Pengembaraan Sunyi Sang Seniman

0 525

“Jika saya membaca sebuah buku dan itu membuat tubuh saya begitu dingin sehingga tidak ada api yang dapat menghangatkan saya, maka itu adalah puisi,” begitu kata Emily Dickinson, penyair besar Amerika.

Apa pun yang kita baca, entah itu buku, alam, manusia, atau rasa sakit, sejauh itu menampakkan sebuah pengalaman tanpa jejak yang menembus relung struktur logika manusia, maka itu adalah puisi. Puisi selalu lepas dari jaring kering pemahaman; ia adalah penjaga jendela neraka yang datang sesekali memberi kabar tentang betapa rapuhnya manusia. Tetapi ia juga adalah mantra pengundang senja dan bunga-bunga.

Berandakota kali ini kedatangan penyair, filsuf, dan intelektual publik asal Sulawesi Utara, Amato Assagaf. Ia bercerita ihwal perjalanannya yang tanpa lelah mengarungi dunia kesenian sambil menjaga pikiran dengan filsafat. Ia barangkali adalah orang yang paling bahagia menikmati keindahan dan kebenaran sekaligus.

Berikut adalah bincang-bincang Berandakota dengan Amato Assagaf.

 

Apa kabar, Bang Amato?

Baik, semesta memberkati.

Apa kesibukan sekarang?

Menikmati setiap menit dalam hidup.

Apakah maksud Anda ada yang hidup dengan cara yang salah?

Tidak sesederhana itu. Kebanyakan orang tersiksa karena hidup dengan masa lalu dan masa depan mereka sehingga lupa menikmati hidup sekarang, saat ini. Bukankah hidup adalah saat ini? Saya hanya berusaha tidak diserap oleh segala yang telah lewat dan yang akan datang.

Baik. Anda ini kan sudah dikenal oleh publik Sulawesi Utara sebagai seniman dan filsuf eksentrik, apakah Anda merasa bahwa anggapan itu benar mengenai diri Anda?

Entahlah, saya pikir ada benarnya apa yang dikatakan oleh Sartre bahwa manusia didefinisikan oleh apa yang ia lakukan. Saya berkesenian sebagai jalan hidup. Saya menulis puisi dengan menikmatinya, merasakannya, bahkan memujanya demi puisi itu sendiri. Saya juga adalah orang yang tak ingin dijerat oleh label apa pun bahwa saya adalah ini dan itu.

Sejak kapan mulai menyukai seni?

Saya sudah mulai menulis puisi sejak saya masih di sekolah dasar. Sesekali tampil membacakan puisi saya di acara-acara kecil waktu itu. Mulai serius berkesenian saat memasuki SMA. Karya saya dimuat di koran-koran. Kebetulan waktu itu saya dibina langsung oleh Iverdixon Tinungki, senior saya di Manado. Di saat itulah saya berpikir bahwa saya ingin menjadi seniman. Sempat juga waktu SMP masuk pesantren, tapi hasrat berkesenian bekerja lebih deras daripada belajar di pesanteren. Saya menggunakan banyak waktu berkesenian hingga masuk SMA. Setelah lulus, saya berniat kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) namun karena ada sesuatu dan lain hal, untuk semantara memilih Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) pada jurusan sastra. Tak berjalan mulus kuliah saya di Unsrat karena niat saya ke IKJ. Akhirnya kesempatan datang. Saya hanya sampai semester dua kemudian pindah ke IKJ. Di IKJ, saya merasa diri bahwa saya adalah seniman. Di sana saya sering membuat pentas, menulis naskah, jadi aktor dan lain sebagainya. Selesai dari situ, saya balik Manado dan membuat beberapa kali pementasan sebelum menjadi seorang bohemian yang melanglang buana ke kota-kota sebagai seniman.

Menurut Anda menjadi seniman itu seperti apa?

Orang lain mungkin akan melihat karya seni atau kesenian dari gaya dan alirannya, saya tidak. Saya melihatnya sekaligus dengan kehidupan sang seniman. Ada yang tragis di situ yang kemudian ditemukan dan diolah menjadi sesuatu yang artistik. Di sinilah mengapa filsafat menjadi penting, bahkan saling terkait dengan kesenian. Filsafat bisa mengangkat dan melihat lebih terang perasaan anak manusia yang menemukan diri eksistensialnya dalam hidup. Itulah juga yang saya ajarkan di komunitas Padepokan Puisi Amato Assagaf (PaPuAA), komunitas yang didirikan oleh saya bersama teman-teman pada 2016.

Bisa ceritakan sedikit aktivitas PaPuAA?

Ada tiga aktivitas utama di PaPuAA. Pertama, kami rutin pengajian filsafat, tepatnya setiap Jumat. Saya sekaligus pengajar di dalam. Kedua, kami pentas puisi di kafe-kafe yang kami namakan Ngamen Puisi. Ketiga, adalah Mejelis Budaya, di mana kegiatan ini kami adakan di kafe-kafe tapi dengan konsep diskusi dan pembacaan puisi. Latarnya adalah membicarakan kembali ajaran-ajaran leluhur nusantara baik dari sisi nilai, filsafat, dan sejarah. Keseluruhan kegiatan ini diikuti kebanyakan oleh anak muda dari berbagai latar organisasi mahasiswa di Manado, antara lain dari PMII, HMI, PII dan Muhammadiyah. Hanya saja ketika pandemi Covid-19 melanda, dua kegiatan terakhir masih dihentikan sementara. Di samping itu, di PaPuAA ada divisi teater yang kami beri nama Akademi Tubuh. Saya melatih anak-anak yang tertarik dengan teater lewat divisi ini. Beberapa kali kami diundang untuk pentas teater di hari-hari besar nasional.

Saya pikir isi kegiatan PaPuAA seluruhnya berkaitan dengan puisi atau sastra.

Bagi saya puisi itu mencakup baik sastra maupun seni. Meskipun ia cenderung lebih berat ke karya seni ketimbang sastra. Ia seperti lukisan dan musik. Kita menikmatinya tanpa perlu mencari makna dan pesan di belakangnya. Selain itu, puisi mempunyai unsur yang disebut “puitika”, di mana unsur ini nyaris menjadi syarat bagi semua karya seni untuk disebut sebagai karya seni.

Mengapa menambahkan nama Anda di nama komunitas?

Waktu PaPuA hendak didirkan, nama itu diusulkan oleh seorang padepokawan awal Kristianto Galuwo. Alasannya adalah karena konon nama saya sudah layak, entah sebagai tokoh atau apa pun itu untuk dilekatkan. Saya sepakat, dan berhubung ada tokoh idola saya di Jawa yang mendirikan komunitas dengan penamaan sejenis. Namanya Bagong Kusudiardjo, jadi nama komunitasnya Padepokan Tari Bagong Kusudiardjo.

Mengapa memilih jalan hidup yang kurang memungkinkan secara finansial?

Sejak kecil saya sering menyebut diri saya sebagai penyair, sebagai seniman. Saya sadar betul itu. Anak-anak lain ingin menjadi presiden, saya malah memilih jalur lain. Itu umur sembilan tahun. Inspirasi awal sebenarnya datang dari seorang penyair nasional Husen Mulahele yang waktu itu adalah tetangga saya di Manado.

Sebagai pengajar kesenian dan filsafat, tentu Anda punya idealitas soal kebangsaan baik itu di ranah politik maupun ekonomi, apa masalah kebangsaan yang menurut Anda masih belum selesai?

Masalah utama kita saat ini adalah kebebasan, baik pada tataran praktik maupun konseptual. Pertama, kita tahu bahwa masalah intoleransi atas nama agama di negeri ini sulit sekali dibasmi. Kelompok-kelompok intoleran merasa wajib memaksakan norma mereka kepada orang lain dengan ancaman dan lain-lain. Mereka di satu sisi tidak hanya sekolompok orang yang tergoda menekan kekuasaan dengan dalil agama serperti yang kita tahu, tapi juga tertarik untuk masuk ke dalam wilayah kultural: mengharamkan dan mencela keberagaman tradisi dan budaya. Ini adalah kegelapan yang masih menutupi langit Indonesia. Negara juga sering kali kelabakan bahkan membiarkan tindakan-tindakan itu mengemuka di publik. Dan yang paling krusial dari itu semua adalah keterlibatan elite politik di dalamnya untuk memuluskan jalan mereka ke tampuk kekuasaan. Apa pun ideloginya, sejauh itu bisa menyumbang kekuatan politik, maka sah-sah saja bagi mereka. Kedua, apakah ini berarti solusinya adalah toleransi? Saya mempunyai konsep yang melampaui itu: “toleransi tanpa tapi”. Sebenarnya, konsep ini lebih saya tekankan pada nilai kebebasan. Sebab, kebebasan sudah sangat cukup dijadikan sebagai asas dan pegangan dalam kehidupan bernegara. Setiap orang akan hidup menurut keinginan mereka masing-masing tanpa ada kebebasan yang dirampas. Dengan begitu, kita tak perlu lagi prinsip toleransi, karena konsep itu sendiri diturunkan dari konsep kebebasan. Tidak ada lagi istilah toleransi kebablasan. Anda membiarkan orang melakukan apa pun (kecuali merampas kebebasan orang lain), adalah sebaik-baiknya toleransi.

Apakah Anda mengajukan sebentuk ide sekularisme dalam menanggulangi masalah tersebut?

Ide saya pada dasarnya mengarah ke sekularisme. Saya memulainya dari kebebasan yang sifatnya individual. Jika ide ini konsisten, maka sangat mungkin masalah kebebasan kita di negeri ini selesai. Semua kelompok akan menikmati berkah kebebasan untuk menjalani apa pun yang mereka yakini. Tak ada lagi istilah mayoritas-minoritas; tidak ada lagi sentimen dan kebencian. Tetapi kenyataannya tidak demikian, Indonesia menganut sebuah sistem yang, kalau dianalogikan makanan, seperti gado-gado: bukan negara agama bukan negara sekuler. Negara kita ini negara bukan-bukan, kata Gus Dur.

Anda berangkat dari semacam asumsi antropologis mengenai manusia sebagai dasar etis, yakni individu. Apakah itu berarti Anda menawarkan liberalisme sebagai solusi ideologi yang mungkin bagi kehidupan bangsa Indonesia?

Bisa jadi. Namun dasar yang saya ajukan itu lebih dari sekadar tawaran ideologis. Bagi saya, individu itu metafisis. Artinya apa, eksistensi manusia selalu sebagai seorang diri (individu) dengan tubuh material dan kesadaran khasnya masing-masing. Meskipun sulit dibantah bahwa kita lahir sebagai individu sekaligus juga makhluk sosial karena relasi memungkinkan itu. Namun bayangkan sekelompok orang yang mengikatkan diri atas nama gerakan kemanusiaan turun ke jalan, dan tiba-tiba muncul di antara mereka seseorang yang membawa bom yang tinggal menghitung detik. Apa yang terjadi? Sebagai manusia dengan naluri alamiahnya, mereka bisa dipastikan akan menyelamatkan diri masing-masing. Berhamburan seperti gelas pecah.

Bagaimana dengan orang yang membawa bom itu? Bukankah dia juga harusnya punya naluri menyelamatkan diri atau menghindar dari rasa sakit?

Saya berangkat dari asumsi apa yang alamiah pada manusia. Namun dengan kapasitas pikiran yang dimilikinya, ia bisa menikmati bahkan hal yang paling kontradiktif dengan sifatnya. Aliran Sofisme membuat pembedaan ontologis antara phusis dan nomos. Phusis mengacu pada hal-hal yang merupakan produk alam sedangkan nomos mengacu pada hal-hal yang merupakan produk pikiran. Barangkali yang membawa bom itu menganut suatu gagasan (nomos) merusak diri atau teologi kematian yang dianut oleh para teroris bom bunuh diri. Kendatipun ada cita-cita kenikmatan yang mereka kejar seperti surga di balik rasa sakit yang mereka rasakan.

Namun orang yang jatuh cinta juga tahu bahwa ia tidak hanya bakal menerima kebahagiaan saat mencintai seseorang tetapi juga rasa sakit. Apakah ia merusak diri dengan ilusi nonalamiah?

Cinta adalah kebahagiaan dan rasa sakit yang artistik. (Tertawa) Cinta juga tidak bermasalah secara etis, atau menyangkut keselamatan orang lain, tapi dengan diri sendiri. Cinta dan semua tangisannya adalah oase dari karya seni besar sepanjang masa. Bahkan hampir semua filsuf membicarakan perihal apa dan bagaimana cinta bekerja.

Terima kasih atas waktu dan kesempatannya, Bang Amato. Sukses dan sehat selalu dalam pengembaraan mencari kebenaran.

Sama-sama. Sukses juga buat kawan-kawan Berandakota.

 

(Visited 274 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan