Ngopi di Beranda Bersama Lukman Hakim Ake

0 508

BERANDAKOTA—Uman Respect belum selesai melakukan pencarian jati diri lewat grup band Respect. Sebuah pencarian yang panjang dan cerita yang panjang sembari menabung rindu untuk kekasihnya yang ada di kejauhan.

Lukman Hakim Ake, nama aslinya, menunjukkan proses pendewasaan yang bisa kita simak lewat perjalanannya yang lahir dari corak musik festival pada satu dekade lalu di Kotamobagu. Dan corak itu ia pertahankan hingga kini bersama Respect dengan metal rock-nya.

Pilihan corak tersebut ditengah maraknya lagu indie membuat Respect memiliki warna tersendiri. Dan tak hanya itu, mereka mampu menguak kembali kenangan masa lalu para pendengar tentang euforia musik festival.

Uman Respect, sapaan akrabnya, menceritakan pengalaman itu ketika ia manggung di kafe-kafe. Ia kerap diajak berbincang seusai tampil oleh para pengunjung perihal kesan-kesan musik festival kala itu. Ini membuat ia sadar betapa genre musik yang disajikan Respect kepada khalayak ramai cukup berhasil.

Misalnya lagu “Go Away”, yang terkesan keras tapi tetap liris (terumata liriknya), menciptakan kesan tersendiri bagi para pendengar. Ini membuat mengapa Go Away akan dibuatkan versi terbarunya bersama vidio klip untuk menambah kesan itu.

Saat ini Respect sedang dalam proses pembuatan vidio klip untuk lagu mereka itu. Vidio klip yang sedang digarap ini tampaknya akan melejitkan Respect sebagai band di kancah nasional. Namun tak bisa dipungkiri, lagu itu memang punya pesona kuat—termasuk menampilkan bakat para personil Resepect dalam kombinasi sempurna rapper dan DJ.

Berikut petikan obrolan santai Chef Berandakota.com Shandry Anugerah bersama Lukman Hakim Ake, SH.

 

Halo, apa kabar abang Uman ?

Baik, Alhamdulillah. Kokoh Uman, Bro.

Baik, kokoh Uman. Kokoh dikenal sebagai salah satu tokoh pemuda yang multi talenta, dan jadi panutan banyak anak muda di Kotamobagu. Sebenarnya apa saja profesi kokoh Uman selama ini?

Saya seorang pegawai kantoran biasa, mengabdikan diri untuk negara disalah satu BUMN yang bergerak di bidang perbankan. Sebenarnya bukan multi talenta, tapi banyak hobi (Tertawa).

Baik, apa saja kegiatan atau hobi di luar kantor yang kokoh geluti?

Bermusik, olahraga, ngurus bengkel dan Tim balap, MC (Master Of Ceremony). Kadang-kadang jadi model dadakan (Tertawa).

Wah, luar biasa. Kokoh Uman juga pembalap sakarang ?

(Tertawa) Bukan, akuoi kitogi (Pemilik bengkel dan Tim balap).

Oalah, apa nama Tim balapnya, Koh ?

D’Baduts Kopi Cup Fertech Racing Team

Panjang sekali, Koh!

Ya, semoga rezeki tim ini juga dipanjangkan seperti namanya (tertawa). Meskipun tim kecil tapi konsisten. Tim saya itu pernah mendapat juara di Kotamobagu, juga pernah di Gorontalo.

Baik koh, kita bahas hobi bermusik dulu. Mengapa Kokoh bisa jatuh cinta dengan musik?

Saya mulai bermusik sejak SMP. Itu pengaruh lingkungan di mana saya tinggal. Di seputaran tempat tinggal banyak musisi-musisi senior seperti Mat Jabrik, Mawan, Herli dan banyak lagi. Dengan pengaruh lingkungan itu, maka saya mulai suka dengan musik, bergaul dengan anak-anak band dan membuat band sendiri. Jadi tetap akan dipertemukan dengan orang-orang yang suka bermusik.

Nama kokoh melambung sejak tergabung dalam Respect Band. Bisa ceritakan tentang Band ini ?

Band ini didirikan tahun 2006 bersama beberapa teman sekolah dan teman nongkrong. Saat itu festival musik masih menjadi primadona di kalangan anak muda. Respect Band dibentuk selain untuk menyalurkan hobi, juga sebagai wadah uji kemampuan di panggung-panggung festival. Kami mengusung aliran Hip Rock, karna saat itu, aliran musik ini sangat digemari dan berhasil mengusik kedigdayaan musik rock dan metal di pentas-pentas festival.

Apa Band yang mempengaruhi gaya bermusik Respect saat itu?

Limp Bizkit, Bondan Fade2Black dan Saint Loco.

Prestasi Respect Band selama mengikuti festival?

Dua belas kali juara umum, baik festival lokal di Kotamobagu, maupun di luar daerah. Total ada empat puluhan lebih piala. Dua belas diantaranya Tropi Juara satu.

Dulu kokoh dikenal sebagai gitaris sebelum menjadi vokalis di grup band Respect saat ini. Kenapa berpindah posisi ?

Betul, pada tahun 2006 sampai 2012, saya mengisi posisi gitaris. lepas itu karena kesibukan masing-masing, kami sempat vakum  selama empat tahun. Sebab, zaman itu adalah peralihan kultur festival musik ke manggung di kafe-kafe. Setelah empat tahun berjalan, saya ikut show dengan teman-teman menjadi musik pengiring di beberapa kafe. Namun sebelum Respect kembali mekar, saya dan teman-teman membuat project Uman and Friend. Di situ, kami manggung selama dua tahun di kafe Kota Fein dan saya adalah vokalisnya. Selain itu, kami sering manggung bersama di acara Kotamobagigs di kedai Bogani dan kafe Jarod. Dan ketika ulang tahun Spoters pada tahun lalu, saya bertemu kembali personel lama dan mengatur ulang formasi karena Respect diminta untuk show. Berjalan dua tahun jadi seorang vokalis, membuat saya dan teman-teman menetapkan bahwa saya resmi menjadi vokalis, bukan lagi gitaris.

Menurut kokoh ya, apakah kemampuan bernyayi kokoh sama hebatnya dengan permainan gitar kokoh?

(Tertawa) Jangan bagitu kwa, San. Tau ndak, Dave Grohl dulu drumer Nirvana. Dan ketika jadi Vokalis di foo fighters, meledak. Bahkan banyak yang bilang dia lebih cocok sebagai vokalis daripada drumer. Di Respect, harapannya seperti itu. Insyaallah selalu memberikan yang terbaik bagi Band. Vokalis harus mampu menjadi dirigen bagi Band dan penonton. Dan sepertinya bakat itu ada di kokoh (tertawa).

Baik koh, sepertinya wawancara ini harus diselingi dengan air mineral dan paracetamol.

(Tertawa) iyo, so depe jam ini.

Apa yang khas dari Respect Ini menurut kokoh ?

Yang khas dari Respect saya kira adalah kekayaan musiknya. Respect memadukan DJ, harmonisasi gitar, perkusi, rapper, dan suara keras (scream). Itu bisa didengar di lagu Go Away dan Back to Old Town. Sebenarnya, selain genre-nya, yang membuat kami beda adalah kami band yang lahir dari kultur musik festival waktu itu dan sampai sekarang masih bertahan. Jadi kalau orang-orang seangkatan kami ingin bernostalgia, tinggal dengar lagu-lagu dari Respect.

Jadi Respect ini sudah menciptakan berapa lagu?

Kalau dihitung untuk single pertama maka ada Go Away, kedua Dunia psyco. Sekarang tiga lagu masih dalam proses yang rencananya akan dibuat dalam mini album. Untuk saat ini saya dan Resepect sedang menggarap vidio klip lagu Go Away dalam versi baru. Kemungkinan pertengahan Agustus ini akan dirilis. Untuk vidio klip, kami bekerja sama dengan Braga Indie Project, tepatnya Viki Mokoagow yang akan menggarapnya. Beberapa waktu lalu kami juga sudah dihubungi oleh pihak Spotify untuk meminta lagu kami masuk dalam koleksinya. Jadi apa salahnya, mengingat hampir semua orang sekarang sudah menggunakan gadget untuk mendengarkan lagu.

Jadi bagaimana kokoh melihat perkembangan musik di Kotamobagu?

Pertama, orang Kotamobagu itu tahu menghargai karya. Sehingga band-band di Kotamobagu mengalami perkembangan yang bagus menurut saya. Selain itu, band-band di Kotamobagu juga kompak. Berbeda dengan zaman dulu yang sifatnya kompetitif karena masih ramai dengan festival. Saat ini, peradaban musik di Kotamobagu itu luar biasa, sesama musisi saling mendukung dalam berkarya. Sebab, selain karena sumber daya kami terbatas, kami dan band-band lain ingin tetap profesional. Itu mungkin mengapa orang Kotamobagu bisa menghargai karya dari band-band saat ini, yakni profesionalitasnya. Jadi setiap ada acara di Manado, kami dan band-band lain, seperti Braga dan Sun Band, selalu diundang. Tidak lagi seperti dulu, band-band asal Manado yang diundang ke Kotamobagu.

Menurut kokoh, apakah dunia musik di Kotamobagu sudah bisa dikatakan sukses?

Kalau menurut saya masih dalam tahap perkembangan. Saya tidak bisa mengatakan sudah sukses karena setiap orang punya standar masing-masing soal itu. Bagi saya, yang terpenting itu bagaimana melahirkan karya. Kalau karya sudah keluar, dan orang-orang puas dan terhibur, itu yang terpenting. Kita kan jadi senang ketika orang-orang melihat bahwa anak-anak dari Kotamobagu bisa berkarya dengan baik. Apalagi musisi-musisi Kotamobagu sudah mulai dikenal di kanca nasional. Jadi begini. Ini sebenarnya soal mindset yang sudah berubah karena perkembangan teknologi yang pesat. Dulu untuk menjadi terkenal dalam bermusik, harus ke ibu kota untuk masuk label. Tapi saat ini, di Jakarta dan di sini, sama-sama bisa menggunakan YouTube untuk berkarya. Semua bisa dilakukan secara independen atau indie. Jadi jangan heran misalnya walaupun masih dalam lingkup kecil, lagu dari band-band Kotamobagu masuk di Indie Band Radio Nasional.

Nah, untuk single pertama, mengapa memilih judul Go Away, ada apa di balik judul lagu itu?

Lagu itu sebenarnya menceritakan orang yang pergi dalam kehidupan kita. Dan itu kisah nyata. Kami mengemasnya dengan lagu keras, tapi liriknya sendu. Lagu Go Away juga pernah masuk dalam album kompilasi Sulut tahun 2011. Ada sepuluh band Sulut yang lagu-lagunya masuk dalam kompilasi itu. Banyak orang yang suka. Mereka rindu. Itu makanya kami membuat versi barunya untuk memenuhi kerinduan mereka.

Soal menciptakan lagu, itu bagaimana prosesnya? 

Soal itu kami semua terlibat. Apakah itu tentang kisah hidup seseorang atau kisah hidup dari personil Respect sendiri.

Apa kesulitannya?

Kesulintan untuk menulis lagu biasanya saat mulai menentukan notasinya. Saya dan teman-teman sangat berhati-hati soal itu. Sebab kami pikir, jangan sampai orang-orang berfikir kami meniru notasi dari band lain.

Secara pribadi, ada musisi atau penyanyi yang sangat mempengaruhi Kokoh, baik dari cara hidup sampai cara berpakaian? 

Ada. Guru saya: Ariel Noah (Tertawa).

Kalau untuk lagu yang paling berkesan atau yang paling menyentuh kokoh, baik di saat sedih maupun saat sendiri?

Ada dua. Lagu Peterpan,Tak Ada Yang Abadi dan Geisha, Kamu Jahat. Kedua lagu itu pernah membuat saya terbangun dari tidur dalam keadaan gemetar. Sebab, cerita dari kedua lagu itu pernah terjadi dalam hidup saya. Saya sebenarnya takut mendengarkannya, tapi saya merasa harus mendengarkannya. Selain itu, ada lagu dari Beranda Rumah Mangga (Braga), Langkahku. Lagu ini diberikan oleh Viki Mokoagow langsung kepada saya dan rencana akan saya cover. Lagu ini diciptakan saat vokalis Braga, Yedi Mamonto, putus dengan pacarnya sampai membuat ia sendiri tak ingin menyanyikannya lagi. Seperti Yedi, lagu itu begitu nyata bagi saya. Lagu yang mewakili delapan tahun menjalani hubungan dengan seseorang dan putus.

Wah, Tak Ada yang Abadi dan Kamu Jahat. Jangan Curhat lah, koh.

Sudah move on, Bro (Tertawa).

Luar biasa, sangat menyentuh. Nah, menurut Kokoh, penampilan ideal saat manggung itu seperti apa?

Bagi saya, yang terpenting itu menciptakan suasana. Itu butuh energi. Di panggung, cara paling bagus untuk menghibur para penonton adalah bagaimana perhatian mereka ditarik ke dalam musik yang sedang dimainkan. Jadi dalam konser itu, bukan bagusnya suara vokalis yang menentukan, tapi suasana yang diciptakan.

Tadi di awal, kokoh sudah menceritakan alasan mengapa menjadi orang yang suka bermusik. Kokoh mengatakan karena lingkungan waktu itu yang sedang ramai-ramainya bermusik. Apakah saat ini kokoh sudah punya tujuan sendiri di luar pengaruh-pengaruh itu, bahkan pengaruh perkembangan musik sekarang ini?

Tujuan awal saya sebenarnya adalah bagaimana bisa tampil dari panggung ke panggung dan punya rekaman. Tapi seiring perkembangan teknologi, tujuan saya berubah–membuat lagu sekaligus vidio klip. Bagi saya, musisi yang hebat itu ketika ia mampu menciptakan karya sendiri. Dan vidio clip itu wajib bagi musisi. Kemarin itu, saya puas karena kami featuring dengan (5.AM). Duet itu menembus kanca nasional karena masuk di layanan streaming musik digital seperti Spotify dan JOOX.

Sekarang kan lagi menggarap vidio clip untuk lagu Go Away, apa saja tantangannya?

Sebenarnya tidak gampang dan tidak murah, ya. Apalagi kalau untuk level profesional. Sumber daya yang digunakan tidak sedikit. Mulai dari sewa bangunan, orang-orang yang terlibat, dan operasional hari-hari selama pembuatan. Untuk vidio klip yang kami garap sekarang itu memakan anggaran berkisar lima belas jutaan. Kami patungan untuk itu.

Apakah kokoh berharap income dari situ?

Tidak. Kami tidak money oriented. Tujuan saya, terutama kami di Respect adalah kepuasan karena bisa merealisasikan tujuan kami sendiri dan kepuasan orang-orang yang mendengarkan lagu kami. Kepuasan itu contohnya ketika lagu kami bisa masuk di Spotify. Masalah uang bisa diperoleh ketika live. Intinya adalah ciptakan dan kejar kualitas, bukan kuantitas. Jangan melihat banyaknya viewer atau jumlah like.

Dalam perjalanan panjang mengarungi dunia permusikan, bisa sedikit kokoh ceritakan susah-senangnya?

Kami pernah dikontrak oleh L.A selama satu tahun. Itu pengalaman yang menyenangkan dan berharga. Pokoknya kami manggung di sana-sini meski sering salah server. Pernah manggung di depan komunitas yang genre musiknya berbeda dengan kami. Sudah, ancur-ancuran. Ludah dan botol air mineral tumpah ruah di atas stage. Pernah juga saat kami ikut festival di Gorontalo. Saya dan teman-teman berangkat naik mobil pick up. Begitu memasuki desa Lobong, kami di guyur hujan tanpa berteduh. Mobilnya berjalan terus menembus hujan. Hingga kami tidak sadar kalau sudah di desa Isimu, kabupaten Tibawa, Gorontalo. Yang penting alat aman dari hujan, biar kami yang basah-basahan di belakang.

Bagaimana pandangan kokoh tentang festival musik yang pernah sering diadakan di Kotamobagu dan saat ini sudah jarang, bahkan tidak ada lagi?

Bagi saya, festival musik itu penting. Ada banyak plus-nya di situ ketimbang minus-nya. Para musisi akan ditantang yang–pada akhirnya–akan membentuk skill dan kemampuan mereka dalam bermusik. Mereka tidak hanya dinilai oleh penonton, mereka juga dinilai oleh juri. Bagi saya, ini dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, dimana media seperti YouTube menjadi sarana alternatif untuk berkarya saat ini. Tapi sejatinya tetap berbeda, band festival itu matang di panggung ketimbang band sekarang.

Belakangan kokoh terlihat lebih religius. Apakah telah mendapatkan hidayah ?

Awal 2020 adalah salah satu periode tersulit dalam hidup saya. Boleh dibilang titik terendah dalam perjalanan hidup saya. Berbagai macam masalah datang bertubi-tubi. Saya hampir bunuh diri saat itu. Investasi bisnis mengalami kerugian hingga 400 juta, dan saya harus menyelamatkan karyawan-karyawan yang menggantungkan hidup dalam bisnis ini. Ibu saya jatuh sakit. Tanggung jawab di kantor yang harus saya tunaikan. Belum lagi persoalan hati nurani. Saya betul-betul sudah tidak tahu harus berbuat apa dan memulai dari mana. Tapi menurut saya Tuhan sayang dan menegur saya lewat masalah hidup. Sejak itu, pelan-pelan saya merefleksi perjalanan hidup saya dan lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Alhamdulillah, sekarang hidup jadi lebih tenang dan satu-persatu masalah mulai menemukan solusinya. Alhamdulillah, Alhamdulillah. Tuhan menjawab doa saya. Saya masih terus berupaya bangkit lagi hingga saat ini. Berupaya jadi orang yang lebih baik.

Alhamdulillah, koh. karena kami tidak menyediakan tisu, baiknya kita akhiri bincang kita malam ini. Tapi sebelum itu, apa pesan kokoh untuk mereka yang ingin bermusik atau yang bercita-cita jadi musisi?

Tetap semangat. Pertama, seburuk apapun karya kita, pasti ada orang yang akan menghargainya. Kedua, kita harus menghargai karya kita sendiri sebelum berharap dihargai orang. Dan terakhir, berdoa. Jangan lupa berdoa.

Terima kasih atas waktu dan kesempatannya, koh. Semoga sukses terus dalam bermusik dan sehat selalu.

 

(Visited 27 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan