Melukis di Kanvas Octagon dengan Darah

0 1.638

Lingkungan yang keras dapat membentuk mental seseorang. Nate Diaz mengakuinya sebelum ia menjadi petarung UFC yang mencatat rekor 20-12 MMA, 15-10 UFC. Sejak kecil, Diaz tinggal di sebuah rumah kecil satu lantai di Lodi, tepat di utara Stockton. Setiap harinya, ia selalu melihat perkelahian di mana-mana. “Jika seseorang terlibat sedikit saja masalah dengan orang lain, maka pasti akan terjadi baku hantam. Anda akan melihat perkelahian sepanjang waktu,” kata Diaz, seperti dikutip dari eespn.com.

Ketika Nate Diaz memukul McGregor dengan telapak tangan terbuka selama pertarungan pertama mereka, internet langsung mengaitkannya dengan Stockton slap, cara menampar orang-orang Stockton yang terkenal tanpa ampun.

Windri Patilima memulai kisahnya serupa kisah Nate Diaz, berangkat dari latar belakang yang keras dan penuh adu jotos. Windri berasal dari Desa Bilalang, Kotamobagu Utara, tetapi Bilalang tahun 2000-an. “Kelahi ada di mana-mana,” katanya sambil mengenang. Sesekali ia pulang ke rumah dengan keadaan wajah bonyok dan memar.

Saat ini, ia merintis usaha Citawaya Boxing Camp di Totabuan Citawaya Fighting Camp Kotamobagu, tempat yang cocok bagi siapa saja yang tertarik dengan bela diri atau sekadar ingin menjaga kebugaran dan mengatur berat badan. “Lelaki tanpa luka adalah lelaki tanpa cerita,” demikian ia menyimpulkan perjalanannya.

Berikut adalah bincang-bincang Berandakota dengan Windri Patilima.

 

Windri Patilima

 

Apa kabar, Bung Windri?

Alhamdulillah, segar bugar.

Sesuai dengan jadwal yang sudah dirilis oleh One Pride MMA, minggu ini di kelas welterweight, Anda akan beradu teknik dengan Sarwo Edhi. Seperti apa persiapan Anda?

Persiapan sudah sangat matang.  Apalagi saya memiliki waktu recovery yang cukup panjang, sehingga persiapan juga dilakukan sejak jauh-jauh hari.

Hampir setahun Anda tidak bertanding, apakah tidak mempengaruhi mental bertanding Anda, Bung?

Sama sekali tidak. Karena selama sepuluh bulan ini selain terus melatih dan mengasah teknik bertanding, saya juga rutin melakukan sparring agar timing dan insting tetap terjaga. Saya merasa pertandingan kali ini akan menjadi penampilan terbaik saya. Saya siap meledak di octagon.

Ceritakan perjalanan hidup Anda sebelum berkarir sebagai seorang fighter.

Saya tinggal di lingkungan yang cukup keras sejak kecil. Siapa yang tidak kenal kehidupan di Bilalang saat 2000-an awal? Lingkungan itu kemudian yang membentuk mental saya di jalanan. Bukan sekali dua kali saya pulang dengan wajah berlumur darah atau sekadar lebam karena kelahi di lapangan atau di sekolah. Kondisi ini diperparah dengan meninggalnya ayah saya. Sebagai seorang anak lelaki satu-satunya, beban tanggung jawab saya pikul sejak di bangku SMP.

Apa yang Anda lakukan saat itu?

Bekerja. Saya mulai bekerja di toko bangunan dan toko bahan pokok. Pokoknya kerja kasar seperti mengangkat barang. Pagi saya bersekolah, siang berangkat kerja di toko dan menjelang malam berlatih silat dengan senior saya, Jubair Tuto Manangin.

Masa kecil Anda cukup keras rupanya.

Bisa dibilang begitu. Saya harus menghasilkan uang. Membantu ekonomi keluarga. Saya kerja kasar hingga 2018. Terakhir saya bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang listrik. Saya bertugas memasang tiang listrik dan kabel. Bahkan pada 2019, di sela waktu senggang jika belum ada jadwal tanding, saya masih menekuni pekerjaan itu. Yang penting menghasilkan uang dan halal.

Kenapa memilih silat?

Saat itu, ada perguruan silat di kampung saya yang rutin latihan. Sebagai anak dari desa, berlatih silat adalah kemewahan. Selain menjaga fisik tetap bugar, saya juga bisa membela diri ketika ada ancaman dari luar. Pada akhirnya silat mengubah pandangan saya tentang emosi dan berkelahi. Bela diri bukan untuk melakukan kekerasan pada orang lain, tetapi untuk melindungi diri ketika ada ancaman. Dulu saya sering bermain sepak bola. Itu hobi saya yang sebenarnya. Posisi saya penjaga gawang. Namun karena persaingan ketat, lebih baik menseriusi silat. Alhamdulillah beberapa kali mewakili Kota Kotamobagu di berbagai ajang pencak silat.

Bagimana Anda bisa masuk One Pride MMA ?

Waktu itu One Pride membuka audisi di Sulawesi Utara. Saya ikut dan menjadi satu-satunya peserta yang meraih grade A.

Bisa dibilang Anda menikmati rasa sakit, sebagai sebuah konsekuensi logis ketika beradu pukul dalam arena. Seperti apa Anda memandang olahraga ini ?

MMA berbeda dengan pertarungan jalanan yang brutal dan tanpa aturan. MMA cenderung lebih aman, karena kami dilengkapi dengan gloves dan pelindung alat vital. Disamping itu ada wasit yang senantiasa sigap mengontrol jalannya pertandingan. Jika fighter berada dalam kondisi berbahaya, wasit akan langsung menghentikan pertandingan. Kami juga dilindungi oleh asuransi. Soal rasa sakit, saya sudah sering mengalaminya. Bedanya, kali ini dalam arena profesional One Pride. Saya menikmati olahraga ini. Rasa sakitnya berbanding dengan kebanggaan dan prestasi yang bisa kita raih.

Seperti apa cara mengubah gaya bertanding silat ke MMA?

Saat audisi saya giat berlatih bersama sahabat saya Andre Pakaryanto. Mencoba menyesuaikan gaya bertarung dengan gaya MMA. Melatih boxing, muay thai hingga gulat.

Siapa idola Anda?

Alwin Kincai (Tertawa). Dia petarung dengan mental luar biasa. Saya suka determinasinya, semangat juangnya. Saya mengidolakan Alwin, namun samua itu saya tanggalkan ketika berbagi octagon dengannya. Ada pekerjaan yang harus kita selesaikan selama tiga ronde. Setelah itu, saya kembali menjadi pengagumnya.

Untuk petarung luar?

Daniel Cormier (DC). Saya banyak mempelajari gaya bertarungnya. Kombinasi power dan fleksibilitas. Saya sangat menyukai pertarungan yang keras. DC punya kekuatan pukulan yang sangat luar biasa. Bisa dilihat dari rekor KO yang dia miliki. Petarung komplet, standing maupun ground. Bahkan seorang juara sejati seperti Khabib mengidolakan DC.

Selain sebagai Fighter MMA, apa kesibukan Anda?

Saya merintis usaha bersama kawan saya, Totabuan Citawaya Fighting Camp Kotamobagu. Kami membuka kelas regular dan privat. Materinya meliputi boxing, muay thai dan MMA. Camp ini cocok bagi siapa saja yang tertarik dengan bela diri atau sekadar ingin menjaga kebugaran dan mengatur berat badan.

Anda menangani langsung latihan di Citawaya Boxing Camp?

Iya, saya dibantu beberapa teman yang juga expert di bidang bela diri. Sehingga olahraga ini aman. Baik bagi pria maupun wanita.

Kembali ke pertandingan Anda, Sabtu ini. Bagaimana Anda melihat sang lawan, Sarwo Edhi?

Dia petarung yang gigih. Rekornya juga belum pernah terkalahkan. Tapi, semua itu bukan masalah. Saya suka tantangan.

Peluang Anda mendapatkan pertandingan perebutan sabuk juara dari Theo Ginting?

Pertandingan saya dan Sarwo Edi adalah contender fight. Jika saya menang, Theo adalah lawan saya selanjutnya. Perebutan sabuk juara.

Ada ketakutan melawan Theo?

Semua orang pasti memiliki rasa takut. Tapi ketika di octagon, rasa takut itu akan menjadi kekuatan yang sangat luar biasa.

Kenapa Anda memilih profesi yang berisiko seperti ini?

(Tertawa) Saya pikir, daripada saya berkelahi di jalanan, lebih baik saya memilih wadah yang bisa membuat bangga keluarga dan daerah tempat saya lahir, Kota Kotamobagu. Mengarahkan bakat pada hal yang positif tentu lebih baik daripada kita terjerumus pada hal-hal yang justru merugikan. Dan yang paling penting, saya meyakini bahwa lelaki tanpa luka adalah lelaki tanpa cerita.

Baik, Anda seorang fighter, bukan vokalis band aliran kopi senja. Semoga sukses Windri. Doa masyarakat Bolaang Mongondow Raya senantiasa menyertaimu.

Sukur moanto Berandakota. Sukses bersama.

(Visited 1.042 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan