Ngopi di Beranda Bersama Dita Avianti Soeratman

0 479

BERANDAKOTA— Kesadaran terhadap masalah pendidikan saat ini sudah jarang ditemui. Jarang, karena godaan sistem yang berorientasi profit demi kelangsungan tatanan kekuasaan. Masalah ini hanya mungkin dibongkar dengan melihat pertama-tama apa dan siapa siswa dalam sebuah sistem pendidikan.

Paulo Freire, filsuf pendidikan asal Brazil, melihat sistem pendidikan dengan kacamata demikian. Ia melihat pendidikan yang pernah ada dan mapan selama ini dapat diibaratkan sebagai sebuah “bank”. Dalam sistem ini, siswa atau anak didik adalah objek investasi dan sumber deposito peotensial. Mereka tidak berbeda dengan komoditas ekonomis lainnya yang lazim dikenal. Depositor atau investornya adalah para guru yang mewakili lembaga kemasyarakatan yang berkuasa, sementara depositonya berupa pengetahuan yang diajarkan kepada anak didik.

Oleh sebab itu, untuk mengatasi masalah ini, ia selalu mensyaratkan subjek yang sadar, atau seorang guru yang sadar akan penindasan yang bekerja di balik sistem yang ada. Sadar bahwa pendidikan semacam itu tidak dapat dianggap manusiawi. “Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar,” tulis Freire, “yakni pelaku yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindas.”

Seperti Freire, kita mendapatkan jawaban-jawaban serupa dari seorang model yang ternyata berprofesi tetap sebagai guru dalam wawancara Ngopi di Beranda kali ini. Namanya Dita Avianti Soeratman. Nama ini disodorkan oleh seorang sahabat yang bekerja sebagai fotografer ketika kami memintanya merekomendasikan nama model. Sebab, kami memang telah menjadwalkan profesi model sebagai tamu di rubrik Ngopi di Beranda minggu ini. Namun rencana itu berubah ketika kami memulai perbincangan dengan Dita.

Imajinasi awal kami, bincang-bincang santai ini akan menuntun kami berjalan pelan di tengah taman bunga, tertawa lepas di antara apitan melati dan mawar merah yang indah nan eksotis; menyejukan mata dan menyegarkan pikiran yang kusut karena menghadapi minggu yang lumayan berat. Namun yang terjadi justru antitesa dari apa yang kami bayangkan. Ia megajak kami berlari di jalanan bebatuan cadas, sembari menyaksikan parade kegagalan sebuah sistem pendidikan dalam membentuk karakter dan keperibadian anak. Pendidikan, layaknya sebuah pabrik yang menciptakan robot-robot bernama siswa, diprogram agar tunduk-patuh lewat narasi mencerdaskan kehidupan bangsa. Dita, Ia tidak mengajak kami berbincang, ia mengajak kami berpikir.

Tamu ini membuat kami penasaran, bagaimana model dan metode mendidik ala Dita dalam proses belajar mengajar di kelas dengan paradigma Freirean?

Dita Avianti Soeratman

Berikut wawancara Chef Berandakota dengan Dita Avianti Soeratman. 

Assalamualaikum, Dita Avianti, Apa Kabar ?

Waalaikum salaam, Baik, Alhamdulillah.

Punya sapaan karib ? Dita, Avi, ato cantik ?

Dita saja kak. Kalo cantik, itu sapaan untuk Dian Sastro. (Tertawa)

Ok, Dian..

Dita Kak.

Ok, Dita, Kesibukan sekarang apa ?

Sekarang sebagai Abdi Negara yang mengajar di SMP Lolak dan part time seniman.

Kalo sebagai seniman, concern-nya apa ?

Dita lulusan UNG jurusan seni, jadi berbagai aktivitas berkesenian Dita geluti, singing, acting, dancing, painting.

Kita bahas seputar dunia pendidikan dulu Dit. Mengajar mata pelajaran apa ?

Seni Budaya dan Keterampilan. Tapi di semester ini karena metode pembelajaran ada sedikit perubahan, belajar daring, jadi otomatis merangkap jadi guru empat bidang studi. Seni, Bahasa Inggris, PKN dan Agama.

Wah, mengajar empat bidang studi, cara menguasai materinya bagaimana ?

kuncinya terus belajar. Setiap malam sebelum ngajar, Dita baca dan menyusun materi ajar buat besoknya. Meskipun seorang guru, tetap saja jangan berhenti belajar, karena memang hakikatnya belajar sepanjang hayat kan. Jadi momen dimana ditugaskan untuk mengampuh empat mata pelajaran sekaligus ini, Dita manfaatkan sebaik mungkin untuk dijadikan proses belajar dan men-chalenge diri. kalau seni kan Alhamdulillah memang bidang keilmuannya Dita. Khusus pelajaran agama Dita jadikan sebagai kesempatan untuk kembali mendalami pengetahuan-pengetahuan umum agama Islam. Senang saja bisa ngajar agama dan nilai-nilai kebaiikan dalam Islam ke anak-anak. InsyaAllah ladang pahala juga. Aamiin. Kalau Bahasa Inggris, Alhamdulillah basiknya Dita lumayan tahu karena dulu pernah kursus bahasa Inggris. PKN juga begitu, berisi sejarah Indonesia, membahas tentang pancasila, nasionalisme, yang menurut Dita tanggung jawabnya besar sekali untuk bisa membentuk karakter anak didik.

Seperti apa mengajar anak SMP yang merupakan masa transisi dari anak-anak menuju fase dewasa ? ada kendala dalam proses kegiatan belajar mengajar ?

Iya betul, Usia Anak SMP itu masuk pada tahap Remaja awal. Usia dimana anak-anak banyak mengalami perubahan dalam diri mereka, tidak hanya perubahan fisik, tapi psikologis, sosial, dan emosional. Jadi memang ada tantangan tersendiri dalam mendidik anak SMP, harus ekstra sabar dan paham dengan kebutuhan psikis mereka. Memang SMP itu momen mereka melakukan kesalahan, kenakalan, mencoba segala hal. Menimbulkan banyak masalah memang, karena mereka sedang berupaya menemukan jati diri maupun identitas mereka. Kalau dalam proses KBM Alhamdulillah sejauh ini belum terlalu menemukan kesulitan yang besar karena Dita pribadi selalu dan terus belajar untuk menggunakan model pembelajaran yang relevan dengan kondisi saat ini. Seperti memberikan tugas-tugas berbasis project dengan media yang mudah diserap dan familiar dengan mereka. Tujuannya selalu berusaha menjadikan proses pembelajaran sebagai aktivitas yang menyenangkan untuk mereka. Jadi anak-anak bisa menghayati proses belajar dengan lebih enjoy dan lebih mudah menangkap informasi-informasi baru.

Menurut Dita, sistem Pendidikan Indonesia hari ini seperti apa ? idealkah ?

Sistem hari ini masih memerlukan banyak pembenahan, banyak perombakan dan perbaikan di berbagai aspek. Indonesia sudah sejak lama mengalami krisis pendidikan. Keadaannya sudah terbilang darurat, sangat tertinggal, dan kesenjangan pendidikan semakin parah. Padahal sejauh ini pemerintah sudah banyak melakukan kebijakan-kebijakan dalam rangka memperbaiki sistem pendidikan atau menemukan bentuk yang pas bagi dunia pendidikan Indonesia. Pendidikan hari ini berorientasi pada angka, pada nilai, pada ketercapaian,hanya pada ukuran literaasi dan numerasi anak saja. Benar kata Freire, Pendidikan hari ini menjadikan siswa sebagai objek, bukan subjek. Bahkan guru juga diperlakukan sebagai objek oleh sistem. Nah, paradigma yang dianut saat ini juga paradigma standarisasi, bukan personalisasi. Mulai dari kurikulum yang padat, sehingga guru harus mengejar materi, dan tidak efektif saat menyajikan pelajaran. Siswapun dituntut berfikir ekstra karena diguyur dengan berbagai teori, tugas dan sebagainya. Hari ini, masih banyak guru yang tidak menempatkan anak didik untuk berpikir nalar,melainkan hanya pada sistem hafalan. Dan hal ini sudah tidak relefan lagi dengan kondisi saat ini yang memasuki era revolusi industri 4.0. Jangan heran kenapa anak-anak menjadikan sekolah dan pendidikan itu sebagai kewajiban, bukan sebagai kebutuhan, sebagai keinginan. Karena itu tadi, mereka dijadikan objek kapitalisme pendidikan.

Apa yang dimaksud Nadiem Makarim sebagai konsep merdeka belajar ? ini solusi kongkrit atau gagasan yang utopis menurut Dita ? Jakarta sih Ok, tapi apakah daerah mampu menerjemahkan konsep ini dalam ruang belajar, dimana sumber daya dan kultur belajarnya berbeda dengan Ibukota ataupun Jawa ?

Konsep merdeka belajarnya Nadiem makarim itu ada empat gebrakan yang dia buat, yaitu: Pertama, merubah Format Ujian Nasional menggunakan asesmen kompetensi minimum literasi dan numerasi. Dimana poin penilaiannya lebih ke cara siswa menganalisis bacaan dan perhitungan, mengukur kemampuan penalaran dan common sense siswa, bukan hafalan. Dan mulai 2021 format UN tersebut akan mulai diberlakukan. Kemudian, perangkat pembelajaran yang awalnya RPP 13 lembar sekarang hanya 1 lembar, jadi tidak menyulitkan guru dalam hal administrasi dan bisa lebih fokus ke proses pembelajaran. Terus, USBN juga mulai tahun ini ditiadakan dan sekolah diberi wewenang sepenuhnya untuk proses kelulusan siswa. Dan yang terakhir sistem zonasi. Konsep ini bisa dibumikan di seluruh wilayah Indonesia, karena pada dasarnya manusia menginginkan sesuatu yang sederhana dan sesuai dengan kebutuhan. Proporsional antara belajar dan aktivitas lain. Soal SDM, pelan-pelan bisa dibenahi, apalagi Sekarang banyak guru-guru muda yang pemikirannya progresif. Secara alamiah, guru-guru ini akan menyesuaikan metode pendidikan dengan gaya di zamannya. Hanya saja sekarang saat pak menteri baru mau action menerapkan kebijakan merdeka belajar, malah datang cobaan pandemi. Semoga selesai pandemi kebijakan yang baru oleh pak menteri boleh terlaksana dengan efektif dan maksimal.

Apa sih merdeka belajar menurut Dita?

Pendidikan itu harus memanusiakan, harus memberi ruang kemerdekaan. Mulai dari guru sampai anak-anaknya. Paradigma lama diganti, dari standarisasi ke personalisasi. Harus berorientasi pada manusia, pada karakter, pada daya ekspolorasi dan well being siswa. Tidak hanya lewat penilaian akademis, pengembangan minat, bakat, keperibadian siswa, aspek sosial, emosional, intelektual dan spiritual juga. Bapak pendidikan kita pernah bilang, bahwa pengaruh pengajaran itu seharusnya memerdekakan manusia hidup dan lahir. Sedang merdekanya hidup batin terdapat pada pendidikan. So, merdeka belajar adalah menjadi manusia seutuhnya–belajar dengan gembira, dengan bahagia, bukan menjadi budak sistem yang kaku.

Ok, Dita, sebelum syaraf-syaraf kognitif ini berkait-kelindan karena harus berpikir keras soal pendidikan, bagaimana kalau bicara tentang Kesenian ? sebagai orang yang memiliki passion berkesenian, karya apa saja yang telah lahir dari rahim kreatifitas Dita ?

Pernah buat beberapa lagu, dan ditampilkan di pagelaran seni jurusan. Judulnya kan selalu ada. Terus, karya tari kreasi baru juga ada, nama tarinya tari pogogutat dan tari polapa’, ada juga tari kontemporer yang Dita beri nama brokenheart dance. lukisan ada beberapa, salah satunya tema surealisme.

Dita Juga seorang Model ya ?

Dulu, zaman SMA dan Kuliah. Sekarang sudah purnabakti.

Sudah terima Gaji pensiun ?

(Tertawa) Ndak lah kak. Hobi saja itu.

Alhamdulillah, pencemaran limbah merkuri dan efek rumah kaca di Kotambagu berkurang

(Tertawa) iya, Gantung Make up.

Punya pengalaman berkompetisi ?

Juara 1 bintang Vokalia jenjang SMP tingkat kota Kotamobagu, Juara 1 tari kreasi baru tingkat Provinsi Sulawesi Utara ajang FLS2N 2012, 5 besar Lomba Siswa teladan Tingkat Kota kotamobagu , Juara 2 tari kreasi baru di Festival Manado Viesta 2012, Penata musik terbaik di Festival Nasional Teater 2016, Juara 2 lomba Fashion show Fesyar Sulawesi Utara 2018, 5 besar di Gorontalo Karnaval Karawo 2017, Duta Humas Polda Gorontalo 2018

Suka dengan jenis musik apa, Dit ?

RNB, Jazz, Folks

Wis, Penikmat Kopi Senja.

Yap, duduk di sudut café, dengar Nadin Amizah, ngopi dan baca buku.

Baik, jalan sebagai seniman dan modeling sudah paripurna dan sebagai angkatan muda, bekal pengalaman dan prestasi seperti ini perlu untuk menantang hidup yang sukar diprediksi. Tapi betul kata orang, wanita memang cenderung multitasking. Bisa melakukan banyak hal sekaligus.

Amin. Sebagai pengalaman hidup. Iya, wanita modern harus cekatan, produktif dan adaptif dengan tantangan zaman.

Multitasking ini jangan sampai jadi penyebab banyak wanita yang mengidap multiple personality disorder, ya ? Macam Sybil, wanita yang punya 16 keperibadian.

Mungkin beda kak. Keperibadian ganda kan biasanya muncul karena trauma psikologis.

Ok, Santai, santai. Aktifitas sebagai ASN, apalagi guru, membatasi ruang berkreasi, Dita ?

Of course not. Dita kan mengajar seni juga, jadi secara tidak langsung proses berkesenian tetap jalan. Contohnya tari polapa’, itu baru Dita ciptakan pertengahan tahun lalu. Sekarang juga sibuk melatih anak-anak untuk festival Nasional yang akan diikuti SMP 1 Lolak. Tahun lalu juga Dita pernah buat pentas seni di sekolah dan disenggang waktu saat tidak mengajar, Dita tetap melakukan hobi menyanyi. Walapun suara juga biasa-biasa saja. (Tertawa)

Ok, Untuk menjawab rasa penasaran, tentang jawaban-jawaban seputar pendidikan, bahkan tadi mengutip Freire, Dita sebenarnya mantan Model atau mantan Aktivis, sih ?

Ndak pernah jadi Aktivis kak.

Aktivis kan bukan soal label organisasi, tapi social awareness-nya, kan ?

Social awareness memang sudah seharusnya ada di diri tiap orang sih apalagi kita sebagai anak muda

Harusnya. Tapi faktanya kan tidak. Masih banyak anak muda yang introvert dan cenderung apatis dengan realitas sosial. Sibuk dengan dunia imajiner, dunia Maya.

Sebaiknya perilaku itu dirubah. Atau medsos dijadikan medium berbisnis, kampanye-kampanye yang bermanfaat atau hal-hal yang meninggikan nilai-nilai humanisme, tentu dengan tidak meninggalkan kerja-kerja yang konkrit di dunia nyata. Daripada medsos dipakai untuk nyiyirin orang atau menyebar kebencian dan hoax.

Ok, Dita, Luar biasa, salah satu tamu ngopi di beranda yang sangat informatif dan open minded. Mudah-mudahan Galuh dapat guru seperti Dita kelak saat dia sekolah nanti.

Iya kak, terima kasih sudah mengundang Dita. Salam buat Galuh.

Iya, semoga sukses memerdekakan anak bangsa, Dita, A Luta Continua !

(Visited 44 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan