Ngopi di Beranda Bersama Rahmi Hattani

0 299

BERANDAKOTA-“Jangan setengah hati menjadi guru, karena anak didik kita telah membuka sepenuh hatinya,” demikian kata Ki Hajar Dewantara.

Guru adalah sosok yang menjadi sentral dalam pendidikan. Sebab ia berhadapan dengan manusia lain dengan tujuan menggali pontensinya dan mengembangkannya.

Oleh sebab itu, menjadi guru mensyaratkan kompetensi dan pengetahuan yang mumpuni. Sebab, kemanusiaan dalam pendidikan dimulai dengan cara bagaimana kita mendididik manusia lain secara manusiawi.

Tamu kita kali ini di Berandakota adalah seorang guru sekaligus intelektual yang memahami hal itu. Namanya adalah Rahmi Hattani. Ia sadar bahwa pendidikan harus membebaskan. Sebab, adalah keliru meletakkan manusia sebagai makhluk yang sangat potensial dalam sebuah sistem yang terlalu baku dan sentralistik.

Berikut adalah bincang-bincang Berandakota bersama Rahmi Hattani, seorang guru, intelektual, dan pemilik Pojok Buku Kotamobagu.

 

Halo, apa kabar, kak Rahmi?

Baik, Alhamdulillah.

Apa kesibukan sekarang?

Saya mengajar pendidikan agama islam di SMK Cokroaminoto Kotamobagu. 

Adakah kesibukan selain mengajar?

Melapak di Pojok Buku Kotamobagu. Sambil menulis cerpen-cerpen juga. 

Bisa dibilang aktivitas literasi anda masih jalan. Biasanya dengan bermacam kesibukan kantor, literasi tinggal jadi pengisi waktu luang. 

Saya hobi membaca sudah sejak umur empat tahun. Sebelum masuk Sekolah Dasar (SD) saya sudah membaca buku cerita sendiri, SMP sudah menulis cerpen dan buku harian. Literasi sudah menjadi bagian dari rutinitas keseharian. Hingga hari ini. Sulit keluar dari rutinitas yang telah menjadi hobi. 

Selama kuliah aktif di organisasi?

Iya, saya aktif di PMII cabang Manado. 

Kami bersyukur ada narasumber yang PMII, soalnya baru kali ini. Kebanyakan HMI.

Jangan-jangan Berandakota bias HMI. (?) (Tertawa). Saya masuk PMII tahun 2004. Dulu pernah menjadi pengurus rayon Tarbiyah. Aktif juga di BEM kampus. Setelah selesai kuliah menjabat sebagai sekertaris cabang PMII.

Tidak, enci Rahmi. Entahlah, Itulah yang terjadi, meski memang sebagian besar personel berandakota HMI. Bisa ceritakan sedikit  pengalaman Anda ber-PMII, pastinya punya pengalaman beraktivis yang mungkin paling berkesan seperti kisah berdemo hujan-hujanan, atau pernah dikejar polisi dan terjebak di tengah huru-hara. 

Iya. Berproses di PMII menjadi salah satu faktor kunci yang mengantarkan saya ke titik ini. Oh iya, dulu saat demo pernah dikejar polisi. Itu waktu Jusuf Kalla berkunjung ke Manado dan itu sudah dijaga oleh intel terebih dahulu. Wah, dalam hati saya, banyak cowo ganteng di samping saya. Ternyata mereka semua intel. Dan sesaat kami pun dikejar. Kami tertangkap dan dibawa ke Polresta Manado. Sesampainya di sana, kami hanya duduk-duduk. Kami sesekali bertanya, kapan kami dipulangkan. Sesudah Wapres pulang, jawab mereka. Kami waktu demo itu sekira 20 orang, dan yang tertangkap 7 orang. Dua perempuan, saya dan teman satu lagi. Seharian penuh, hanya dikasih air saja (tertawa) 

Ternyata Anda berpengalaman dikejar dan ditangkap polisi. Berarti Anda bisa mengejar siswa yang bolos kalau di sekolah?

Tidak juga. (Tertawa) mereka hanya kesulitan mengejar saya untuk persoalan nilai.

Benar. Mengutip Yedi Mamonto, jodoh dan rezeki di tangan Tuhan, tapi nilai di tangan guru. Dan tak bisa di-download.

Sepakat dengan Yedi.

Hidup mahasiswa! Nah, profesi guru dan buku itu berhubungan, sekarang Anda jualan buku juga. Bisa ceritakan sedikit tentang Pojok Buku Kotamobagu Anda?

Pojok Buku Kotamobagu baru setahun ini. Awal kemunculannya karena saya biasa beli buku online dengan ongkos kirim yang lumayan mahal. Semisal harga satu buah buku Rp 100 ribu, kita harus membayar dengan ongkos kirimnya Rp 73 ribu karena harus dihitung perkilo. Pilihannya cuma dua, beli satu buku dengan hitungan perkilo, atau beli lebih dari satu buku supaya genap sekilo. Dari situ saya berpikir, bagaimana kalau saya jualan saja agar saya bisa beli lebih dari satu buku. Dengan begitu harga ongkos kirim bisa sedikit tertutupi. Apalagi saya ambil langsung dari penerbit, menjadi reseller. Jadi dapat lebih murah. Untungnya bisa Rp 10-15 ribuan. Selain itu bisa bantu menyediakan buku bagi teman-teman di Kotamobagu yang mencari buku bacaan. Dan rata-rata buku yang saya jual buku yang saya baca. 

Adam Smith menangis melihat cara Anda berjualan buku.

Begitu sudah. (Tertawa)

Sebagai juragan Pojok Buku Kotamobagu, bagaimana Anda melihat perkembangan literasi anak muda di Kotamobagu dari tahun ke ahun, apakah ada harapan?

Saya bukannya pesimis soal perkembangan itu. Namun ada kategori pembaca. Yang benar-benar membaca dan yang banyak membeli buku. Yang benar-benar membaca atau pembaca buku, tidak selalu diasosiasikan dengan yang selalu beli buku. Artinya, yang suka buku banyak, tapi membaca sedikit. Ia bayak kali membeli kadang karena suka saja kemudian dikoleksi. Yang jarang beli, akan tetap membaca selama ada akses bacaan yang ia dapatkan. Ia bisa pinjam di perpustakaan, di perpustakaan digital, atau perpustakaan teman.

Sepertinya pembaca buku sejati yang anda maksud itu “berbahaya” jika meminjam buku di perpustakaan teman.

Iya. Mereka bakal menggunakan perkataan Gusdur sebagai pembenaran bahwa hanya orang gila yang mengembalikan buku yang dipinjam. (Tertawa)

Anda harus waspada dengan pembaca jenis itu.

Tenang. Jadi pembaca yang saya maksud di sini adalah pembaca yang tak peduli dengan tren buku bacaan. Ia membaca apa yang dia butuhkan, dan pastinya sistematis. Mereka yang hobi membaca adalah mereka yang tidak ikut arus membaca buku yang sedang ramai dibicarakan. Dan sepertinya anak muda di Kotamobagu masih dalam tren semacam itu.

Apakah minat baca itu ada korelasi dengan jumlah kampus yang ada di Kotamobagu?

Ada hubungannya. Sangat ada. Kebutuhan pengetahuan akan meningkat jika kampus di satu kota itu banyak. Selain itu kualitas pengajarnya.

Nah, Anda sendiri suka baca jenis buku apa?

Novel. Sejak saya mulai suka membaca, saya membaca buku-buku cerita. Itu saya masih SD. Ketika masuk SMP hingga SMA, saya mulai membaca bukunya Agatha Christie yang terkenal dengan misteri-misterinya. Seperti beberapa novel Sidney Sheldon-nya–Wajah Sang Pembunuh, Lewat Tengah Malam, Bila Esok Tiba, dan lain-lain. Memasuki kuliah saya mulai bersentuhan dengan novel-novel serius. Novel-novel yang berlatar sejarah, misalnya. Di antaranya novelnya Pramoedya Ananta Toer, Ayu Utami, dan Seno Gumira Ajidarma.

Bagaimana ceritanya Anda begitu menyukai novel ketimbang buku-buku lain?

Dulu di PMII, buku dan kajiannya berkisar soal teori-teori kritis. Dalam kajian seperti itu, pastinya pemahaman harus kuat sebab sangat berkaitan dengan sosiologi dan filsafat. Saya sendiri lemah dalam kajian yang butuh berpikir keras seperti itu. Hingga suatu kali, ada senior yang menyarankan kepada saya membaca tetraloginya Pram. Dalam proses membaca tetralogi itu, akhirnya saya paham, apa yang dibahas dalam teori kritis dibahas dengan baik dan ringan dalam novel sejarah, sebagaimana tetralogi Pram itu, atau novel George Orwell, 1984, Novel Ayu Utami, dan sebagainya.

Terkait novel-novelnya Ayu Utami, kemarin kami menyinggung hal itu dengan salah satu narasumber kami perihal sebarapa otentikah perempuan merepresentasikan perasaan laki-laki. Dalam konteks itu, Ayu Utami melakukan hal yang serupa dalam novel-novelnya. Bagaimana Anda melihat itu?

Ayu Utami sebenarnya membahas atau merepresentasikan keduanya dalam novel-novelnya, baik laki-laki maupun perempuan. Dan saya pikir dia otentik. Kita seolah dibawa olehnya memasuki ke alam kesadaran Adam dan Hawa sekaligus. Dia juga tidak mengaku sebagai penganut feminisme. Dan saya pikir di situ keunikannya. Tak ada teori sosial tertentu yang menjadi frame dalam setiap karyanya.

Siap. Kita balik lagi ke soal Anda sebagai guru dan pembaca buku yang ber-genre tidak main-main, artinya buku-buku serius. Pernahkah Anda merasa bahwa sistem pendidikan yang ada sekarang tidak cukup bahkan mengikat, dan Anda merasa harus melampaui itu?

Titik sentral dalam pendidikan itu menghadapi manusia. Sebagai ASN…

Kami baru tahu jika Anda ASN. 

Iya. Pokoknya, baik ASN atau bukan, sentral untamannya adalah berhadapan dengan manusia. Oleh sebab itu, saya juga harus memperlakukan anak didik sebagai manusia. Di samping secara normatif mengharapkan mereka menjadi sebagaimana harusnya, kita juga mempertimbangkan apa kebutuhan belajar mereka yang sesuai. Guru itu harus punya kreatifitas dalam proses mengajar di kelas. Banyak anggapan juga dari kalangan guru bahwa kurikulum hanya sebagai pelengkap administrasi, dan saya pikir ini menyenangkan. Saya bisa mengajar dengan metode yang bebas, sesuai kebutuhan belajar. Sejauh kewajiban administrasi saya sudah lengkap, saya bebas. Dan inilah yang saya lakukan setiap harinya.

Tapi ada buku panduan yang harus dijadikan landasan bagi guru dalam mengajar?

Iya. Itu hanya titik kunci. Selanjutnya adalah mengembangkan titik itu. Saya melakukannya seperti itu. Mengelaborasinya sehingga mereka bisa juga berpikir. Intinya tidak kaku.

Apakah sistem pendidikan saat ini sudah bisa dikategorikan baik?

Tidak bisa dikatakan sudah baik. Sistem itu memang harus terus ada perbaikan. Ia tidak bisa baku. Ia harus dinamis. Ini soal manusia. Soal mendidik manusia. 

Tapi bagaimanapun sistem pendidikan kita baku.

Cenderung baku.

Menteri Pendidikan Nadiem Makarim mencetuskan program Merdeka Belajar, bagaimana implementasi itu di lapangan, khususnya untuk kultur di Bolaang Mongondow?

Sebagai guru, bagi saya program Merdeka Belajar itu bagus. Guru tidak lagi harus disibukkan dengan urusan administratif yang tebalnya seperti tujuh lapis langit itu. Artinya program ini membebaskan beban-beban administratif. Seperti misalnya memberi tugas menulis. Di dalam tugas harus ada tema, metodenya apa, dan berapa lama. 

Bukannya itu sedikit berbahaya jika guru sendiri tidak berkompeten?

Iya. Makanya program ini diikuti dengan kualitas pengajarnya. Jika Menteri benar-benar mau menerapkan program ini, saya pikir banyak guru yang tidak mampu, apalagi mengajar dengan hanya berlandaskan buku panduan. Namun bagi saya, ini kesempatan untuk mengekspresikan pengetahuan dan keinginan saya mengajar dengan cara saya sendiri. Dan program ini untuk kultur Bolaang Mongondow, saya pikir cocok.

Nah, apa masalah nyata soal pendidikan saat ini, Anda tadi bilang bahwa sejatinya sistem pendidikan tidaklah baku, melainkan dinamis?

Ada nalar yang berbeda sebenarnya antara mereka yang di birokrasi dan kami di daerah pinggiran. Imajinasi mereka adalah kelas rapi, bersih, indah, dan lengkap. Itulah sebabnya Kurikulum 2013 diterapkan. Tapi idealisasi itu membuat kurikulum ini tidak untuk semua sekolah. Bagaimana tidak, sekolah-sekolah di daerah pinggiran masih bermasalah dengan fasilitas penunjang, dan itu membuat sekolah-sekolah itu tak mampu menyesuaikan diri.

Benar juga. Harusnya idealisasi orang-orang di birokrasi mempertimbangkan dengan matang penerapan kurikulum yang menuntut banyak hal di sekolah, sedangkan fasilitas yang ada masih terbatas dan akhirnya memengaruhi pencapaian target atau bahkan tidak mampu mencapainya. 

Iya. Dan itu fakta hari ini.

Nah, sebagai pembaca buku, pernah Anda sesekali mendorong sisiwa Anda untuk membaca buku?

Selalu. Saya selalu mendorong mereka untuk membaca buku. Meskipun pernah suatu kali di kelas, saya mendapati salah satu siswa sedang membaca buku berat, judulnya Sesudah Filsafat. Sebuah kumpulan esai filsafat untuk Franz Magnis Suseno.  Bagus, sih. Tapi lucu. (Tertawa)

Sesudah filsafat? Ngeri juga bacaannya. Kita saja yang sudah berumur begini belum sampai-sampai, dia sudah masuk ke Susudah.

Dia mungkin anak yang cerdas. Lompatannya jauh.

Selain pembaca dan hobi baca, Anda adalah penjual buku. Apakah Anda optimis tidak akan tergerus dengan perkembangan teknologi dimana akses pengetahuan menjadi lebih mudah seperti buku digital yang tersebar di mana-mana?

Saya optimis. Tidak semua orang punya gawai untuk membaca buku-buku pdf atau buku digital seperti yang ada saat ini. Selain itu, buku fisik berbeda dengan buku digital, anda tak akan mencium aroma kertas baru di leptop atau gawai anda. Anda hanya akan mendapatkannya di buku fisik.

Benar. Tak ada buku fisik, rumah kita seperti tak ada jendela. Tak ada cahaya yang masuk. Akan datang suatu masa dimana buku akan menjadi barang antik.

Benar. Itu juga keyakinan saya. Ada estetikanya selain berisi pengetahuan.

Bisa ceritakan perjalanan menulis Anda?

Sejak saya SD. Waktu itu saya mulai menulis karangan bebas dan cerpen sampai saya duduk di bangku SMA. Saya menulisnya di buku tulis, sebuah buku album berukuran agak besar. Sebab dulu itu belum ada laptop. Buku itu menjadi media saya menulis. Ide dalam setiap karangan saya berkisar soal kehidupan remaja. Saya pun membawa buku itu ketika masuk sekolah tinggi. Hingga datang waktu saya bersih-bersih kamar kos dan membakar barang-barang tak terpakai, saya dengan tidak sadar ikut membakar buku itu. Jadi abu. Sedih, di dalamnya ada naskah pertama saya yang menceritakan seorang gadis yang hidup dalam sebuah keluarga broken home. Ia lari dari rumah dan terjebak menjadi pekerja seks dan bertemu dengan ayahnya ketika menggunakan jasanya itu. Untuk tulisan-tulisan lain, biasanya saya melakukan riset-riset mendalam. Jika datanya kurang, tidak saya terbitkan. Ada standar yang ketat untuk tulisan-tulisan yang saya buat. 

Kalau sekarang, naskah Anda itu mirip dengan sinetron-sinetron Indonsiar.

Iya. Yang soundtrack-nya ‘kumenangis membayangkan.’ (Tertawa)

Terakhir, ceritakan sedikit tentang project kerja sama dengan Berandakota. Bagaimana konsep kelasnya?

Kelas Kapitulis itu dibuat tiga hari. Saya di situ sebagai pemateri pembuka. Artinya sebagai pengantar memasuki materi-materi berikutnya. Untuk kelas selanjutnya, butuh waktu yang agak panjang, karena memang tujuannya agar peserta sampai jadi tahu menulis. Bahkan sampai jadi penulis. Minimal itu tiga bulan. Setiap minggu dua sampai tiga pertemuan. Jadi dibuka untuk umum, untuk yang tertarik. Baik mahasiswa maupun yang bukan.

Mengapa mau berkolaborasi dengan Berandakota?

Karena baru kali ini ada orang yang mau berkolaborasi dengan saya. (Tertawa) Begini, kebetulan kegiatan ini sesuai dengan ekspektasi saya, atau apa yang saya cita-citakan selama ini. Keren-lah Berandakota, membawa suasana baru di dunia jurnalistik Kotamobagu. Buat teman-teman yang tertarik dengan dunia kepenulisan, wajib menjajal kelas ini. Gratis. Bersama dengan Kelas Kapitulis, pesertanya akan mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan serta manfaat jangka panjang. Sebab, menulis adalah melukis dunia dengan kata. Dan kata adalah gerbang bagi mereka yang ingin membaca dunia.

Baik, terima kasih atas waktu dan kesempatannya, kak Rahmi. Semoga sukses selalu dengan profesi pendidik dan pegiat literasi. 

Sama-sama. Sukses juga untuk kawan-kawan Berandakota.

 

(Visited 20 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan