Jika Saya Seorang Moderat

0 443

BERANDAKOTA-Kini Indonesia kembali diteror oleh manusia-manusia bejat dan durjana. Sebanyak empat orang yang terdiri dari pasangan suami istri, anak, dan menantunya tewas di Dusun Tokelemo, Sulawesi Tengah, minggu lalu. 

Dari keterangan yang diperoleh polisi sejauh ini, pembunuhan itu dilakukan oleh sekelompok orang yang, di antara beberapa pelaku itu, tercantum dalam daftar pencarian orang (DPO) dari Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso pimpinan Ali Kalora. 

Seperti biasa, kejahatan ini kemudian mengundang tanggapan dari para intelektual muslim moderat bahwasanya tindakan kekerasan tersebut tidak ada hubungannya dengan agama; teroris tidak punya agama (meskipun kita tahu mereka mengaku berjihad dan muslim); mereka mengikuti nafsu, bukan agama yang damai.

Berkaitan dengan agama dan terorisme, perkenankan saya yang bukan pengamat terorisme, ahli perbandingan agama, dan studi agama ini untuk mengajukan satu tesis yang barangkali masih perlu diperdebatkan, bahwa “agama tidak memperbaiki dirinya sendiri, ia memperbaiki diri lewat pikiran orang baik”. Artinya, ketika agama pada dirinya problematis dalam tataran tafsir, ia hanya mungkin mendapat kesan etisnya di pikiran yang baik. Jika di pikiran yang buruk, maka ia akan menjadi panduan untuk melegitimasi kekerasan.

Untuk lebih menjelaskan apa yang hendak saya maksudkan di sini, barangkali perlu telaah filosofis sederhana mengenai definisi agama dan konsep yang berkaitan dengannya, yakni Tuhan.

                                   ***

Gagasan tentang agama sangat luas dan sulit mendapatkan definisi tunggal dan memadai. Anda mungkin akan memandang secara tidak langsung perbedaan antara Shamanisme dan Buddha, Taoisme dan Islam, serta Konfusianisme dan Kristen. Beberapa sistem dari keyakinan ini, khususnya dari Timur, bagi saya lebih merupakan perpaduan antara ajaran spiritualitas, etika, dan filsafat ketimbang ajaran formal lengkap dengan Tuhan dan laku kesehariannya.

Namun apa itu agama? Berbeda dengan Tuhan yang bersifat transenden dan melampaui akal manusia, agama pada dirinya bersifat manusiawi. Semuanya manusiawi dan produk budaya, demikian kata sebagian orang. Oleh karena itu, agama, seperti institusi-institusi sosial lainnya, bersifat historis dan imanen. Ia ada di sini, di dunia manusia. Tapi bukankah Tuhan juga demikian?

Partanyaan tentang agama kata filsuf Prancis, Andre Comte Sponville, bukanlah pertanyaan ontologis, apakah agama itu ada atau tidak, tapi bersifat sosiologis, apa itu agama dan bisakah kita hidup tanpanya?

Pertanyaan terkahir Sponville dimuka akan saya ganti menurut kepentingan tulisan ini menjadi ontologis-etis: Apakah agama itu ada dan bisakah kita menjadi baik dan buruk dalam beragama? 

Tentunya pertanyaan saya tersebut membahas modus ontologis yang berbeda dengan modus ontologis Tuhan yang transenden. Agama kurang lebih, dengan abstraksi yang cukup memadai, adalah imanen dan bersifat historis. Ia adalah produk dari pikiran manusia yang melawan ketidaktahuan dalam sejarah dengan ide-ide abstarak tentang “Yang di Sana”, yang melampaui, atau Being

Jika demikian watak ada-nya agama, maka kita mungkin akan bersepakat bahwa agama tak bisa dimonopoli semata dengan wajahnya yang baik. Sebab, sama seperti manusia yang bisa melakukan kekerasan dan kebaikan, maka agama sebagai produk sejarah, juga demikian. Ini sekiranya relevan seperti gagasan tentang negara yang diturunkan dari konsep manusia dalam pandangan Plato (meskipun Plato pada akhirnya meletakkan gagasan utopian yang berbahaya bagi kehidupan bernegara).

Terkait terorisme yang mengatasnamakan agama, banyak perdebatan tentangnya berkisar dalam urusan tafsir hukum agama, bahwa ayat-ayat yang mengandung kekerasan hanya benar menurut konteks kala itu. Dan konon menurut kelompok moderat, kelompok radikal dalam Islam nyaris merasa benar karena meyakini ayat-ayat itu secara tekstual sehingga tindakan kekerasan mereka terlegitimasi. 

Namun, bisakah kita menyatakan sebaliknya, bahwa jika ayat-ayat itu tidak ada, mungkinkah mereka melakukan kekerasan atas nama agama (dalam hal ini agama Islam)? Tentu tidak. Logika sederhanaya begini: mereka mungkin akan melakukan kekeran atas nama yang lain, atau tidak melakukan apapun sama sekali. 

Maka mereka yang mengaku moderat dalam beragama mesti mengakui bahwa agamanya mengandung kekerasan. Dan jangan denial bahwa mereka tidak beragama, atau mereka bukan bagian dari Islam. Kelompok moderat harus memetik buah mangga yang busuk dari pohonnya agar pohon mangga itu tidak dikatakan busuk sedari akarnya. Dan ketika ditanya apakah mangga busuk yang dipetik itu masih mangga, ya, orang waras akan menjawab itu masih mangga tapi sudah ‘busuk’. Ia tidak berubah menjadi buah nanas, misalnya.

Dengan demikian, makna tesis saya bahwa agama hanya bisa baik di pikiran orang baik dan jadi jahat di pikiran yang jahat berangkat dari ciri dan identitas dari agama itu sendiri. Namun, bukankah lebih ideal dan aman hidup tanpa agama? Iya, memang. Sejauh anda setelah itu tidak menganut ideologi kematian. Prasyaratnya hanya satu: otonomi moral–kemampuan membedakan mana yang baik dan buruk secara moral menurut akal dan pikiran. Paling utama tahu kaidah umum aturan emas atau golden rule. 

Di lain sisi, banyak juga orang percaya bahwa agama dapat mendatangkan ketentraman dan mengajarkan welas asih–panduan moral yang absah untuk kehidupan sehari-hari. Dan kita harus akui, banyak orang baik yang sekaligus taat beragama.

Sampai di sini, saya hanya ingin mengatakan bahwa jika anda percaya agama anda bisa mengajarkan kebaikan, maka jujur pula bahwa agama anda bisa dijadikan justifikasi bagi kekerasan. Sebab, anda tak bisa menyangkal bahwa orang yang melakukan kekerasan atas nama agama percaya bahwa ia menjalankan perintah agama. Mereka tidak lahir dari ruang kosong. Mungkin anda, sekali lagi akan bilang, ia mengikuti hawa nafsu dan bukan agama atau dia bukan muslim. Ya, tapi tindakannya berhubungan dengan ajaran Islam. Dengan ajaran yang anda bilang tidak kontekstual dan salah.

Jika seandainya saya seorang moderat, saya akan mengatakan bahwa saya meyakini agama wahyu tertentu karena bisa membuat saya damai dan banyak teman. Dan jika agama yang saya yakini itu dijadikan landasan untuk membunuh orang, maka saya akan mencari di bagian mana agama saya mengajarkan kekerasan itu. Jika saya menemukannya, terserah saya tetap memegang agama itu sembari mengambil dan mendakwahkan kebaikkannya atau meninggalkannya sama sekali.

(Visited 33 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan