. Artinya, saya tak lagi melihat batas yang jelas antara saya sebagai guru dan siswa sebagai anak didik. Dan apakah saya harus memarahi atau menegur mereka satu-persatu? Tidak mungkin, kan? Energi saya bisa habis. Bisa mati saya. Setelah itu saya masuk kelas, saya kembali mendengar kata sapi terlontar dari mulut salah satu siswa, saya hanya menjawab, “kamu pernah lihat sapi ganteng seperti ini?” (Tertawa)

Seperti apa respon siswa-siswa tersebut?

Pecah suara tawa di kelas. Semua tertawa. Dan saya bilang ke mereka, mulai sekarang sapi yang akan mengajar pada kalian. Mudah-mudahan kelak kalian jadi sapi, tapi jadi sapi versi pak guru.

Anda bukan tipe guru mososambok (gemar memukul siswa) kan?

Tidak. (Tertawa). Tapi melihat kenakalan siswa di sekolah, saya jadi merenung, ternyata begini perasaan guru menghadapi siswa nakal. Dulu semenjak saya masih sekolah, saya dikenal siswa nakal. Sering melawan guru. Ternyata begini. Tapi saya orangnya tidak tegaan. Saya tidak ingin menghakimi atau memukul siswa. Siapa yang tahu ke depannya mereka akan jadi apa. Iya, kan?

Dalam sekali respon anda. Ternyata, di balik sikap anda yang ceria dan humoris gila ini, anda orang sabar dan bijaksana.

Biasa aja. Begitulah menjadi seorang Yedi. Jadi sekarang saya selalu bilang ke siswa-siswa saya bahwa kalau di dalam kelas, saya guru. Kalau di luar kelas, anggap saya sebagai teman kalian.

Seperti apa anda di mata sesama guru di sekolah, pernah tidak mereka menegur, Yedi, jangan terus bercanda, atau kurangi sedikit main-main Tiktok?

Tidak sih, mereka terhibur dengan saya. Malah kamera vidio mereka sering on kalau lagi bersama. Muka saya adalah konten bernilai untuk story Whatsapp dan Instagram mereka.

Memang anda ini natural dalam menghibur. Terlihat dari wajah ganteng anda. Apakah di rumah anda juga sering melucu?

Di manapun. Di rumah, di sekolah, di bonok-bonok le (di semak-semak).

Anda ada berapa bersaudara?

Kami ada tiga. Saya anak kedua. Yang tertua laki-laki, yang bungsu perempuan.

Anda ini berangkat dari latar belakang keluarga seperti apa?

Entahlah. Dibilang tidak berkecukupan saya masih bahagia, dibilang cukup rokok cabu-cabu cina. Begini, ayah saya adalah penjual es keliling. Sudah hampir 30 tahun beliau berdagang itu. Prinsipnya, ia akan menyekolahkan anak-anaknya dengan hasil berjualan es. Hasilnya, saya dan adik perempuan saya bisa menyelesaikan kuliah. Pernah buka warung juga di rumah, tapi dijarah. Kami rugi besar. Dan nasib buruk itu bertepatan di saat kami ada dalam fase krisis. Bajingan. Saya bahkan waktu itu hampir dipindahkan di sekolah lain, karena kelakuan saya yang tak jelas ditambah keadaan orang tua yang susah. Sampai harus menjual kebun untuk menaggulangi kami.

Jadi pernah bantu orang tua jualan es?

Pernah. Waktu SMP. Saya jualan sampai di Kotamobagu. Upah jualan saya uang logam, seribu sampai dua ribuan. Itu banyak. Main PS puas. Pernah juga karena keinginan saya untuk dapat uang lebih, saya ikut mobil kanvas menjajakan sayur dan rempah di kampung-kampung di daerah Boltim. “Tomat..tomat, bawang, rica!,” Begitu teriak saya di mobil kanvas itu.

Berarti anda tidak masuk sekolah saat ikut mobil kanvas?

Iya. Saya ikut mobil kanvas itu masih dengan baju seragam setelah pulang sekolah. Pagi sebelum pergi ke sekolah, saya persiapkan pakaian untuk ikut mobil itu selama seminggu. Memang saya sudah berniat. Akhirnya saya tiga kali dapat panggilan orang tua dari sekolah. Ketika ada panggilan orang tua, saya kadang meyewa tukang bentor untuk menghadap guru saya, dan saya bilang ini om saya. Itu karena sudah takut bilang ke orang tua. Ban bisa Kembali melingkar di pinggang, tapi dengan cara yang tidak diharapkan. (Tertawa)

Bukan main. Nah, jadi anda satu minggu tidak pulang demi ikut mobil kanvas?

Iya. Orang tua saya tidak tahu pergi ke mana saya selama seminggu. Pergi dari rumah pakai seragam, balik rumah pakai baju biasa.  Sebagai anak kecil yang gaul and funky, saya juga punya kebutuhan. Ikut mobil kanvas adalah salah satu cara mendapatkan berkah melimpah.

Masa kecil anda ini berarti tidak hanya sengsara, tapi nakal juga, ya?

Begitulah. Jujur, dulu saya pernah mencuri coklat di salah satu supermarket. Saya bahkan pernah ditikam orang. Dua kali gaess. Yang pertama ditikam waktu saya di kampung, tikaman yang satunya lagi waktu saya di Manado, itu di pinggang. Bekasnya masih ada.

Gelap betul masa lalu anda. 

Bisa dibilang Pungit. 

Saat itu, apakah anda sudah mulai aktif dengan band?

Iya, sudah. Tapi masih ecek-ecek selera musiknya. Waktu itu lagi senang dengan band-band yang cengeng. ST12, Kangen Band, Ungu dan lain-lain. Nama band-nya Logistik. (tertawa)

Berarti gaya rambut Andika Kangen Band pernah bertahta di kepala anda?

Pernah. (Tertawa). Bayangkan muka saya ini dengan gaya rambut Sasuke kearifan lokal. Bajingan, ganteng sekali.

Iya sih, ganteng betul, apalagi sharingan anda terlihat sudah aktif, daunnya tiga helai. Mokolabot. Apakah ada persoalan hati yang kandas di balik cerita-cerita kelam anda ini?

Iya, ada. Itu sedikit banyak membuat saya seperti kehilangan orientasi. Saya jadi pemabuk. Lepas dengannya, seolah saya tak ingin hidup lagi. Dulu, saya merasa hanya dia satu-satunya orang yang bisa memahami dan menerima saya apa adanya. Sembilan tahun saya pacaran dengannya. Dia tahu semua jenis kenakalan saya, dan dia menetap. Tak pergi. Saya menjalani hubungan dengannya dari kelas satu SMA dan kandas ketika saya hampir selesai kuliah. Mental saya serasa hancur. Bahkan, dua tikaman yang saya alami itu masih rangkaian dari kejatuhan mental saya kala itu. Pernah juga mengurung diri selama empat hari di kamar. Makanan hanya diselipkan oleh adik saya lewat ventilasi kamar. Hari ke tiga adik saya berkata dari balik pintu “Yedi makang jo, kong jangan bagantong au a”. saya balas berteriak: “nyandak sapa bagantong, napa samantara ba campur (mencampur minuman keras).

Duh, Masa lalu anda yang kandas itu apakah ada orang ketiga yang menikung anda?

Iya, karena itu. Memang saya hancur. Selain itu, orang tuanya tidak suka dengan saya. Saya ini anak nakal, kata mereka, tiada masa depan. Tiada harapan.

Bagaimana kabar mantan kekasih anda itu sekarang?

Dia sudah Menikah. Dan saya sudah ganteng. (Tertawa)

Sekarang anda sudah punya pacar?

Sudah punya. Pacar terindah pokoknya.

Sepertinya dia sangat beryukur bertemu dengan anda sekarang karena sudah ganteng.

Pokoknya terbaik. Dia bisa menerima masa lalu saya. Dia menerima saya apa adanya. Namun selalu saya bilang, saya seorang seniman, seorang musisi. Saya selalu bertemu banyak orang di luar. Dan syukurlah, dia memahami posisi saya.

Apakah pacar yang sekarang sudah diproyeksikan untuk menjadi istri? Menikah?

Iya, yang ini for kaweng. 

Jawaban ini akan menutup kemungkinan-kemungkinan lain untuk  adew-adew dan Fans yang diam-diam ingin menjalin hubungan dengan anda. Yakin tidak ingin mengganti jawaban?

Ok, Jika berjodoh, mungkin akan menikah (Tertawa)

Wah, bahaya. Akan ada klarifikasi panjang soal ini nanti.

(Tertawa) pacar saya tahu saya suka bergurau. Insyaallah jika tabungan segera cukup. Gaskeun. 

Nah, kita balik lagi ke sosok anda sebagai Yedi yang dikenal khalayak ramai bertipe orang ceria dan humoris; anda bisa menghibur orang di manapun dan kapanpun. Tapi bagaimana anda ketika sedih, siapa yang menghibur anda?

Itu masalah saya sekarang. Orang selalu bilang ke saya bahwa saya tak pernah galau. Di satu sisi, itu membuat saya merasa bahwa takdir saya semata untuk menghibur orang, saya tak boleh sedih. Ini seperti rantai dalam diri saya sendiri. Tapi anda tahu, saya masih manusia. Saya masih punya air mata. Saya bahkan pernah menangis sendirian. Dan tidak mungkin saya membuat video saya menangis untuk di sebar ke medsos. Bukan empati barangkali yang muncul dari orang-orang. Saya mungkin akan ditertawakan dan dihina. “Co lia pa Yedi, Prodia so tolak”

Merokok dulu. Tarik napas panjang. Hati anda sekarang seperti gerimis di luar. Tanpa angin.

Kadang juga saat saya sedih, saya bikin lagu. Lagu khusus untuk saya sendiri. Untuk luka saya sendiri. Lagu-lagu sendu, salah satunya berjudul Bukan Untuku.

Sebentar. Anda sekarang serius atau melawak?

Serius.

Ok. Kita melawak dulu. Kapan pertama kali Braga manggung dan dibayar?

Pertama kali itu kalau tidak salah acara rokok.

Rokok Criystal?

Bukan, Apache. (Tertawa) Ya meskipun kecil, setidaknya untuk uang bensin dan rokok. Ada juga sesekali cuma diberi makan. Selesai itu disuru pulang. Sebenarnya Kerjasama awal kami terjalin Bersama Kedai Kampoeng Bogani. Sampai tercipta lagu: Di Kedai Ini. Alhamdulillah, hubungan kami masih baik hingga kini, meskipun kami sudah tidak sering manggung ditempat itu. Sekarang kami lebih sering tampil di Kopi Cup. owner-nya, Ko Josh mensupport Braga dengan sangat totalitas.

Tapi sekarang sudah lumayan lah, karena Braga sudah cukup dikenal di mana-mana. Nah, apa harapan anda ke depan untuk Beraga? Yang pasti bukan bubar dalam waktu dekat kan?

(Tertawa) Wah, Omnibus law sudah diketuk, tidak ada SP, saya langsung dipecat oleh personil lain jika mengamini Braga bubar. Saya ingin membesarkan Braga. Braga itu rumah bagi saya. Di mana pun saya pergi, saya pulang lagi ke rumah itu.

Tidak tertarik mengikuti audisi idola cilik atau Indonesian Idol?

Idola cilik, tidak, karena saya sudah besar. (Tertawa) saya memilih berproses dan sukses bersama Braga meski hanya di Bolaang Mongondow, daripada sukses sendirian di Ibukota. Itu sikap saya. Bagi saya, Braga segalanya.

Terkhir. Ada hal yang sebenarnya membuat orang penasaran tentang anda. Anda ini kan membawakan peran baik sebagai ayah Dilan dalam film Dilan Katege dan peran sebagai sosok Lengkebong. Sedangkan di Braga, anda menyanyikan lagu-lagu serius dan sendu, kontras dengan peran konyol anda di film-film pendek yang anda bintangi. Bagaimana anda membawakan dua situasi yang kontras itu?

Saya merasa tak ada yang aneh sebenarnya. Dan saya bisa membawakan keduanya dengan tenang. Saya bisa sangat ekspresif menyanyikan lagu-lagu Braga dan bisa sangat konyol saat main di film pendek. Dan itu melahirkan peminatnya masing-masing. Braga ada pasar dan penggemarnya, dan Lengkebong juga demikian. Orang bebas menafsir diri saya sesuai keinginan mereka. Selama itu bisa membuat mereka terhibur. Entah ketika mendengarkan lagu braga, atau menonton komedi ala braga indie project.

Terima kasih bung Yedi atas waktu dan kesemptanya. Sukses buat Anda, sukses pula buat Beranda Rumah Mangga. Band andalan naton komintan. Semoga bisa terus menghibur masyarakat Bolaang Mongondow raya, bahkan Indonesia Raya.

Sama-sama. Amin. Sukses juga untuk Berandakota. Jangan lupa Braga akan merilis single terbaru berjudul Kau, hari ini di yutube channel Beranda Rumah Mangga.

 

 

 

(Visited 60 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan