Antroposentrisme dalam Pusaran Bencana Alam

0 598

Apa itu bencana alam? Apa syarat bagi suatu bencana dikatakan alamiah? Apa yang kita maksud saat mengatakan sesuatu sebagai bencana alam dan bukan bencana alam? Jika tidak ada manusia di bumi, mungkinkah ada yang disebut bencana alam? 

Pertanyaan bertingkat di atas pada akhirnya mengandaikan perspektif realisme metafisis terhadap dunia di mana kita tinggal, suatu pemahaman bahwa alam bekerja dengan caranya sendiri tanpa peduli hancurnya suatu kota yang mewah dengan segala teknologi pendukungnya. Artinya, mungkinkah kita mengatakan erupsi gunung berapi sebagai bencana alam ketika kita tidak bermukim di kaki gunung berapi tersebut?

Secara umum, anda mungkin akan mencari asal-usul kejadian suatu bencana untuk mengatakan ini bencana alam dan itu bukan bencana alam. Tapi itu semua karena kita tinggal di bumi dengan segala berkah dan getarannya. Akhirnya kita menilai gempa, banjir, dan tsunami adalah bencana. Kita ketakutan.

Namun bukankah sebagian besar planet mengalami gempa? Di Bumi, itu disebut gempa bumi. Di Mars, itu disebut marsquakes. Di Bulan, itu adalah gempa bulan. Di Bumi ini, kita mengalami setidaknya 1,44 juta gempa bumi setahun. Dan ketahuilah bahwa bumi itu seperti pesawat luar angkasa yang bergerak. Ia bergerak seperti pesawat raksasa yang mengorbit matahari dan selama proses itu, tekanan dan ketegangannya dilepas ke permukaan.

Jadi, apa yang disebut bencana alam adalah alamiah. Dan kita bisa berbuat sesuatu agar kerusakan tidak begitu parah saat itu terjadi. Kita bisa memilih membuat rumah dan berkebun di tempat yang aman, jauh dari banjir dan longsor, atau membangun rumah dari kayu agar tidak roboh saat gempa.

Oleh sebab itu, setiap negara atau setiap kota yang berbeda saat mengalami gempa secara bersamaan, akan mengalami tingkat kerusakan yang berbeda pula; masyarakat pemburu pengumpul dan agraris tidak akan merasakan kehilangan yang sama ketika banjir menyerang tempat mereka.

Filsuf besar Prancis, Voltaire, melihat gempa bumi sebagai tanda Tuhan menunjukkan kekuatan, kemuliaan dan kekuatan-Nya. Voltaire menulis puisi emosional setelah gempa bumi untuk mendorong orang Kristen yang menderita agar bertobat dan tangguh dalam iman mereka kepada Tuhan. Jean-Jacques Rousseau tidak sepakat. “Alam tidak membangun ribuan rumah bertingkat yang runtuh itu,” tulis Rousseau dalam suratnya kepada Voltaire.

Dalam gagasan kontemporer, soal bencana alam sudah bergeser ke perspektif campur tangan manusia. Banjir, longsor, dan cuaca ekstrem dianggap tidak sedikit disebabkan oleh aktivitas manusia bersamaan dengan tingkat populasi yang banyak.

Konsekuensinya, kita harus melihatnya tidak sekadar sebagai kondisi alamiah yang tak terhindarkan, tapi juga dengan perspektif moral. Ada tanggung jawab di situ. Sebab, sejauh ada tindakan agen moral, sejauh itu pula pertanggungjawabannya dimungkinkan. Manusia dan segala lembaga buatannya, secara moral harus bertanggung jawab.

Jika demikian, berdasarkan perspektif campur tangan manusia, masih mungkinkah kondisi yang kita sebut bencana alam? Ketika Vesuvius meletus dan mengubur Pompeii, apakah itu benar-benar bencana alam? Bangsa Romawi sama sekali tidak tahu–di dunia mana pun yang masuk akal – bahwa hal seperti itu selalu mungkin terjadi. Mereka tidak bisa diharapkan untuk mencegah bencana, baik dengan mendirikan stasiun pemantauan di dekat gunung berapi dan melatih rencana evakuasi massal, atau hanya memindahkan kota ke tempat yang lebih aman. 

Studi bencana kritis telah lama menyatakan bahwa bencana alam itu tidak ada. Penekanan berlebihan pada kealamian peristiwa alam, seperti gempa bumi dan badai, sebagai akar penyebab bencana telah diperdebatkan setidaknya selama 260 tahun terakhir.

United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) menjelaskan bahwa tingkat keparahan bencana tergantung pada “pilihan kita berhubungan dengan bagaimana kita menanam makanan, di mana dan bagaimana kita membangun rumah, pemerintahan seperti apa yang kita miliki, bagaimana sistem keuangan kita bekerja dan bahkan apa yang kita ajarkan di sekolah. Setiap keputusan dan tindakan membuat kita lebih rentan terhadap bencana, atau lebih tahan terhadapnya.”

Oleh sebab itu, beberapa bencana alam yang sesungguhnya mungkin masih terjadi, seperti hantaman asteroid, atau gempa bumi di tempat yang belum pernah dialami sebelumnya. Tetapi ini adalah kemungkinan yang kecil. Saat ini, hampir semua bencana adalah ulah manusia. Dan apakah itu bisa dicegah? Kita tinggal di sebuah dunia yang nyaris padat. Setiap sisi bumi tak lepas dari bau manusia. Permukiman yang tak beraturan ada di mana-mana, deforestasi tak terkendali, kebijakan pembangunan tanpa pertimbangan dan lain sebagainya.

Dari Filsafat ke Bencana

Dalam tataran etis, diskusi ini mengasumsikan dua pandangan dunia yang bekerja di balik hubungan manusia dengan alam, antroposentrisme dan biosentrisme. Kedua sentris ini memungkinkan etika macam apa yang baik untuk relasi manusia dan alam. 

Yang pertama memusatkan pada manusia sebagai entitas hidup yang utama, sedang yang kedua menganggap semua entitas hidup adalah setara sebagai ukuran nilai. Martin Suryajaya dalam esainya Antroposentrisme dan Krisis Lingkungan Hidup, membedakannya menjadi ekologi dangkal dan ekologi dalam bersama kriteria etisnya masing-masing:

“Antroposentrisme, tesis bahwa prinsip-prinsip etis mengenai lingkungan hidup ditentukan oleh kepentingan manusia. Sedangkan biosentrisme, tesis bahwa prinsip-prinsip etis mengenai lingkungan hidup ditentukan oleh kepentingan seluruh organisme.”

Pembedaan Martin ini sebenarnya mengundang perdebatan panjang soal humanisme di hadapan musuh-musuhnya sejak abad pertengahan hingga memasuki abad pencerahan. Humanisme menentang ihwal segala sesuatu yang lebih tinggi dari manusia karena dianggap mereduksi kemanusiaan hingga ke tingkat paling ekstrem. Agama dianggap sebagai serangan terhadap humanisme karena mengajarkan ada entitas seperti Tuhan yang didudukkan lebih tinggi dari manusia. Meskipun dalam perkembangannya, entitas itu terus mendapat definisi baru dan pelan-pelan diterima sebagai definisi paling rasional yang pernah ada. Orang-orang menyebutnya tuhannya para filsuf. 

Memang biosentrisme adalah kritik yang halus terhadap antroposentrisme. Ia tidak dimaksudkan menggantikan kedudukan ilahi. Sebab, dalam pemahaman biosentrisme, alam atau lingkungan hidup dipersembahkan untuk semua organisme hidup, tidak hanya untuk manusia. Artinya, ada kesetaraan yang ditawarkan dengan melekatkan hak kepada semua. Dengan demikian, ketika bencana menyerang akibat ulah beberapa manusia, tidak hanya hak manusia lain yang hilang dalam perspektif biosentrisme, tapi juga hak organisme lain–monyet, rumput, pohon cemara, tikus, dan lain sebagainya. Tapi, ada tapinya. Apakah kejahatan dan kebaikan manusia terhadap lingkungan berasal dari luar jangkar hukum alam?

Persoalan Pelik Antroposentrisme

Jika kita mengatakan alam dan manusia sebagai satu kesatuan, maka kejahatan manusia atas alam atau lingkungan tak bisa dihindari. Seluruh produk sejarah yang kita nikmati saat ini, tidak hanya berasal dari satu sumber dan rencana tertentu, tapi dari semua sumber yang terakumulasi menjadi apa yang kita sebut budaya modernisme. Negara, senjata, teknologi dan globalisasi adalah produk panjang yang dimulai dari zaman pemburu pengumpul hingga zaman android.

Sebaliknya, jika kita mengklaim bahwa manusia dan alam sejatinya satu hanya saja manusia punya tanggung jawab lebih, maka ada benarnya menyalahkan hampir semua bencana kepada manusia. Sebab, selain ia punya tanggung jawab, ia juga punya kemampuan berpikir, menyayangi, beragama dan berimajinasi. Dan lebih menentukan lagi, manusia punya kemampuan membunuh untuk membunuh dan merusak untuk merusak. Berbeda dengan singa, misalnya, ia membunuh hanya untuk makan. Dengan demikian segala-galanya antroposentrisme. Manusia menentukan kebaikan alam dan manusia pula yang bersalah atas kerusakan alam.

Perbedaan antara bencana alam dan nonalam menjadi samar di sini. Mari kita melakukan eksperimen pikiran. Kejahatan manusia adalah produk alam identik dengan, misalnya, kejahatan erupsi gunung berapi. Hanya saja pada manusia, kita menciptakan sejenis fiksi bahwa agen moral adalah hasil kehendak bebas yang luput dari proses seleksi alam. Bencana akibat ulah manusia, seperti Chernobyl atau Deepwater Horizon atau Bhopal atau Grenfell Tower, diakui sebagai akibat dari keputusan lalai manusia. Namun asumsi kita di sini sama, kesalahan manusia masuk kategori bencana alam, sebab manusia adalah juga produk alam, hasil seleksi yang nyaris sempurna. Baik sempurna kebaikannya maupun sempurna kejahatannya. Pemahaman ini mengandaikan sebentuk asumsi metafisika integralisme bahwa tak ada pun di luar jangkar hukum alam. Oleh sebab itu, masih adakah bencana yang disebut bencana alam dan nonalam? Masih pentingkah pembedaan itu?

Tapi, kita harus mengakui fakta bahwa dalam dunia nyata, sedikit banyak kita memperparah korban bencana dengan campur tangan kita. Kita membangun rumah di bantaran kali, membuang sampah sembarangan, dan menebang pohon sepuasnya tanpa peduli efeknya yang merusak. Kita setidaknya dapat mengantisipasi itu dengan segala upaya yang ada, namun kita tidak melakukannya.

Apa yang disebut bencana alam harus sepenuhnya disebabkan oleh kekuatan di luar kendali manusia. Mereka tidak bisa dihindari. Tidak ada yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Tapi jika kita dan pemerintah kita dengan sengaja mengelak dari fakta itu dengan tindakan dan kebijakan-kebijakan yang keliru, kita mungkin tak meratapi korban bencana sebanyak yang pernah kita lakukan sampai hari ini.

(Visited 263 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan