Kafka dan Surat-surat Boneka

0 571

BERANDAKOTA—Franz Kafka (1883-1924) sakit. Sakit parah. Dia menjalani tahun terakhir hidupnya sebelum tuberkulosis membunuhnya.

Saat itu, Kafka yang tak pernah menikah dan memiliki anak, sedang berjalan melewati taman di Berlin. Ia kemudian bertemu seorang gadis kecil yang sedang menangis seorang diri karena kehilangan boneka kesayangannya. Gadis itu bernama Nancy, sedangkan nama bonekanya adalah Suzie. Kafka membantu gadis itu mencari bonekanya, tapi gagal. Kafka sempat bingung, tapi imajinasinya bekerja. ia merasa harus mengambil inisiatif supaya gadis ini terhibur.

“Bonekamu sedang melakukan perjalanan panjang,” kata Kafka. “Dari mana anda tahu?” gadis itu bertanya. “Karena dia menulis surat untukku,” jawab Kafka.

Gadis itu tampak curiga. Bagaimana bisa orang yang baru ia kenal langsung dipercaya oleh bonekanya untuk dititipkan surat. “Kalau begitu tolong bacakan suratnya,” pinta gadis itu. “Tidak, maafkan aku,” jawab Kafka. “Aku tidak sengaja meninggalkannya di rumah, tapi akan aku bawa besok.” Kafka begitu meyakinkan gadis itu yang tampak kehilangan. Mungkinkah pria misterius ini mengatakan yang sebenarnya?

Kafka bergegas pulang untuk menulis surat itu. Dia duduk di mejanya. Ia menunjukkan keseriusan dan ketegangan yang sama seperti saat ia menulis karya-karyanya yang lain. Dia tidak akan menipu gadis kecil itu. Ini adalah karya sastra yang nyata, dan dia bertekad untuk melakukannya dengan benar. Jika dia bisa memberikan kebohongan yang indah dan meyakinkan, itu akan menggantikan kehilangan gadis itu dengan kenyataan yang berbeda. Itu mungkin palsu, tapi sesuatu yang benar dan bisa dipercaya menurut hukum fiksi.

Keesokan harinya Kafka kembali ke taman dengan membawa surat itu. Gadis kecil menunggunya, dan karena dia belum belajar membaca, Kafka membacakan suratnya dengan lantang.

“Aku ingin pergi dan melihat dunia. Tapi bukan karena aku tidak lagi mencintaimu, namun karena aku merindukan perubahan. Oleh sebab itu, kita butuh berpisah untuk sementara waktu. Tolong jangan menangis. Nanti setiap hari akan kutuliskan kisah petualanganku dan akan kukirim kepadamu”.

Sejak surat pertama ini, dimulailah sebuah kisah hingga akhir hayat Kafka. Anak itu menerima banyak surat dari boneka kesayangannya yang ditulis oleh Kafka dengan hati-hati, surat-surat yang berisi kisah-kisah petualangan. Cukup mengherankan bahwa Kafka bersusah payah menulis surat selama tiga minggu, tetapi dia berkomitmen pada proyek menulis surat baru setiap hari. Tidak ada alasan lain baginya selain untuk menghibur gadis kecil, yang kebetulan adalah orang asing baginya, seorang anak yang ia temui secara tidak sengaja pada suatu sore di taman. Dan ketika Kafka mulai membacakan surat pertamanya, anak itu pun mendengar penuh penantian.

Selama tiga minggu berjalan dengan surat-surat baru, Kafka pada akhirnya membelikan boneka yang mirip dengan boneka anak itu, dan mengatakan bahwa bonekanya sudah kembali pulang dari perjalanan panjang.

“Boneka ini sama sekali tidak mirip dengan bonekaku,” kata sang gadis. Demi menjawabnya, Kafka kemudian membacakan surat yang baru ditulis: “Perjalananku telah mengubahku”. Anak itu pun langsung memeluk bonekanya dan membawanya pulang.

Setahun kemudian, Kafka meninggal akibat penyakitnya yang semakin parah. Dan bertahun-tahun kemudian, gadis itu menemukan surat yang ditulis oleh Kafka di dalam bonekanya. Surat itu berisi: “Semua yang kamu cintai mungkin akan hilang, namun pada akhirnya cinta akan kembali dengan cara yang berbeda.”

                                                                       ***

Demikianlah kisah singkat seorang gadis yang sembuh berkat percikan cahaya imajinasi yang dipancarkan oleh Kafka. Seperti yang disebutkan di atas, surat-surat itu ditulis Kafka selama tiga minggu. Ia adalah penulis paling brilian yang pernah hidup dengan mengorbankan waktunya, yakni waktu yang berharga dan semakin menipis untuk menyusun surat-surat imajiner dari boneka yang hilang untuk seorang gadis yang tak ia kenal.

Dora, kekasih Kafka, bahkan mengatakan bahwa Kafka menulis surat-surat imajiner itu dengan kalimat penuh perhatian dan sangat mendetail, agar setiap prosa di dalamnya tetap lucu dan menarik. Dengan kata lain, itu adalah prosa Kafka.

Dalam versi lain, cerita tentang surat-surat boneka itu berkembang. Boneka tumbuh besar, pergi ke sekolah dan bertemu orang baru. Cara itu demi meyakinkan sang gadis tentang cintanya. Tapi Kafka mengisyaratkan komplikasi tertentu dalam hidup yang membuat sang boneka tidak mungkin untuk kembali pulang.

Kafka berjuang untuk mendapatkan akhir yang memuaskan dari surat-surat boneka, namun tetap khawatir jika itu tidak berhasil. Setelah menguji beberapa kemungkinan, Kafka akhirnya memutuskan menulis bahwa boneka sang gadis telah menikah. Dia menggambarkan pria muda yang menikahi bonekanya, pesta pertunangan, pernikahan di pedesaan, bahkan rumah tempat boneka dan suaminya sekarang tinggal. Dan kemudian, di baris terakhir, boneka itu mengucapkan selamat tinggal kepada sang gadis.

Berkat surat-surat itu, sang gadis tidak lagi merindukan bonekanya. Kafka telah memberinya sesuatu yang lain. Tiga minggu berlalu. Surat-surat itu telah menyembuhkan sang gadis dari rasa kehilangannya. Dia telah bangkit, dia memiliki cerita.

Kisah ini membuat kita berpikir, bahwa kisah imajiner mampu menarik perahatian kita atas penderitaan hidup yang tak terelakkan. Dan ketika seseorang cukup beruntung untuk hidup di dalam sebuah cerita, untuk hidup di dalam dunia imajiner, rasa sakit di dunia ini akan hilang. Sebab, selama cerita terus berjalan, realitas tidak ada lagi.

(Visited 31 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan