Merintis Literasi di Kelas Kapitulis

0 434

DEDAUNAN ringkai menumpuk di sekitar taman sebuah rumah. Seakan-akan menyambut orang-orang berdatangan yang saling menyapa dengan ramah.

Siang itu, Jumat (13/11/2020), belasan remaja dan beberapa pemuda bersila di atas karpet merah. Rimbun pepohonan taman menjadi payung mereka dari sinar matahari.

Rahmi Hattani, dipercayakan sebagai Kakak Pertama di kegiatan yang bernama Kelas Kapitulis itu. Kelas ini gratis. Ia mengajarkan materi Pengantar Menulis kepada peserta yang rata-rata berasal dari berbagai sekolah menengah atas (SMA) sederajat di Kota Kotamobagu, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Ada juga peserta umum terdiri dari mahasiswa dan jurnalis.

Rahmi tampak tak canggung lagi dengan urusan mengajar, sebab ia berprofesi sebagai guru di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Cokroaminoto Kotamobagu. Selain itu, menyoal literasi, ia adalah penggagas Pojok Buku Kotamobagu yang menjual buku-buku bacaan sekaligus sebagai perpustakaan, dan ia gemar pula menulis cerpen.

Menurut Rahmi, sesi Pengantar Menulis di Kelas Kapitulis ibarat perkenalan awal dan singkat tentang dunia tulis menulis. Baginya pula menulis adalah aktivitas yang harus dilakukan terus menerus oleh mereka yang memang berbakat di bidang itu.

“Sedangkan untuk mereka yang kurang berbakat, tapi tetap ingin menulis, maka panduan menulis seperti di Kelas Kapitulis ini menjadi penting,” jelasnya, kepada para peserta.

Di sesi awal, Rahmi menyampaikan bahwa dasar sederhana dari menulis ada dua yakni mengamati biasanya menggunakan mata, sedangkan memperhatikan lebih kepada melibatkan hati. “Dari hasil pengamatan itulah kemudian kita mendeskripsikannya lewat tulisan.”

Selanjutnya para peserta ditugasinya untuk menuliskan sesuatu yang paling dikuasai misalnya tentang diri sendiri, baik itu berupa perkenalan, maupun potongan-potongan peristiwa penting dan berkesan yang pernah dialami dalam hidup.

“Silakan menulis bebas, bisa dalam bentuk cerpen, opini, puisi atau apa saja. Belum ada penilaian tentang benar dan salah, tata bahasa dan sebagainya. Sebab ini masih pengantar, sekadar stimulus awal agar di sesi selanjutnya kalian bisa lebih rileks dalam menulis,” katanya.

Langit mendung pertanda akan hujan. Kelas yang awalnya terhampar di taman, terpaksa harus berpindah ke dalam ruangan. Para peserta lalu dibiarkan menuliskan tugas mereka yang nantinya akan diperiksa, pada sesi selanjutnya keesokan harinya.

Salah satu peserta membacakan artikelnya. -Berandakota.com/Kelas Kapitulis

Sabtu (14/11/2020) pagi, kelas kembali dimulai. Para peserta Kelas Kapitulis akan belajar materi Menyunting Artikel yang diampu Kakak Kedua, Kristianto Galuwo. Ia adalah jurnalis yang pernah tinggal di Papua selama tiga tahun. Selain sebagai editor di jubi.co.id, salah satu perusahaan media di Papua, ia juga Pemimpin Redaksi (Pemred) Berandakota.com.

Pada sesi kedua ini, hasil tulisan para peserta dibacakan meski tidak semuanya mengingat waktu yang singkat. Salah satu peserta, Gerry Towoliu, membacakan tulisan mengenai dirinya.

“Saya ingin dan akan mengembangkan segala potensi dan talenta yang saya punya. Ada kata bijak yang mengatakan kalau kita ingin memiliki dan mewujudkan mimpi, ‘bermimpilah setinggi langit agar ketika kamu jatuh, kamu akan jatuh di antara bintang-bintang’.”

Setelah diperiksa Kakak Kedua, selain dalam tulisan Gerry ditemukan juga di artikel lain beberapa kesalahan ejaan, tanda baca yang abai dan keliru, pengulangan kata, dan kalimat lewah atau berlebihan.

“Menyoal ejaan kata, ada banyak salah kaprah dan menjadi lumrah,” kata Kristianto.

Kakak Kedua kemudian mencontohkan beberapa kata di antaranya “izin” yang kerap kali ditulis “ijin”, “risiko” ditulis “resiko”, “atlet” dieja “atlit”, dan contoh-contoh lainnya. Selain itu, tugas editor untuk memendekkan atau meringkas kalimat juga diajarkan oleh Kakak Kedua. Menurutnya penggunaan kata yang berulang-ulang dan penjelasan yang bertele-tele membuat pembaca bosan.

Tetapi kesalahan para peserta adalah hal yang biasa menurut Kakak Kedua. Sebab yang terpenting dalam menulis adalah menggali ide, keberanian memulai sesuatu, baru selanjutnya belajar tata bahasa dan tanda baca agar tulisan lebih rapi. Itulah kenapa di sesi awal, para peserta disuruh menulis bebas.

“Terus latih menulis, bisa dimulai dengan status-status di media sosial. Kelak, adik-adik bisa menjadi editor untuk tulisan sendiri.”

Cuaca yang kurang bersahabat kembali membubarkan kelas yang tergelar di bawah rindang pepohonan. Para peserta diberi jeda waktu untuk menyantap makan siang yang mereka bawa dari rumah. Kakak-kakak Kelas Kapitulis disuguhi pula beberapa gelas kopi dari kedai Sore Kopi. Kedai kopi ini unik karena berkonsep ruang terbuka dan di sana ada perpustakaan Rumah Baca. Setelah jam makan siang, materi dilanjutkan di dalam ruangan, diselingi permainan memilah kata-kata yang sering keliru ejaannya.

Semangat Peserta Tak Surut

Selanjutnya, masih di hari kedua Kelas Kapitulis, materi Pengembangan Ide Tulisan dibawakan Kakak Ketiga, Suhendra Manggopa. Ia adalah kolumnis sekaligus editor di Berandakota.com.

Kakak Ketiga menjelaskan dalam menulis artikel, tiga bagian penting harus dipenuhi, yaitu elaborasi, eksplorasi, dan sintesis. Tiga bagian ini tentang bagaimana ide tulisan berkembang, tanpa keluar dari konteks ide utama tulisan.

Elaborasi, kata Suhendra, bicara soal metode mengaitkan ide utama tulisan dengan artikel dan buku lain, yang memiliki ide yang sama.

“Kita bisa mengutip pemikiran siapa pun untuk membenarkan pikiran atau opini kita, dengan mengutip mereka dalam tulisan kita,” katanya.

Kedua, eksplorasi adalah metode menulis dengan cara menunjukkan segala hal yang berkaitan dengan tulisan kita. Artinya, tidak menulis dengan gaya monoton, tapi ide senantiasa berkembang.

“Ketiga sintesis, ini tentang menulis dengan mencari bentuk atau mencari gaya baru dalam menulis. Kita bisa dengan mencampur gaya menulis orang lain dalam tulisan,” terangnya.

Para peserta lantas disuruh memilih gulungan kertas yang bertuliskan tema-tema sederhana. Tema seperti hujan, rumah, dan ibu kemudian dikembangkan. Hasil tulisan para peserta akan diseleksi kemudian dipilih tiga terbaik oleh Kakak-kakak Kelas Kapitulis, di akhir seluruh rangkaian kegiatan.

Meski materi di hari kedua dimulai sejak pukul 10 pagi, para peserta tetap fokus menyimak penjelasan Kakak-kakak Kelas Kapitulis. Setelah materi dari Kakak Ketiga yang berakhir pukul 3 sore, ada sesi tambahan yakni Literasi dan Kebudayaan Bolmong yang dibawakan Uwin Mokodongan. Ia dikenal sebagai penulis dan budayawan Bolmong.

Dijelaskan Uwin begitu banyak tradisi leluhur yang tergerus oleh masuknya ajaran agama-agama samawi. Padahal tradisi yang mulai ditinggalkan itu penting untuk digali kembali dan dilestarikan.

“Kenapa penting? Karena itu yang menjelaskan identitas atau jati diri kita sebagai orang Bolmong,” katanya.

Selain soal tradisi, Uwin mengangkat cerita tentang asal muasal suku Bolmong. Hampir semua peserta tampak begitu tertarik dengan kisah yang dibawakan Uwin, bahkan sebagian besar mengaku baru mendengar kisah itu dari penuturan Uwin.

Kelas berpindah ke dalam ruangan karena hujan. -Berandakota.com/Kelas Kapitulis

Kelas Pemungkas dan Riuh Tawa

Langit cerah menyambut peserta di hari terakhir Kelas Kapitulis, Minggu (15/11/2020). Materi Bedah Artikel dan Tata Bahasa akan dibawakan Kakak Keempat, Indah Wahyuningsih. Ia mahasiswi pascasarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Kelas terakhir ini dimulai dengan sebuah permainan. Peserta kelas dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari tujuh sampai delapan orang. Kakak Keempat menguji peserta soal pemahaman atas materi yang telah diterima sebelumnya.

“Coba temukan kesalahan tata bahasa pada artikel ini,” kata Indah.

Kelompok yang paling banyak menemukan kesalahan tata bahasa akan menjadi pemenang dalam permainan. Mulai dari penggunaan tanda baca, preposisi, kata sambung, kata yang harus dicetak miring, huruf kapital, metafora, kutipan langsung dan tidak langsung, menulis angka, repetisi dan redundansi dalam kalimat, hingga transposisi.

“Bekal yang diperoleh peserta di materi sebelumnya, membuat mereka cukup jeli menemukan kesalahan dalam artikel yang diberikan.”

Setelah bersama-sama memperbaiki kesalahan tata bahasa, kelas dilanjutkan dengan membedah alur pikir artikel yang diberikan. Kakak Keempat menceritakan bagaimana ide artikel itu lahir, value apa yang termuat di dalamnya, alur bertutur yang digunakan hingga picturing ideas dalam artikel tersebut.

Kakak Indah sedang memberikan materi Bedah Artikel dan Tata Bahasa. -Berandakota.com/Kelas Kapitulis

Kelas Kapitulis tidak hanya mengajarkan soal menulis artikel. Setelah materi dari Indah, ada materi tambahan dari Kakak Kelima, Vicky Mokoagow, yang mengajarkan dengan singkat bagaimana Menulis Naskah Film. Vicky dikenal sebagai gitaris Beranda Rumah Mangga (Braga).

Berikutnya, Kakak Kelima, Yedi Mamonto, yang juga sebagai vokalis Braga, memungkasi rangkaian kegiatan Kelas Kapitulis dengan stand up comedy.

“Kalau yang belum kenal saya berarti tidak punya HP (handphone),” kata Yedi. Kelas yang berpindah ke dalam ruangan itu pun riuh rendah oleh tawa.

Yedi selain sebagai vokalis Braga, ia juga memerankan tokoh Lengkebong dalam film pendek berseri produksi Braga Indie Project, berjudul “Ki Lengkebong”. Tuntutan peran yang mengharuskannya jenaka, memaksanya untuk pintar-pintar menyesuaikan karakter.

“Tapi ketika saya menjadi vokalis Braga, mereka tertawa. Ketika menjadi Lengkebong, saya disuruh menyanyi,” tutur Kakak Kelima, yang lagi-lagi disusul tawa peserta.

Kelas Kapitulis akhirnya ditutup oleh Direktur Berandakota.com, Shandry Anugerah. Ia berterima kasih kepada 25 peserta dan Kakak-kakak Kelas. Nanti, kata Shandry, semua tulisan peserta akan dipilih tiga terbaik untuk mendapatkan hadiah menarik dan artikelnya ditayangkan di Berandakota.com.

“Semangat kalian adalah sinyal bahwa masa depan literasi di Bolaang Mongondow terus membaik. Budaya literasi menjadi indikator sebuah entitas masyarakat menata dan mempersiapkan masa depan daerahnya,” katanya.

Tidak luput, ucapan terima kasih disampaikannya pula kepada Pojok Buku Kotamobagu, Sore Kopi, Rumah Baca, Braga, Aksara Kelana, dan semua yang berkolaborasi bersama Berandakota.com dalam menyelenggarakan Kelas Kapitulis ini.

“Kelas Kapitulis akan kami adakan lagi di waktu-waktu mendatang, sebagai bentuk tanggung jawab sosial kami membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya. (*)

 

Laporan Tim Kelas Kapitulis

(Visited 70 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan