Ngopi di Beranda: Tyo dan Dendam yang Menjadi Cinta

0 710

BERANDAKOTA- Kita tak bisa mengendalikan sepenuhnya apa yang bergerak dan berubah di luar diri kita. Kita hanya bisa memperhatikan sembari memahami itu sebagaimana adanya. Namun kesadaran itu tak begitu memberi kenyamanan bagi mereka yang berpikir, karena mereka tak hanya mengalaminya, mereka juga memahaminya.

Para pemikir di semua zaman bergulat dengan kesadaran itu, dan membuat mereka melahirkan karya-karya besar yang menginspirasi. Setelah mereka mendefinisikan kenyataan, mereka kembali lagi ke dalam diri dan terpesona betapa kenyataan di dalamnya lebih ganjil dan menarik, bahkan tak terselesaikan.

Berandakota kali ini bercakap dengan tamu serupa, Triwardana Mokoagow (atau biasa disapa Tyo), pemikir yang dalam dan intelektual publik muda asal Bolaang Mongondow. Ia adalah orang yang menciptakan kesibukan tanpa disibukan olehnya, sebab menurutnya, dialah yang menciptakan kesibukan itu sendiri.

Selain itu, ia adalah penulis yang memberi rasa pada setiap diksi dan kalimat. Sehingga orang yang membaca tulisannya seperti mendapatkan bahasa yang tepat untuk menjelaskan masalah mereka yang tak terjelaskan. Barangkali bisa diringkas begini: ia adalah penulis yang penuh baju emosi yang hanya bisa dibaca dengan emosi.

Berikut adalah bincang-bincang Berandakota bersama Triwardana Mokoagow, pemikir dan intelektual muda asal Bolaang Mongondow.

 

Halo, Bung Tyo. Apa kabar?

Alhamdulilah aman.

Apa kesibukan sekarang?

Saya sibuk mencari kesibukan. (Tertawa) 

Ayolah, serius.

Saya serius. Di Bandung, seperti itulah kesibukan saya. Tapi kesibukan itu tidak menjelma rutinitas, intinya berganti-ganti.

Oh, anda tinggal di Bandung?

Iya, saya kuliah di Bandung. Tapi sekarang sedang di Jogja, jalan-jalan, atau seperti saya bilang tadi, sibuk mencari kesibukan. 

Apakah ada jenis kesibukan tertentu yang anda cari?

Membicarakan kesibukan, sebenarnya ada yang saya takutkan. Karena di dalamnya ada juga harapan. Dan ketika kita membicarakannya, kita cenderung merasa telah melakukannya. Ada efek psikologisnya di situ. Saya sering membawa tema ini saat ngobrol dengan teman-teman.

Bukankah itu bisa menjebak anda hingga tak memiliki tujuan?

Tidak juga. Saya hanya takut saat kita membicarakan tujuan, kita merasa itu sudah konkret. Saya punya tujuan dan harapan, jangka pendek dan panjang. Antara lain saya ingin berada dalam suatu ekosistem di mana saya dapat mempengaruhi orang-orang lewat itu sehingga lebih kondusif. Dan salah satu jalan yang saya pilih yakni lewat literasi. Jalan itu saya pikir adalah investasi yang mulia. Saya berharap ketika saya punya anak nanti, saya akan mengajarkannya untuk aktif terlibat dalam aktivitas literasi. Jadi untuk saat ini, berhubung saya belum berkeluarga, saya akan aktif ikut merawat ekosistem literasi bersama teman-teman.

Sangat mulia. Tunggu, anda ke Jogja saat ini mencari tempat bertapa baru?

Ya begitulah, selain sangat mengasyikan menikmati perjalanan dari Bandung ke Jogja.

Apalagi sambil baca buku puisi.

Ya benar. Saya membawa bukunya Aan Mansyur, Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau dan bukunya Martin Suryajaya, Terdepan Terluar Tertinggal. Ada sensasi yang tak bisa dijelaskan dalam keadaan sacam itu. Hanya bisa dialami sambil membaca puisi bait demi bait.

Anda ini sepertinya orang yang romantis.

Tidaklah. (Tertawa) Itu juga sekaligus jalan-jalan ke dalam diri, melihat betapa indahnya sesuatu yang ada di dalam sana. Sesuatu yang tak bakal kita temukan di jalan-jalan fisik.

Nah, anda kan memilih jalan literasi. Apakah anda berpikir dengan cara itu efektif mengubah orang banyak?

Tidak demikian. Itu sebenarnya adalah cara yang naif untuk mengubah orang banyak. Kita hanya perlu mengubah cara berpikir beberapa orang yang barangkali nantinya akan menjadi efek kupu-kupu, atau menyebar dari mereka ke orang lain. Terus begitu. Maka perubahan-perubahan kecil akan tumbuh menjadi perubahan-perubahan besar.

Apakah anda merasa nyaman dengan jalan yang anda pilih?

Memang sebelumnya ada rasa kebosanan dan kegelisahan, kemudian ada rasa keterpangilan. Dan ketika memilih jalan itu, ya, terasa benar saja. Jadi saya pikir itu yang membuat saya nyaman.

Lebih nyaman mana, sebelum atau sesudah mengenal literasi?

Kan perspektif ikut berubah. Tentunya lebih nyaman yang sekarang. Untuk sementara dan nanti mungkin akan berubah lagi.

Benar. Kalau saya lihat, sekarang ide yang anda geluti berkisar soal self improvement, apa alasan anda di balik ide itu?

Ya, saya memang tertarik dengan ide itu. Tapi sesungguhnya bukan itu yang sepenuhnya ingin saya bahas. Saya hanya ingin lebih terhubung dengan problem banyak orang. Dan memang kalau dilihat, wacana ini sangat umum dan universal. Di sisi lain, saya percaya ide-ide yang saya sampaikan itu dapat menopang kegelisahan orang-orang zaman kini yang semakin hari semakin gampang sedih dengan hidup mereka. Dan saya berharap, saya dapat menyediakan bahasa kepada mereka sehingga mereka dapat membaca kegelisahan dan kesepian mereka sendiri. 

Apakah yang anda maksud itu krisis kehidupan di tengah pandemi hari ini?

Iya, tapi pandemi hanya salah satu. Pandemi menunjukkan kepada kita perihal krisis hidup, tapi juga sekaligus menunjukkan krisis hidup tak hanya datang dari pandemi.

Di balik ide self improvement yang anda sampaikan itu apakah lebih banyak anda pahami atau anda rasakan?

Lebih banyak saya pahami sih. Tapi beberapa memang saya rasakan. Ini semata agar supaya ketika saya menghadapi situasi yang berat, saya bisa menanganinya, karena paham saya tahu harus berbuat apa. Di situ berarti saya mengalaminya lebih dulu.

Apakah anda yakin gagasan-gagasan itu bisa menolong krisis hidup orang-orang?

Ya, tidak hanya yakin. Saya juga mulai muak dengan teori-teori yang membuat kita mengalami keterputusan dengan kenyataan, kalau bukan putus kontak. Tapi mungkin di satu sisi, tidak ada teori yang tak berhubungan dengan kenyataan, kita saja mungkin yang belum mampu menerapkannya. Sebab, pada dasarnya teori mampu membuat kita berpikir rasional dan menganalisis kenyataan.

Apakah anda pernah mengalami ketegangan di antara dua kutub kenyataan dan teori?

Sering sekali. Dan saya memodifikasi teori atau idealitas saya, bukan kenyataan. Meskipun kita tahu bukan berarti teori atau idealiitas tidak bisa menawarkan apa pun terhadap kenyataan. Masalahnya hanya cepat atau lambat perubahan kenyataan itu terjadi. Ambil contoh misalnya di perkotaan, di mana perputaran ide itu massif dan berkembang. Sehingga di satu sisi, muncul tawaran gagasan untuk kemajuan kota tersebut. 

Luar biasa. Sebentar, Bung Tyo sudah makan?

Sudah. Saya tahu wawancara ini akan banyak menguras pikiran, jadi harus makan.

Baiklah. Bisa ceritakan seperti apa seorang Tyo sebelum terjun ke dunia literasi?

Hmm… Lebih ke tidak ada hambak (kegiatan) sih. (Tertawa) Selain itu terlalu banyak keinginan yang tak bisa dirasionalisasi ditambah lingkaran pertemanan saya yang nakal-nakal bareng. Sampai di satu momen saya berpikir ini karena kita tak punya wadah untuk meluapkan testosteron kita di hal-hal yang produktif.

Apakah ada inspirasi lain selain lingkaran pertemanan anda itu?

Oh, ada. Waktu itu di organisasi, saya berdebat dengan senior dan saya kalah di hadapan adik-adik yang saya kader. Saya jadi malu. Itu memicu saya untuk membaca buku demi balas dendam, demi mendebat kembali senior saya. Dari dendam ini kemudian di satu titik menjelma jatuh cinta pada buku. Dendam saya berubah jadi rasa terima kasih. Dan saya pada akhirnya membaca buku demi membaca buku, demi kesenangan membaca itu sendiri. Di samping itu saya juga mulai belajar menulis sampai jatuh cinta dengan menulis.

Berarti sekarang anda merasa sudah tidak nakal?

Entahlah. (Tertawa) Nakal itu bukan tidak boleh. Nakal boleh tapi nakal produktif, satu kesadaran yang membuat seseorang harus tahu bahwa kenakalannya tidak merugikan orang lain. Para filsuf itu sebenarnya nakal, tapi nakal produktif. Mereka tak disenangi karena ide baru yang mereka tulis. Di sisi lain saya berharap dengan pilihan ini, saya juga dapat membantu teman-teman agar punya saluran alternatif untuk mengembangkan minat baca-tulis dan pengetahuan mereka.

Ya, Sepakat. Nah, bagaimana aktivitas menulis anda sekarang?

Kalau menulis masih. Tapi saya tidak ingin memasukkannya ke dalam kesibukan yang saya maksud di awal tadi. Takutnya ketika saya jadikan kesibukan, itu jadi beban. Dua tahun lalu saya bernazar setiap hari harus ada satu tulisan. Jadi tiap tahun ada 365 tulisan sesuai jumlah hari. Dan pada akhirnya saya merasa saya membebani diri saya sendiri. Terlepas dari menulis sudah jadi kebutuhan saya.

Masuk akal. Bahkan ketika menulis jadi beban, itu dapat mempengaruhi kualitas atau kedalaman isi tulisan kita.

Iya benar. Menulis harus berangkat dari permenungan dan analisis yang mendalam.

Kopi dulu, Bung.

Siap.

Apakah anda sudah pernah menulis buku?

Iya. Kemarin baru terbit berkat inisiatif seorang teman. Judulnya Aku Tidak Tahu bahwa Aku Tidak Tahu Apa-apa. Meskipun saya masih malu sih karena banyak kekurangan, baik ide ataupun tema tulisan. Tulisan itu berisi bunga rampai atau kumpulan tulisan. Dan sebenarnya sudah sejak 2019 saya berniat menerbitkannya, tapi karena penyakit overthinking dan perfeksionis, niat itu urung dilakukan.

Dari judul, buku anda itu sepertinya berisi ide-ide filosofis (?)

Saya belum berani bilang begitu. Hanya renungan pribadi saya, baik dari hasil bacaan maupun pertemuan dengan orang-orang tertentu.

Baiklah, Bung. Nah, kalau bisa tahu apa hobi anda?

Sekarang lagi senang main-main biola. Tapi bukan latihan untuk jadi profesional. Karena memang dari dulu saya suka musik. Selain itu tahun lalu saya sempat suka menggambar sketsa, tapi tidak bagus-bagus amat. Sebab, konon kalau kita hobi menggambar, dapat membantu kita menulis dengan detail. Mungkin karena dalam melakukannya, kita sangat memperhatikan hal-hal kecil.

Luar biasa. Nah, kemarin apakah anda mengikuti polemik teater Pingkan-Matindas di daerah?

Iya, kalau saya sendiri melihat di balik polemik itu ada keuntungannya. Sebab dapat membantu dua etnis ini, Bolmong dan Minahasa, untuk saling memahami, di samping memicu kembali orang Bolaang Mongondow untuk menelusuri dan membaca kembali sejarah. Tapi dari satu wacana itu, muncul wacana-wacana baru yang tak sehat. Begini, saya sempat menulis tanggapan soal itu, dan maksud saya adalah bagaimana supaya dialog antar-dua etnis ini terjadi. Namun yang menyembul ke permukaan adalah narasi memenjarakan. Itu kan sangat disayangkan. 

Polemik tersebut memang menciptakan proses dialektis yang melahirkan kesadaran baru untuk membaca dan mengenal sejarah lebih dalam.

Seperti itu maksud saya.

Baiklah, Bung Tyo. Sekian mungkin percakapan kita yang mulia nan bikin baper ini. Terima kasih untuk waktu dan kesempatannya. Sukses selalu.

Sama-sama. Sukses juga untuk Berandakota dan kawan-kawan Berandakota.

(Visited 126 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan