Bayu Moha: Bahagia, Jatuh, dan Lahir Kembali

0 2.569

“Di mana ada kehidupan, di situ ada harapan.”

Kira-kira begitulah ungkapan yang pernah didengungkan Marcus Tullius Cicero, seorang tokoh akbar Filsafat Stoa dan negarawan di era kejayaan Republik Romawi. Adagium ini tentu memiliki makna filosofis yang sangat dalam jika kita merenunginya dengan saksama. Cicero ingin menegaskan bahwa selama manusia masih memiliki napas, maka manusia harus selalu berkehendak, karena hidup sejatinya adalah keberdayaan. Sedangkan harapan akan selalu ada sebagai konsekuensi abstrak perjalanan ide manusia. Hidup dalam harapan dan harapan dalam hidup adalah dua hal yang mutlak berbeda. Yang pertama menempatkan manusia pada kondisi pasrah dan yang lain adalah sebuah upaya.

Manusia tidak pernah lepas dari problematika hidup. Entah itu problem dalam kehidupan pribadi, relasi, pekerjaan hingga problem spiritualitas. Di antara banyak problem itu, manusia merespons setiap persoalan dengan berbeda-beda cara. Hasilnya pun tentu berbeda. Ada yang menemukan solusi kemudian bangkit menjadi lebih kuat dan sebagian lagi pasrah dan tunduk pada keadaan.

Apakah hidup itu kejam? Jawabannya tentu tidak. Semua tergantung dari cara kita menjalaninya. Atau lebih tepatnya, seperti apa kita merencanakan dan mempersiapkan hidup kita di kemudian hari. Menjalani hidup yang dilingkupi misteri tentu membutuhkan kepekaan dalam membaca tanda-tanda zaman serta responsif terhadap keadaan sekitar, hingga pada akhirnya, setiap masalah yang muncul hanyalah tantangan yang harus dijawab sebagai konsekuensi logis dari fragmen hidup itu sendiri. Hidup adalah perang yang harus selalu dimenangkan.

Saat remaja, jaya, dan berbahaya, Bayu mungkin tak pernah berdialog dengan dirinya sendiri tentang masa depan. Bertanya apakah kelak nasib mengasuhnya dengan hangat seperti dekapan sang bunda? Atau menyelesaikan banyak pekerjaan hanya dengan menjentikkan jari? Bayu kecil tak pernah memperkirakan seperti apa hidup menempanya sapuluh tahun kemudian.

Malam itu selepas salat Isya, kabut mulai turun dan dingin perlahan menyusup ke dalam pori-pori. Di pelataran saungnya yang sederhana di Desa Bakan, kami duduk bersama menghadap kolam ikan. Hujan baru saja reda. Saya menyalakan rokok dan memperbaiki posisi duduk. “Bisa kita mulai?” Asap, kabut dan kopi pun menemani cerita panjang perjalanan hidup anak mantan orang nomor satu di Bolaang Mongondow Raya saat itu.

Berikut bincang-bincang Chef Berandakota Shandry Anugerah dengan Mohammad Maulana Bayu Moha.

 

Apa kabar Bro Bayu?

Ya, alhamdulilah sehat walafiat.

Selamat, beberapa waktu lalu anda baru saja dilantik sebagai Kepala Bagian Ekonomi dan SDA Pemkab Bolmong. Tentu ini menjadi tanggung jawab besar bagi anda.

Terima kasih bro, sebagai ASN tentu saya harus siap dan patuh mengemban tanggung jawab yang diberikan oleh pimpinan. Saya harus cepat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan tim kerja yang baru.

Bagaimana perasaan anda menjadi Kabag di usia yang masih sangat muda?

Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Usia sebenarnya bukan ukuran, tetapi bagaimana mengimplementasikan ide maupun gagasan kita demi kemajuan daerah. Intinya bekerja dengan target dan bekerja dengan sepenuh hati.

Apa kesibukan selain ASN?

Alhamdulillah sekarang sedang membagi waktu mengolah lahan milik keluarga. Kecil-kecilan, menanam cabe dan jagung.

Sejak kapan mulai berkebun?

Sejak 2018. Kebetulan ada lahan kecil milik keluarga yang lama terbengkalai dan menjadi lahan tidur. Lahan itu yang saya garap kembali bersama pacar saat itu. Kini sudah menjadi istri (Tertawa). Alhamdulillah, sedikit-sedikit sudah memberi hasil.

Cukup serius juga, karena aktivitas ini sudah berlangsung selama tiga tahun.

Harus serius, bro. bahkan saya turun langsung mengurusi beberapa hal teknis. Seperti menyiapkan bedengan, menyemai bibit dan pemupukan serta pengendalian hama.

Menarik, karena stereotipe sebagai anak pejabat tentu jauh dari kerja kasar seperti itu. Bisa ceritakan pengalaman anda selama berkebun, bro?

Terus terang, saya tidak pernah memiliki pengalaman bertani atau berkebun sebelumya. Tetapi kebetulan di Desa Bakan saat itu ada orang kepercayaan Bunda (MMS) yang membantu sekaligus menjadi guru dalam bertani. Saat itu saya mulai belajar cara mengoperasikan cultivator, mesin semprot dan macam-macam alat pertanian lainnya. Yah, hitung-hitung olahraga lah. Biar badan ini masih berkeringat dan tetap sehat. Begitu pula saat menyemai bibit cabe. Setiap akhir pekan saya dan istri bahkan sering bekerja hingga larut malam karena ada ribuan bibit yang harus ditanam satu per satu dalam pot semai. Itu pengalaman yang luar biasa. Makan dari keringat sendiri. Alhamdulillah, Tuhan kaya rezeki.

Ada barapa banyak aset keluarga yang anda Kelola?

Hanya beberapa. Sepetak kebun, usaha futsal, radio dan pesantren. Selain itu mengurusi kebutuhan di rumah Bunda, rumah kakak (ADM) dan rumah saya sendiri tentunya.

Anda mengurusi semua itu sendirian?

Bersama istri, Bro. ini kewajiban. Apalagi dalam keluarga, untuk saat ini hanya saya yang bisa mengurusi itu semua. Bro tahu kan kondisi Bunda dan ADM. Siapa lagi yang bisa diharapkan selain saya?

Berat untuk seorang Bayu?

(Tertawa) berat, bro. Tetapi begitulah hidup. Ini yang membuat saya kuat. Memastikan Bunda dan ADM fokus menjalani proses hukum. Urusan di luar biar saya yang pasang dada.

Anda mengalami banyak sekali perubahan sekarang. Tidak seperti Bayu yang dulu saya kenal ketika sekolah. Apakah kejadian yang menimpa Bunda dan ADM yang yang melatarbelakangi perubahan ini?

(Tertawa) ini siklus hidup biasa bro.

Anda yakin ini siklus hidup biasa? Tidak ada triger yang menyebabkan anda kembali mengeja prinsip-prinsi dasar dalam hidup?

Yah, tentu ada faktor yang mempengaruhi. Salah satunya kejadian itu.

Selalu ada hikmah di balik kejadian yang menimpa kita. Minimal lewat kejadian itu kita belajar untuk menjalani hidup dengan baik.

Yah, seperti itu bro. Kejadian yang menimpa Bunda dan ADM terjadi berturut-turut pada 2017. Hanya selisih lima bulan saja. Pukulan telak bagi keluarga besar, terutama bagi saya. Tiba-tiba saya merasa sendirian, bingung harus berbuat apa.

Apa yang anda lakukan saat itu?

Berdoa. Berdoa agar diberikan kekuatan untuk menghadapi cobaan yang begitu berat ini. Kehilangan sosok ibu dan kakak yang juga pengganti peran seorang ayah selama ini. Alhamdulillah perlahan-lahan saya bisa menyesuaikan diri dengan kondisi saat itu. Meskipun berat, karena satu per satu orang yang selama ini ada di sekitar mulai menghilang. Hanya keluarga dekat dan istri saya yang setia memberikan dorongan dan kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Memulai hidup baru dan beradaptasi dengan situasi.

Anda merasa ditinggalkan?

Ya, saya ditinggalkan. Namun itu yang membuat saya akhirnya bisa mandiri seperti saat ini. Mampu mengurusi semua urusan yang menjadi tanggung jawab saya sebagai seorang anak, adik, suami dan sebagai seorang abdi negara.

Seberapa besar peran istri anda dalam proses perjalanan hidup hingga hari ini?

Besar sekali. Vissie adalah sosok guardian angel bagi saya. Tanpa dia, mungkin saat ini saya masih terpuruk atau mungkin telah berada di jalur yang salah. Dia setia mendampingi meski saat itu ia masih berstatus pacar. Di saat situasi buruk, ia bisa saja pergi. Tetapi hal itu tidak terjadi. Ia adalah gambaran saya tentang sebuah kesetiaan. Sampai akhirnya kami menikah, dan ia tetap menjadi sosok yang sama. Penyeimbang dalam hidup. Teman berbagi cerita dan tempat meminta pertimbangan. Dia juga selalu memotivasi agar bangkit dan membuktikan pada orang-orang bahwa saya bukan anak manja yang hanya bisa bersembunyi di balik nama besar orang tua.

Menarik sekali perjalanan hidup anda. Saya bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Ada perbedaan yang tajam antara anda sekarang dan anda yang dulu. Dan saya yakin kesuksesan akan selalu menyertai orang-orang yang menolak tunduk pada keadaan.

Amin. Tuhan itu baik.

Ok, apa program prioritas anda saat ini di Bidang Ekonomi dan SDA Bolaang Mongondow (Bolmong)?

Saat ini kami sedang mempersiapkan program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) kerjasama antara pemda dan OJK terkait bantuan-bantuan perbankan yang akan turun ke masyarakat tani, terutama petani jagung dan petani sawah. Insyaallah dalam waktu dekat sudah bisa dinikmati masyarakat Bolmong.

Siapa sosok inspirasi anda sebagai seorang ASN?

Ada tiga orang yang menjadi mentor, serta inspirasi bagi saya. Kebetulan ketiganya sudah tidak asing bagi saya. Yakni Sekda Bolmong saat ini, Bapak Tahlis Gallang, Kepala Bappeda Bolmong, Bapak Taufik Mokoginta, dan Asisten III Bapak Ashari Sugeha. Mereka senantiasa memberi wejangan dan nasihat kepada saya dalam dunia kepemerintahan. Saya juga sering berdiskusi dengan ASN muda di lingkungan Pemda Bolmong terkait terobosan-terobosan program daerah yang lebih modern. Ilmu yang saya dapat kemudian dikolaborasikan dalam tugas sehari-hari.

Apa nasihat Bunda MMS kepada anda ketika mengemban jabatan sekarang ini?

Nasihat Bunda untuk saya agar selalu memberikan yang terbaik dalam tugas. Kemudian Bunda juga berpesan akan pentingnya loyalitas kepada atasan.

Apa persamaan Bunda MMS dan Bupati Yasti Soepredjo Mokoagow?

Komitmen yang kuat. Ketika bicara kepentingan masyarakat dan daerah, tidak ada tawar-menawar. Beliau berdua adalah sosok yang tegas namun dicintai banyak orang.

Bagaimana kabar ADM saat ini? Sering berkomunikasi?

Alhamdulillah sehat. Biasanya dalam setahun saya dan istri dua sampai tiga kali menjenguk kakak. Meminta nasihat sekaligus melepas rindu.

Apa pesan-pesan ADM kepada anda? Tentu ia sangat bangga melihat adiknya sekarang mengalami banyak perubahan.

ADM selalu berpesan agar menjaga nama baik keluarga, melatih dan mulai memantaskan diri menjadi seorang pemimpin baik itu dalam keluarga maupun dalam pekerjaan.

Apa cita-cita besar anda?

Membawa Persibom kembali berjaya. Dulu, Persibom bukan hanya sebuah klub sepak bola. Tetapi menjadi identitas dan kebanggaan bagi masyarakat BMR. Jika saya memiliki kesempatan untuk mengelola Persibom, kesempatan itu tidak akan saya sia-siakan. Itu cita-cita saya. Bagaimanapun juga Persibom sudah menjadi marwah dari masyarakat Bolmong Raya. Saya mencintai olahraga itu. Sepakbola bisa menjadi media pemersatu dan hiburan bagi masyarakat. Insyaallah suatu saat nanti kesempatan itu akan datang.

Semoga cita-cita dan segala harapan bisa terwujud. Selamat karena telah dilahirkan kembali, bro. Sampaikan salam hormat kepada Bunda MMS dan Bung ADM. Semoga mereka senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan oleh Allah SWT.

Amin. Sukur moanto (terima kasih) Bro. Sukses untuk Berandakota.

 

Keterangan :

MMS: Marlina Moha-Siahaan

ADM: Aditya Didi Moha

(Visited 2.274 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan