No Brain No Pain

0 1.144

Bayangkan anda adalah seorang suami dari keluarga kecil yang membeli lahan di sebuah desa yang jauh dari perkotaan. Lahan itu nantinya akan anda bangun rumah untuk istri dan anak-anak anda. Dua tahun masa membangun, sebelum anda bersama keluarga mendiaminya.

Setelah lima tahun tinggal dan memiliki rumah di sebuah desa yang sejuk dan damai, kabar horor tiba. Seorang tetangga entah ada angin apa dengan gugup mengungkap sejarah kelam di balik lahan anda itu. “Pak,” kata tetangga, “Begini, tanah bapak ini dulunya pernah menjadi tempat pembantaian satu keluarga.”

Mendengar kabar itu, perasaan anda tak lagi sama. Tanah di bawah rumah anda menyimpan masa lalu yang mengerikan. Anda kini tahu dan merasa tak lagi senyaman dulu, anda gelisah.

Ilustrasi sederhana di atas memberi gambaran perihal efek pengetahuan terhadap kondisi psikologis kita, meskipun itu hanya berupa pengetahuan sederhana yaitu informasi di masa lalu. Namun bagaimana dengan pengetahuan kompleks seperti sains dan filsafat?

Batas Pengetahuan dan Teror Eksistensial

Banyak para filsuf dan ilmuan pada akhirnya bergulat dengan kondisi batas pengetahuan mereka. Dalam proses pencarian, gaung Socrates selalu terngiang–mereka kini tahu bahwa mereka tidak tahu. Sebab, apa yang disebut realitas, hanya menampakkan kulitnya di hadapan bahasa dan pemahaman kita, misteri tetap merentang tanpa batas.

Ketika Kant merumuskan pembedaan ontologis antara fenomena dan nomena, ia secara intuitif berangkat dari kesadaran akan batas pengetahuan dalam merumuskan kenyataan. Ia kemudian sampai pada kesimpulan ala Copernican bahwa selalu ada yang senantiasa luput dari setiap objek pengalaman. Konsekuensinya, apa yang kita sebut kenyataan bukanlah kenyataan sebagaimana adanya. Kant menyebutnya nomena, sebuah dunia di balik objek pengalaman atau das ding an sich.

Contohnya, anda melihat anjing tua tidur di kursinya. Ujung ekornya melengkung di bawah moncongnya. Anda kemudian berpaling dan melihat ke belakang. Tidak ada yang berubah.

Anda punya banyak alasan untuk percaya bahwa pengamatan anda terhadapnya tidak berpengaruh apa pun kepadanya. Apa yang dilakukan anjing tidur saat kita menatapnya, persis apa yang mereka lakukan saat kita tidak menatapnya. “Saya tidak menuntut teori sesuai dengan kenyataan karena saya tidak tahu apa itu. Kenyataan bukanlah kualitas yang dapat anda uji dengan kertas lakmus. Yang saya khawatirkan adalah bahwa teori itu harus memprediksi hasil pengukuran,” demikian kata Stephen Hawking.

Lantas, apa yang kita sebut realitas semata adalah konstruksi pikiran kita? Ini kesimpulan yang tergesa-gesa. Seorang penganut sains fanatik bakal menjawabnya dengan cara reaksioner pula, “coba anda lompat dari gedung 100 lantai”.

Namun jika iya, maka apa yang orang pikir mereka alami sebenarnya disaring dan diproses otak untuk membangun pandangan yang berguna tentang dunia. Biasanya, pemfilteran ini membantu dan memungkinkan seseorang untuk memilah informasi penting dari rentetan data yang datang setiap menit dari lingkungannya. Dengan demikian, sebagai anggota masyarakat, seseorang atau setiap orang menciptakan suatu bentuk realitas kolektif, yang berarti kita semua adalah bagian dari komunitas tersebut.

Mengacu pada problem itu, kita juga pada akhirnya mempersoalkan tentang objek teori ilmiah saat ini. Apakah quark berwarna itu nyata? Atau apakah mereka hanya menyimpan bukti empiris yang kita miliki tentang interaksi kuat dalam kromodinamika kuantum? Apakah Higgs boson itu nyata? Apakah Materi gelap itu nyata? Apakah kita nyata?

Konsekuensinya, sains dan filsafat kini berbagi masalah soal hakikat realitas. Meskipun kita tahu, sains telah menyumbang banyak hal dalam kemajuan umat manusia saat ini, dan filsafat sering turun gunung saat sains mulai menyeleweng dari kawasan nilai kemanusiaan.

Tetapi tunggu dulu, bagaimana kondisi kesadaran dan perasaan para filsuf dan ilmuan yang terjebak dalam zona yang menggelisahkan ini? Sekadar menebak-nebak: mereka takjub, tapi juga sekaligus susah tidur. Artinya, usaha intelektual mereka tidak hanya menghasilkan gambaran realitas dan setelah itu selesai. Namun ada jejak pertanyaaan yang tertinggal yang membuat mereka merasa kurang nyaman dalam hidup. Mereka menjadi berbeda dengan kebanyakan orang lain. Dan dalam sejarah, mereka tidak pernah banyak, mereka selalu adalah minoritas. Kesepian pula. “Aneh rasanya menjadi terkenal,” kata Einstein, pilu, “namun begitu kesepian.”

Einstein tidak sendiri sebenarnya. Ada banyak. Momen ini dapat kita amati lewat kerangka yang disebut Dunning-Kruger Effect.

Jika anda belum pernah mendengar istilah tersebut sebelumnya, anda pasti pernah mengalami cara ia bekerja. Ini adalah aturan psikologis yang menyatakan orang yang paling tidak kompeten adalah yang paling percaya diri, sedangkan yang cerdas meragukan kemampuan mereka sendiri. Sederhananya, orang bodoh terlalu bodoh untuk mengetahui betapa bodohnya mereka. Sedangkan orang cerdas cukup pintar untuk mengetahui seberapa banyak yang tidak mereka ketahui.

Demikianlah takdir mereka yang berpikir. Di samping ketakjuban mereka atas realitas, mereka juga cepat atau lambat sampai pada suatu momen eksistensial yang agak gelap: ragu, cemas, bahkan nyaris depresi. Kecerdasan itu luka.

Nasib Buruk Berpengetahuan

Selain itu, pengatahuan selalu berasosiasi dengan keyakinan hingga memberi efek sosial yang tak jarang menyakitkan. Anda menjadi sangat idealis sambil menentang konstruksi budaya mapan dalam sebuah masyarakat. Tetapi di samping menentang, nyaris menjadi hukumnya bahwa anda juga akan ditentang.

Sepanjang abad ke-16 dan ke-17, Gereja terus merasa terancam oleh gagasan-gagasan yang muncul dari para ilmuwan, terutama Copernicus, Bruno, Kepler, Galileo, dan Newton. Sebagai tanggapan, gereja menganggap mereka bidah dan menyerang beberapa dari mereka seperti membakar Bruno di tiang pancang dan menempatkan Galileo dalam tahanan rumah sampai kematiannya pada 1642. Apakah para penentang doktrin gereja ini merasa nyaman dengan tindakan mereka? Secara sosial mereka tentu merasa terancam. Karena selain menentang keyakinan mayoritas, mereka juga menentang tatanan budaya yang dijaga sedemikiah rupa oleh penganutnya.

Dalam konteks ini, seseorang juga akan terlibat dalam aktivitas parrhesia, atau orang yang mengatakan semua yang ada dalam pikirannya: dia tidak menyembunyikan apa pun, tetapi membuka hati dan pikirannya sepenuhnya kepada orang lain melalui wacananya. Seorang utusan selalu tewas dalam adegan sebuah film perang kolosal ketika datang membawa kabar kepada rajanya.

Kata “Parrhesia” muncul untuk pertama kalinya dalam literatur Yunani sekitar 484-407 SM. Saat ini, kata itu umumnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “freedom of speech”, dalam bahasa Prancis “franc-parler“, dan dalam bahasa Jerman “freimüthigkeit“. “Parrhesiazomai” adalah menggunakan parrhesia, dan “parrhesiastes” adalah orang yang menggunakan parrhesia, yaitu orang yang mengatakan kebenaran.

Namun muncul persolan di sini, apakah parrhesiastes adalah orang yang mengatakan kebenaran atau sesuatu yang menurutnya benar?

Pada dasarnya, semua orang dapat mengaku mengatakan kebenaran–entah kebenaran tentang politik, ekonomi, sains, filsafat, bahkan kebenaran tentang kehidupan seorang artis seperti Raffi Ahmad. Kita mungkin akan mengatakan bahwa kebenaran-kebenaran lain tidaklah penting; bahwa hanya kebenaran dalam sains, filsafat, dan politik yang penting. Itu mungkin ada benarnya, mengingat lingkup bahasan ketiganya begitu luas dan menyentuh aspek paling penting hidup manusia.

Demi menerangkan maksud argumen di atas, mari kita sepakat bahwa hak, kebebasan, dan logika itu benar adanya. Kemudian ingatlah lagi kisah ketika setiap kali prinsip itu diterapkan, baik di zaman pencerahan maupun kini. Bukankah mereka yang memegangnya nyaris selalu terancam? Siapa pun yang konsisten dengannya bukan hanya tidak merasa nyaman, tapi juga bakal berumur pendek.

Ini sesunggunya fakta yang banyak terjadi kepada mereka yang memegang teguh suatu nilai, baik ilmuan maupun para pembela Hak Asasi Manusia (HAM). Seperti yang dialami Pramoedya Ananta Toer karena menolak tunduk, yang berakhir mendekam selama 10 tahun di Buru, pulau seluas 847.320 hektare yang dijadikan kamp konsentrasi tahanan politik (tapol) oleh Orde Baru.

Munir Said Thalid, yang pada 7 September 2004 dibunuh secara misterius karena ada dugaan ia memegang data penting seputar pelanggaran HAM seperti pembantaian di Talang Sari, Lampung, pada 1989, penculikan aktivis 1998, referendum Timor Timur, hingga kampanye hitam pemilihan presiden 2004.

Dengan demikian, mereka yang berpikir adalah mereka yang juga berpihak. Kualitas pengetahuan mereka yang melampaui pengetahuan banyak orang membawa mereka ke jurang kecemasan bahkan penindasan. Terpujilah mereka yang memilih jalan sunyi pengetahuan. Dan bersyukurlah mereka yang memilih jalan aman, sebab no brain no pain.

(Visited 164 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan