Tidak Humoris Itu Manusiawi, Tapi Belum Manusia

0 273

BERANDAKOTA—God is always joking. Look at your own life – it is a joke! Look at other people’s lives, and you will find jokes and jokes and jokes. Seriousness is illness; seriousness has nothing spiritual about it. Spirituality is laughter, spirituality is joy, spirituality is fun. -Osho

Ada hal penting yang kiranya harus dimiliki dalam kehidupan: kesabaran. Namun bagi saya, ada yang lebih penting lagi: rasa humor.

Kesabaran memang dibutuhkan untuk mengarungi jalan panjang kita yang keras. Apalagi setiap hari kita menghadapi bagian dari diri kita sendiri yang kita rahasiakan karena menyakitkan serta kita percaya terlalu buruk untuk diungkapkan.

Sedangkan rasa humor membantu kita untuk melepaskan kekusutan pikiran akibat segala perubahan dalam hidup yang sekejap dan berjalan di luar harapan. Kadang, dengan rasa humor, kita juga dapat menertawakan diri sendiri sembari mengurai bagian-bagian gelap dalam diri kita. Dengan demikian, tertawa membawa cahaya dan kehangatan–dua komponen penting untuk pertumbuhan. Sebagaimana tanaman, apakah kita bisa tumbuh sempurna tanpa cahaya dan kehangatan?

Tapi apa itu humor?

Kata “humor” sendiri berasal dari bahasa yang relatif baru. Menurut Oxford English Dictionary, kata itu sudah muncul sejak abad ke-17 dari spekulasi ilmiah psiko-fisiologis tentang efek humor yang memengaruhi temperamen seseorang. Sebagian besar penelitian tetang subjek ini dipenuhi dengan keraguan antara humor dan tertawa, dan masalah tersebut berlanjut hingga kini.

Mencoba menawarkan teori umum tentang tawa dan humor, John Morreall membuat perbedaan yang lebih halus: “tawa dihasilkan dari perubahan psikologis yang menyenangkan, sedangkan humor muncul dari perubahan kognitif yang menyenangkan.” Apakah pembedaan dari Moreall ini cukup? Jika cukup, apakah itu penting?

Sepertinya membedakan tawa dan humor bukan perkara penting selama itu membantu mencairkan ketegangan dalam hidup kita secara psikologis. Intinya, sesuatu dikatakan humor sejauh kita dapat mengatakan bahwa humor dianggap sebagai respons terhadap jenis stimulus tertentu.

Untuk memperjelas, pertanyaan selanjutnya adalah, apa syarat atau kondisi yang diperlukan bagi sesuatu untuk disebut humor?

Sebab, seringkali humor menghasilkan tawa, tetapi terkadang hanya menghasilkan senyuman. Jelas, fenomena yang relatif berbeda ini terkait erat dalam beberapa hal, tetapi untuk memahami itu kita membutuhkan pengertian yang lebih jelas tentang humor.

Kita bisa tertawa melihat seseorang jatuh ke selokan karena sibuk melihat gawai. Demikian pula, kita akan tertawa setelah membaca atau mendengar ungkapan Gus Dur tentang tiga polisi jujur (Meskipun perkataan Gus Dur ini kemudian membuat seseorang yang bernama Ismail harus dipanggil ke Mapolres Sula Juni lalu untuk memberikan klarifikasi karena menulis ungkapan tersebut di akun media sosialnya. Tapi, apa yang membuat sesuatu lucu di mata seseorang dan tidak lucu bahkan merendahkan di mata orang lain? Apakah itu terkait dengan kemampuan intelektual seseorang?

Apa yang sering terjadi di Indonesia menunjukkan kepada kita kelompok mana yang saling berhadapan terkait masalah humor ini.

Tengok saja orang-orang yang terlalu serius dalam banyak hal. Mereka gampang tersinggung, tidak komunikatif, dan keras seperti batu. Mereka seolah sedang menyimpan bom waktu dan menunggu saat yang tepat untuk meledak. Kita bisa sebut ini sebagai bagian dari akar masalah sosial. Sebab, ada semacam standar moral yang dipaksakan oleh mereka untuk membatasi orang lain berbicara menurut standar tersebut.

Di Indonesia, sikap demikian cenderung melekat pada beberapa kelompok organisasi masyarakat (ormas) yang membawa bendera agama. Dan kita tahu, standar yang mereka gunakan adalah ajaran agama menurut kelompok mereka sendiri. Dengan demikian, tafsir mereka tidak hanya menyangkal humor, mereka juga menyangkal kritik. Apakah humor memang  tidak punya tempat dalam iman mereka?

Terkait sikap sebagian orang beragama yang antihumor dalam kaitannya dengan standar ajaran agama, ada baiknya kita melihat definisi Durkheim perihal agama dalam bab pertama judul bukunya, Elementary Forms of Religious Life: 

“Agama adalah sistem keyakinan dan praktik-praktik keagamaan terpadu mengenai hal-hal suci, yakni yang terpisah dan tabu–keyakinan dan praktik-praktik keagamaan yang mengumpulkan para penganutnya dalam komunitas moral yang disebut gereja”.

Asas-asas dalam definisi di atas mungkin masih bisa diperdebatkan, namun predikat suci dan tabu dalam definisi agama memperjelas kecenderungan sebagian kaum beragama yang kaku dan antihumor. Dengan predikat semacam itu, humor rentan dianggap tidak menghormati yang ‘suci’ dan ‘tabu’. Jika demikian, apakah humor perlu dibatasi? Tampaknya perlu bagi mereka.

Komika Coki Pardede dan Tretan Muslim pernah menghadapi perkara antihumor ini. Dua komika yang tergabung dalam Majelis Lucu Indonesia (MLI) ini tersandung dugaan penistaan agama. Coki Pardede dan Tretan Muslim dianggap menyinggung umat Islam karena membuat konten memasak daging babi dengan rebusan sari kurma. Potongan video saat keduanya memasak itu pun sempat viral di media sosial.

Komedian Andre Taulany juga demikian. Ia tersandung masalah setelah candanya soal Nabi Muhammad dinilai menyinggung umat Islam. Persoalan ini pun berujung dengan dilaporkannya Andre ke kepolisian.

Andre akhirnya menyampaikan permintan maafnya melalui pertemuan dengan salah satu Ketua MUI, KH. Cholil Nafis. Meski begitu, Andre tetap harus berurusan dengan hukum karena telah dilaporkan oleh Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) ke Bareskrim Polri atas dugaan penistaan agama.

Apa yang dialami para komedian itu bukanlah yang pertama kali terjadi di dunia komedi Indonesia. Sejumlah komedian juga pernah tersandung dugaan penistaan agama akibat lawakan yang mereka bawakan–Joshua Suherman, Uus, Ernest Prakasa, dan Ge Pamungkas–mereka semua pernah mendapat semburan.

Humor perlu batasan, tapi tanpa harus membatasi hak berbicara seseorang. Artinya, tidak semua situasi itu harus ditertawakan. Anda tidak bisa tertawa dalam suasana duka di rumah seseorang yang tidak anda kenal. Bahkan sangat tidak bisa dibayangkan ketika anda mengungkapkan sebuah lelucon di rumah duka teman anda. Jadi, tidak ada orang yang cukup waras untuk tertawa dan menganggap semua situasi adalah humor.

Humor khas Gus Dur lebih banyak bernuansa kritik ketimbang untuk dikonsumsi oleh jiwa-jiwa yang keras dan tegang. Bagi Gus Dur, selera humor masyarakat mencerminkan daya tahannya–apakah kuat atau lemah di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan hidup. Oleh sebab itu, menjadi tegang tidak selamanya adalah kuat, tegang bisa berati lemah dan–seperti kaca–ia gampang pecah.

Sebagian orang bahkan menganggap humor sebagai bentuk pecapaian spiritual. Mereka sangat sadar bahwa sesungguhnya kehidupan ini kacau, berisi kepuasan yang tak terpuaskan, lahir kemudian mati, “Sekali berarti,” tulis Chairil Anwar, “Sesudah mati”. Semua penampakan itu lucu; semuanya tampak seperti joke.

Oleh sebab itu, agama akan kehilangan kualitasnya yang sangat mendasar jika menolak humor. Selama berabad-abad, orang-orang keraslah yang mendominasi agama. Mereka telah mengusir tawa dari gereja, mesjid, dan kuil.

Humor adalah kualiatas yang membedakan manusia dengan hewan lain. Sapi tidak bisa melihat hal konyol atau hal yang tidak masuk akal kemudian tertawa. Hanya manusia yang bisa. Namun fakta kecil yang mesti kita ketahui: orang yang tidak bisa tertawa adalah manusiawi, tapi ia belum cukup manusia.

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan