Mencintai ala Stoisisme

0 307

BERANDAKOTA-

“When you arise in the morning, think of what a precious privilege it is to be alive — to breathe, to think, to enjoy, to love.”

Marcus Aurelius — Meditations

Ajaran Stoisisme dikenal dingin dan tanpa emosi. Mereka para penganutnya mengajarkan untuk tidak dikuasai oleh objek eksternal sehingga lupa diri.

Ajaran sentralnya berkisar pada bagaiamana emosi dan objek di luar diri dapat ditangani dengan memandangnya sebagai dua entitas yang berbeda. Manusia adalah makhluk terbatas dan fana, dan di hadapan alam (logos) ia harus memahami dirinya bahwa segala perubahan berada di luar kontrolnya. Artinya, kita tak bisa mengembalikan orang yang pergi dan meninggal dengan tangisan.

Perihal mencintai, kaum Stoa bukan tidak punya pandangan sama sekali. Seperti yang ditulis dalam artikel dailystoic.com dengan judul What The Stoics Thought About Love,  baik Marcus Aurelius maupun Seneca telah menulis dengan penuh kasih tentang istri dan anak mereka.

Seneca, yang kehilangan anak satu-satunya, menemukan kegembiraan menjadi orang tua dalam tulisan-tulisannya, sehingga terlihat jelas betapa dia sangat menyayangi keluarganya. Cato, Stoa Romawi yang namanya menjulang tinggi karena menantang Julius Caesar, memiliki kasih sayang yang besar kepada putrinya.

Dan Epictetus, akan berpendapat bahwa hanya pecinta kebijaksanaan dan rasionalitas yang benar-benar dapat menghargai dan memahami cinta. “Siapapun yang kemudian mengerti apa yang baik, juga bisa tahu bagaimana mencintai,” tulis Epictetus. “Tetapi dia yang tidak dapat membedakan yang baik dari yang buruk, dan hal-hal yang tidak baik atau buruk dari keduanya, dapatkah dia memiliki kekuatan untuk mencintai? Untuk mencintai, kemudian, hanya dalam kekuatan orang bijak.”

Pada dasarnya, kaum Stoa mengenal cinta dan sangat mencintai seperti orang pada umumnya. Namun, mereka melakukannya dengan cara unik mereka sendiri. Berbeda dengan kisah romantis yang kita kenal, kaum Stoa mendekati emosi, termasuk cinta, dengan pandangan filosofis. Untuk seorang Stoa, akan selalu sadar dengan perbedaan antara orang bebas, tuan atas dirinya sendiri yang bisa mengendalikan pikiran dan tindakannya, dan budak yang ditaklukkan dan dikuasai oleh keadaan eksternal. Penganut Stoa, tetap ingin dicintai, tetapi ingin memastikan mereka tetap bahagia sebagai prinsip filosofisnya.

Eudaimonia Adalah kebahagiaan versi Stoa, dimana kita hidup dengan laku apatheia: bebas dari keinginan, rasa sakit, kesedihan, atau ketakutan. Untuk sikap ini, ketika para pemikir Stoa berbicara tentang cinta, seringkali hal yang mereka rujuk berkaitan dengan prinsip-prinsip keutamaan, menjunjung kebajikan, dan membandingkannya dengan kesenangan, kehidupan mewah, dan ketidakpedulian lainnya dengan rasa haus yang membara dan tak bisa dipadamkan.

Selain itu, kelompok Stoa mengajarkan bahwa kehidupan yang nyata adalah saat ini, atau sekarang ini. Menderitalah mereka yang meletakkan angan-angan akan sesuatu terlalu besar di masa depan. Sebab, semesta bergerak dengan logikanya sendiri tanpa peduli apa yang kita kehendaki. Kita harus latihan memahami kehilangan, sebab kita ada untuk hilang. Itulah eksistensi kita. Maka para filsuf Stoik akan dengan tabah menerima ihwal cinta tak berbalas, karena mereka sadar apa yang mereka kehendaki tak selalu bisa mereka miliki.

Barangkali ini yang membuat ajaran Stoisisme dipandang sebagai kurang emosional dan bergairah. Namun Anda tak bisa menyangkal, justru filsafat Stoa mengajarkan bahwa cinta yang ideal tak memerlukan syarat apapun.“To love only what happens, what was destined,” tulis Marcus Aurelius.

Di zaman kini, ajaran Stoa banyak ditulis kembali karena dipercaya dapat menjadi lentera untuk jiwa gunda orang-orang modern. Di tengah sesaknya kesibukan dan rutinitas yang membosankan karena kerangkeng kultur modern, yang tidak sedikit membuat banyak orang depresi, kebutuhan akan perspektif dan cara pandang hidup yang rasional ikut meningkat.

Perihal mencintai, kita memang terikat untuk mencintai orang dan benda. Namun kita juga mesti merenungkan fakta bahwa setiap bagian dari kehidupan akan terus diperbarui. Sehingga itu, kita dapat membantu diri kita memahami dan mengurangi kehilangan yang menyertai hidup. Bagi Seneca, memahami bahwa kita semua berasal dari sumber yang sama adalah cara menanamkan cinta untuk semua orang di dalam hatinya. Berikut kutipan indah dari Seneca:

“Alam membuat kita berhubungan satu sama lain… Dia menanamkan dalam diri kita cinta timbal balik dan membuat kita cocok… Mari kita pegang semua kesamaan itu; kita berasal dari sumber yang sama. Persekutuan kita sangat mirip dengan lengkungan batu, yang akan hancur jika tidak saling mendukung satu sama lain.”  Seneca (95,53)

(Visited 29 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan