Ngopi di Beranda Bersama Nany Diansari Korompot

0 695

Berandakota –

“Kertas lebih sabar dari manusia,” demikian tulis Anne Frank dalam bukunya “The Diary of A Young Girl”, sebuah otobiografi yang berisi pengakuan, harapan, keputus-asaan, serta observasi seorang remaja yang hidup dalam keterbatasan.

Anne Frank adalah seorang remaja perempuan berusia 13 tahun yang menyusun batinnya yang pucat dalam sebuah “buku tulis” di tengah tragedi yang melanda Eropa di masa itu. Ia senantiasa bercakap dengan dirinya sendiri dan menulis hasil percakapan itu dengan rapi di atas kertas.

Tak jauh beda dengan Anne Frank, tamu kita kali ini di Ngopi di Beranda, Nany Diansari Korompot, juga memancarkan spirit yang serupa.

Menulis baginya adalah jalan pulang, yakni pulang ke dalam diri sendiri. Tapi bukankah kita tak pergi ke mana-mana? Barangkali kita dapat memaknainya sebagai menulis dengan cara meniupkan nyawa pada setiap kata-kata. Dan nayawa itu adalah suara-suara dari sudut tergelap dalam dada manusia.

 

Halo, Apa kabar, kak Nani?

Alhamdulillah, baik.

Kesibukan apa sekarang?

Saya dua tahun ini fokus dengan si kecil di rumah.

Sudah umur berapa anaknya?

Sudah hampir dua tahun.

Selain fokus mengurus anak, apakah ada kesibukan lain?

Prioritas memang mengurus anak, tapi sudah bisa membagi waktu dengan hal-hal lain, seperti menulis lagi, misalnya. Sebelumnya memang full time mengurus anak, karena saya memang sendirian di rumah. Jadi, itu prioritas saya sekarang ini.

Suka menulis?

Iya, saya sangat suka menulis.

Sekarang ini sedang menulis tentang apa?

Sekarang lagi mengumpulkan gagasan-gagasan perihal kehidupan di masa pandemi sebagai bahan untuk tulisan saya. Untuk saat ini masih draf, sih. Semoga cepat selesai sebelum…

Sebelum apa, sebelum negara api menyerang?

Sebelum habis pandemi. (Tertawa)

Bukankah sudah banyak tulisan soal pandemi?

Iya, banyak. Tapi kebanyakan sifatnya data driven. Atau lebih ke prediksi epidemiologis dan hal ihwal perkembangan pandemi dari waktu ke waktu. Padahal di balik itu, ada cerita-cerita yang sifatnya heartwarming yang saya pikir bagus untuk dipotret. Seperti momen-momen mengharukan atau lucu dalam kehidupan sebagian orang yang bertahan di tengah badai pandemi.

Mengapa tertarik menulis soal itu?

Begini. Pandemi ini kan bisa dikatakan seratus tahun sekali. Sayang kalau kita tidak meninggalkan jejak apapun tentang masa-masa kelam dan sulit ini.

Luar biasa ide tulisannya. Entah ada hubungannya atau tidak dengan dunia kepenulisan, Anda sebenarnya kuliah di mana sehingga bisa suka menulis?

Saya kuliah di Universitas Gorontalo (UNG), dan mengambil jurusan Bahasa Inggris. S2 di Universitas Indonesia (UI), jurusan European Studies atau Hubungan Internasional. Perjalanan studi saya sedikit banyak memang menunjang perihal kepenulisan, tapi saya suka menulis sudah sejak SMP. Saya selalu membawa buku harian, dan menulis apapun yang ingin saya tulis. Sampai sekarang pun saya menulis di buku harian.

Semasa kuliah apakah pernah ikut organisasi ekstra?

Tidak. Tidak pernah. Saya full diteater. Sampai saya lulus S1.

Setelah lulus S1 di UNG, apakah langsung lanjut di UI?

Saya ASN di SMA 1 Kotamobagu. Selama satu tahun mengajar di situ.

Selama menjadi ASN itu apakah sudah memiliki niat melanjutkan pendidikan?

Sebenarnya hanya persoalan saya kurang cocok dengan kehidupan birokrasi dan sistem di dalamnya. Hingga kemudian saya terpikir, kayaknya harus lanjut kuliah. Dari situ kemudian saya memilih melanjutkan S2 di UI.

Jadi sekrang statusnya ASN?

Tidak lagi. Setelah selesai S2 tahun 2012, nanti 2016 saya memutuskan untuk resign dari ASN.

Mengapa bisa, bukankah itu yang diidam-idamkan oleh banyak orang?

Pekerjaan ini seperti jodoh. Cocok-cocokan. Anda sendiri pastinya memilih pekerjaan yang anda sukai dan tentunya itu harus cocok. Dan memang ada orang-orang yang sempat berkomentar, kamu ini tidak bersyukur. Saya hanya menjawab, bukan tidak bersyukur, hanya tidak jodoh saja. Tapi kan guru itu profesi yang mulia, kata mereka. Iya, tapi saya memutuskan untuk berhenti menjadi ASN bukan berarti berhenti mengajar atau menginspirasi. Ada terlalu banyak ruang belajar dan mengajar di dunia ini. Masuk dalam sistem birokrasi itu bagi saya menguras energi kreatif. Bukan soal mengajarnya, tapi rutinitasnya yang kadang seperti menghentikan imajinasi saya.

Apa yang ditekuni setelah memutuskan berhenti jadi ASN saat itu?

Saya sempat merintis usaha Bersama teman-teman di Rumah Manggis, atau dikenal dengan Panti Sehat. Itu sebenarnya bisnis Herbal Life yang didesain sebagai tempat sarapan sehat dan konsultasi gizi. Dulu ramai sekali. Namun ketika negara api (pandemi) menyerang ditambah fokus mengurus buah hati di rumah, maka tempat itu ditutup dan untuk sementara dijalani dari rumah.

Suka juga berbisnis?

Awalnya saya tertarik ketika beli dan mencoba produk Herbal Life itu. Berat badan saya turun. Orang-orang kemudian banyak yang tanya. Dari situlah saya mulai merintis bisnis ini. Dan lumayan sukses jika dilihat dari pendapatan perbulan saya. Tapi tak seintens dulu. Soalnya fokus mengurus anak di rumah.

Siapa nama si kecil?

Wanua Maitreya Irfani.

Wah, namanya unik. Jadi untuk panggilan khas Mongondow, dipanggil mama’ siapa?

Mama Nua. (Tertawa)

Ok, siap mama Nua. Nama Maitreya sendiri adalah nama dari seorang Buddha masa depan, yang–dari arti di balik nama itu sendiri–adalah cinta kasih.

Ya, nama Maitreya sendiri terinspirasi dari buku Tasaro GK, Muhammad, yang pernah saya baca. Dalam buku itu, banyak kajian yang mengatakan bahwa Buddha Maitreya adalah Muhammad. Meskipun di kalangan Buddha sendiri argumen ini ditolak, karakter Buddha Maitreya dan Rasulullah memiliki kesasamaan. Terlepas dari mengkotak-kotakan agama, ajaran Buddha Maitreya adalah cinta kasih. Maka sekiranya nama Maitreya tepat sebagai nama yang penuh makna.

Selain penuh makna, nama Maitreya memang terdengar indah.

Teman-teman pernah bilang bahwa nama itu terlalu berat, nanti si anak sakit-sakit. (Tertawa). Mereka salah. Sekarang mulai kelihatan hebatnya, lari-lari, naik di kursi dan sebagainya. Jadi sesuai dengan namanya, bukan? (Tertawa)

Benar. Nah, selain menulis apakah anda punya hobi lain?

Jalan-jalan. Hobi seni, atau suka seni. Kalau menulis memang benar, itu passion saya. Sudah beyond dari sekedar hobi. Dulu sering Diving juga bersama teman-teman. Malah, saya lebih dulu belajar Diving sebelum mengenal renang. (Tertawa)

Menyelam sambil tenggelam. Menarik, memang jika sudah merasakan sensasi melayang didalam air, apa lagi yang harus ditakutkan saat belajar mengapung. Baik, seperti Apa sih jalan juang kepenulisan anda?

Nama blog saya adalah Jalan Pulang. Karena bagi saya menulis itu adalah jalan pulang. Menulis itu semacam refleksi, meskipun insight menulis bisa datang dari mana saja. Artinya, kita kadang terlalu sibuk dengan segala hal yang di luar diri kita, dan lupa menatap dan mengunjungi diri kita sendiri–tubuh, pikiran, dan perasaan kita.

Apakah yang anda maksud menulis itu tidak selalu tentang menyampaikan sesuatu?

Ya, bagi saya menulis itu tidak semata-mata bertujuan menyampaikan sesuatu. Tapi lebih ke penggalian diri sendiri. Nanti juga pembaca akan membacanya dengan latar mereka masing-masing. Sebab setiap orang punya backround berbeda, kan. Sehingga yang tiba dalam benak dan perasaan mereka berbeda-beda pula.

Great. Buku apa yang meginspirasi sekaligus yang memengaruhi gaya anda menulis?

Karya-karya Ayu Utami dan Oka Rusmini. Itu saya baca sudah dari tahun 2008. Kalau buku puisi hampir semua saya suka. Entah itu dari penyair lama atau baru. Ada teman saya  sastrawan di Gorontalo, Jamil Massa, semua puisinya saya suka. Dan pastinya novel Amba karya Laksmi Pamuntjak dan Pulang-nya Laila Chudori

Berarti Anda juga terpengaruh dengan wawasan di balik karya Ayu Utami “si parasit lajang” itu? Yang banyak mengankat gagasan-gagasan Postkolonial?

Dulu sempat terpengaruh, sih. Spirit dari karya Ayu Utami seolah memberi saya jalan terbuka memahami realitas. Namun kita tahu setiap orang bertumbuh, bukan, dan harusnya membaca semua buku.

Bagaimana dengan puisi, apakah Anda punya pemahaman soal pembedaan puisi yang bagus dan puisi yang jelek?

Sejujurnya saya lebih melihat ke cara menulis puisinya, apakah diksinya padat atau tidak. Dan selain itu, perbendaharaan kata disini diperlukan. Ini kaidah, dan dibaca pun terasa enak. Emosinya sampai. Selain itu butuh kondisi yang bisa memicu penghayatan.

Apakah kondisi-kondisi itu semacam kesepian, kesunyian, kesedihan, dan semacamnya?

Iya, semacam itulah. Kebanyakan penyair itu suka dengan patah hati, misalnya. Mereka seperti sengaja meleburkan diri dalam situasi itu.

Kalau bahagia kayaknya sulit, ya?

Tidak juga. Asalkan benar-benar bahagia, atau benar-benar merasakan bahagia. Bukan pura-pura bahagia. (Tertawa)

Sepakat. Selama menulis, apakah ada tulisan yang bagi anda paling berkesan?

Ya, ada. Waktu itu saya dihubungi untuk menjadi salah satu penulis tentang cerita rakyat nusantara untuk dijadikan buku kumpulan tulisan. Waktu itu peluncurannya tepat di masa menteri pendidikan Anis Baswedan. Dan saya ditunjuk mewakili Sulawesi Utara. Saya kemudian menulis cerita rakyat Bolmong tentang Mokodoludut. Buku itupun dialih bahasakan dan di-launching di beberapa negara. Buku yang cukup tebal. Selain itu, saya juga pernah menulis tentang Perang Pontodon. Ini tulisan yang berkesan juga bagi saya.

Bisa diceritakan sedikit kisah tentang Perang Pontodon?

Perang itu tentang perlawanan rakyat Pontodon terhadap Belanda yang menduduki perkebunan mereka tahun 1904-1905. Menariknya dalam perang itu, pemimpin perangnya adalah perempuan. Namanya Bai’ Sopina. Dan paling menyayat hati, para lelaki kala itu dibawa oleh Belanda dengan kapal entah kemana. Saya mencari-cari informasi soal itu sampai sekarang, tapi tak didapat. Akhirnya saya tak hanya menulis kisah perang ini, saya juga menulis puisinya. Judulnya “Pengasingan”. Puisi ini bahkan ketika saya baca berulang-ulang, masih tetap dalam. Tentang puisi ini, saya membayangkan perasaan para lelaki yang dibawa dan diasingkan itu. Membayangkan nasib mereka yang pilu terpisah dari istri mereka.

Apakah emosi itu otentik? sebab Anda menggambarkan sudut pandang lelaki yang terasing itu sebagai seorang perempuan dan mengekspresikan kegelisahan mereka lewat puisi.

Soal otentik atau tidak, tidak bisa diukur, bukan. Saya hanya berusaha merasakan dan membayangkan emosi mereka dengan memilih diksi-diksi yang tidak cengeng, artinya memilih diksi-diksi yang bernuansa maskulin. Meskipun sebenarnya lebih sedih dan kelam saja jika lelaki langsung yang menulis perasaan mereka dibanding perempuan.

Ya, kadang lelaki begitu mudah gamang dan lebih rapuh ketimbang perempuan.

Entahlah. Sepertinya tergantung pengalaman sih. (Tertawa)

Nah, terakhir. Menjadi perempuan ideal itu seperti apa sih menurut Anda?

Sebenarnya, menjadi ideal itu bukan soal perkara-perkara yang disematkan orang lain kepada diri kita. Tapi tentang menjadi diri kita sendiri.  Bagi saya, menjadi perempuan yang sesungguhnya itu bukan membanding-bandingkan diri kita dengan perempuan lain, apalagi laki-laki. Menjadi perempuan adalah memenuhi segala apa yang kita inginkan sebagai perempuan. Ingin cantik, jadilah cantik. Ingin berpengetahuan, belajarlah seluasnya. Ingin menjadi ibu, lakukan sebaik-baiknya. Memilih karir, berbuatlah sehebatnya.

Terima kasih, Kak, atas waktu dan kesempatannya. Sukses dan sehat selalu.

Sama-sama, Sukses juga Berandakota.

 

 

(Visited 50 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan